Oleh: Dr. Amalia Irfani, M.Si*
BEBERAPA waktu terakhir jagad virtual dibanjiri berbagai konten berisi keluhan masyarakat pedalaman dari berbagai daerah. Masyarakat tersebut dengan aksinya masing-masing, mengeluhkan perhatian pemerintah akan fasilitas negara yang belum ada perubahan. Situasi tersebut menurut penulis juga dipicu oleh kemudahan akses informasi melalui media sosial, membuat banyak masyarakat membandingkan kondisi daerah lain yang mengalami peningkatan taraf hidup karena memiliki pemimpin merakyat dan responsif.
Keinginan masyarakat diatas sejatinya sangat normatif, karena kita pun menyepakati bahwa maju mundurnya suatu negara, peradaban bahkan unit terkecil kelompok sosial yakni keluarga adalah karena tonggaknya yang kuat dan kokoh. Kuat karena persatuan, dan kokoh sebab ditopangi oleh kepala atau pemimpin baik, bijak, merakyat serta mengayomi. Pemimpin harus satu kata dalam perbuatan, Pemimpin adalah individu paling berkualitas dari komunitas atau suatu kelompok sosial, karenanya ia akan ditiru, memberikan banyak tauladan menuju kebaikan.
Pemimpin diibaratkan lampu yang menerangi jalan, sinarnya akan semakin terang saat ia dapat menunaikan kewajibannya, memaksimalkan ikhtiar dengan tetap menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan masyarakat yang dipimpinnya. Kenyataannya tidak ada pemimpin yang sempurna, dan tidak mungkin ada pemimpin yang bisa menyenangkan semua rakyat atau masyarakatnya. Perspektif, agama, budaya, bahasa bahkan gender seringkali memunculkan masalah atau gesekan yang berujung konflik. Tetapi setidaknya, jika dihati pemimpin diselimuti kasih sayang, kepeduliaan dan mengutamakan toleransi, maka kedamaian akan terbina dan dijaga dengan baik oleh rakyat, tanpa diminta.
Pemimpin seperti lokomotif kereta api yang membawa beberapa gerbong dibelakangnya. Lokomotif adalah pusat tenaga dan pusat kendali yang akan menuntun bawahan atau tanggung jawabnya ke tujuan. Ali bin Abi Thalib berujar, “pemimpin yang baik adalah seorang yang sebelum jadi pemimpin, dia telah membaur dengan masyarakatnya, seakan-akan dialah pemimpinnya. Tetapi begitu dia menjadi pemimpin dia membaur dengan masyarakatnya, seakan-akan dia bukan pemimpinnya tapi salah seorang dari mereka. Itu pemimpin yang baik”. Pemimpin baik jelas akan membawa kebaikan pula bagi yang ia pimpin. Kebaikan yang akan dirasa direlung hati, membawa kebahagiaan, ketenangan, dan semangat beraktifitas dengan riang dan senang. Aktifitas yang dilakukan dengan senang adalah keikhlasan, dan ikhlash adalah bagian iman karena keyakinan kepada Maha Pencipta.
Sebab begitu berat nan istimewa, di sebuah Hadist Rasulullah menyebut golongan istimewa tersebut sebagai berikut. “Ahli surga itu tiga golongan, yaitu yang memiliki kekuasaan yang adil dan disetujui rakyatnya, pria yang lemah lembut hatinya terhadap kerabat dan Muslim, dan orang miskin yang menjaga kehormatan keluarganya. (HR. Muslim)”
Golongan pertama yang Rasulullah sebut adalah seseorang yang diberi kekuasaan dan ia mampu melaksanakannya dengan amanah, adil, dan suri tauladan. Individu cerdas ilmu dan akhlak dan hanya dimiliki oleh pribadi yang merasa selalu diawasi Allah. Pemimpin yang dirindukan adalah pemimpin istimewa, kehadirannya selalu ditunggu, perkataan dan sikapnya adalah contoh bagi masyarakat dan bawahannya. Ia akan berusaha menjadi penjaga untuk masyarakat yang diamanahi padanya, rela dan ikhlash tanpa meminta balasan, tanpa mengharap pujian, baginya jabatan adalah amanah atau titipan Allah, yang pasti akan dimintai pertanggungjawaban.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya (HR. Muslim).”
Lalu, apakah kita sebagai individu yang diamanahi Allah dengan akal sehat dan ilmu, bahkan mungkin rezeki sudah menjadi pemimpin yang baik, untuk diri dan orang lain?, sudahkah kita menjadikan kepercayaan itu sebagai ladang amal kebaikan atau malah kebalikannya menjadi tempat menumpuk dosa. Pertanyaan yang hanya bisa dijawab berdasarkan hati nurani, tanpa bisa diukur, tanpa bisa dimanipulasi sebab erat kaitannya dengan iman dan ketakwaan seseorang. Yang jelas, niat akan mengiringi hasil yang akan didapatkan.
Rasulullah mengingatkan, “Setiap orang dari kalian adalah pemimpin. Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban (HR. Muslim).”
Pemimpin yang dirindukan pada hakikatnya adalah individu yang mampu memanajemen diri untuk selalu bisa berbuat dan bersikap baik dan toleran. Ia adalah sosok yang mengaku beriman kepada Allah dengan menepati janji dan itu akan tampak pada sosok pemimpin adil dan mampu mengayomi. Sosok ayah dan suami yang bertanggung jawab menafkahi keluarga lahir batin, istri dan ibu yang bijak, baik, sabar dalam mengurus rumah tangga dan melayani suami; anak-anak yang berbakti kepada orang tua; majikan yang memperlakukan bawahannya dengan adil, atau pada profesi apapun karena dedikasi, keikhlasan karena Allah.
Bapak Sosiologi Islam Ibnu Khaldun dalam mahakaryanya Muqaddimah menjadikan topik pemimpin dan kepemimpinan sebagai sebuah hal yang fundamental. Ibnu Khaldun menilai, untuk menjadi pemimpin yang bermartabat tidaklahberat tetapi sangat sulit menjaga konsisten antara ucapan dan perbuatan (tidak bermuka dua). Secara sosial dan psikologis, komitmen pemimpin adalah roh kepercayaan rakyat sehingga memunculkan solidaritas sosial (al-asabiyah). Menjaga kepercayaan (hati) rakyat jauh lebih sulit dari pada memunculkannya.
Pemimpin yang dirindukan akan selalu di tunggu dan di nanti, bahkan didoakan untuk hadir di masyarakat. Sosok yang menurut penulis sangatlah spesial, dan sulit untuk dicari. Ia manusia pilihan, manusia terbaik yang Allah berikan banyak kelebihan dan keutamaan jika ia mampu berlaku bijak dan adil. Semoga Allah merahmati bangsa ini dengan selalu menghadirkan sosok-sosok tersebut sebagai pemimpin dan panutan bangsa.**
*Penulis adalah Kaprodi Studi Agama-Agama FUSHA IAIN Pontianak.
Editor : Hanif