Oleh: Prima Trisna Aji
Suatu sore di sebuah klinik tumbuh kembang, seorang ibu muda menunduk dengan mata berkaca-kaca. Di sampingnya, anak laki-laki berusia tujuh tahun tampak diam, sesekali menggigit kuku dan menghindari kontak mata. “Dok, anak saya sering bilang capek… tapi saya tidak tahu capek apa. Dia sekolah, les bahasa Inggris, les matematika, dan sekarang saya daftarkan coding,” ujar sang ibu dengan suara bergetar. Bukan tubuh anak itu yang lelah, melainkan jiwanya yang kehabisan ruang bernapas.
Fenomena ini bukan kasus tunggal. Ini adalah potret wajah baru parenting modern di Indonesia, yakni pola pengasuhan yang tanpa disadari menjadikan anak sebagai “proyek prestasi”. Orang tua berlomba memastikan anak unggul sejak dini, seolah masa depan hanya ditentukan oleh seberapa cepat anak bisa membaca, berhitung, atau menguasai berbagai keterampilan tambahan. Di balik niat baik tersebut, tersembunyi dilema besar: ketika ambisi orang tua bertabrakan dengan kesehatan mental anak.
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) dalam beberapa tahun terakhir menegaskan bahwa gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja meningkat secara signifikan secara global. Laporan UNICEF bahkan menyebutkan satu dari tujuh anak di dunia mengalami masalah kesehatan mental. Tekanan akademik yang tinggi, ekspektasi berlebih dari orang tua, serta minimnya ruang bermain dan eksplorasi menjadi faktor yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut.
Di Indonesia, fenomena ini semakin menguat seiring meningkatnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan. Ironisnya, kesadaran ini kerap bergeser menjadi obsesi. Anak usia dini sudah dijejali target capaian yang tidak sesuai dengan tahap perkembangannya. Mereka didorong untuk “lebih cepat” dari yang lain tanpa mempertimbangkan kesiapan psikologis. Padahal, dalam ilmu perkembangan anak, setiap fase memiliki ritme alami yang tidak bisa dipaksakan.
Tekanan yang terus-menerus dapat memunculkan berbagai dampak psikologis. Anak menjadi mudah cemas, kehilangan minat belajar, bahkan menunjukkan gejala depresi sejak usia dini. Tidak sedikit yang mengalami gangguan tidur, penurunan kepercayaan diri, hingga kelelahan emosional. Lebih jauh, anak yang tumbuh dalam tekanan berlebihan berisiko kehilangan kemampuan mengenali dirinya sendiri—apa yang ia sukai, apa yang ia butuhkan, dan siapa dirinya sebenarnya.
Paradoks terbesar dari parenting modern muncul ketika orang tua ingin memberikan yang terbaik, tetapi justru mengorbankan hal yang paling mendasar: kesehatan mental anak. Dalam banyak kasus, keberhasilan anak diukur semata dari capaian akademik dan keterampilan teknis, sementara aspek emosional dan sosial terabaikan. Anak yang meraih nilai tinggi belum tentu memiliki kesejahteraan psikologis yang baik.
Di sinilah pentingnya menggeser paradigma pengasuhan. Anak bukan mesin prestasi yang harus terus dioptimalkan tanpa henti. Ia adalah individu yang sedang tumbuh, dengan kebutuhan akan kasih sayang, penerimaan, dan ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Orang tua perlu memahami bahwa keberhasilan sejati tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik, tetapi juga oleh kemampuan anak untuk merasa bahagia, percaya diri, dan mampu mengelola emosi.
Pendekatan pengasuhan yang lebih sehat menekankan keseimbangan. Anak tetap perlu belajar dan berkembang, tetapi tidak dalam tekanan berlebihan. Aktivitas tambahan sebaiknya disesuaikan dengan minat dan kapasitas anak, bukan semata-mata ambisi orang tua. Waktu bermain, istirahat, dan interaksi sosial harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan anak.
Selain itu, komunikasi terbuka antara orang tua dan anak menjadi kunci utama. Anak perlu merasa didengar, bukan hanya diarahkan. Ketika anak mengatakan lelah, orang tua perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah ini lelah fisik atau emosional? Pertanyaan sederhana ini sering kali menjadi pintu masuk untuk memahami dunia batin anak yang selama ini terabaikan.
Peran lingkungan juga tidak kalah penting. Sekolah, tenaga pendidik, dan tenaga kesehatan perlu bersinergi untuk menciptakan ekosistem yang mendukung kesehatan mental anak. Edukasi kepada orang tua mengenai pola asuh yang sehat harus terus digencarkan agar tidak terjadi kesalahan kolektif dalam memaknai keberhasilan anak.
Pada akhirnya, kita perlu kembali pada pertanyaan mendasar: untuk siapa prestasi itu? Jika prestasi justru membuat anak kehilangan kebahagiaan dan kesehatan mentalnya, maka mungkin kita sedang berjalan ke arah yang keliru. Sudah saatnya menyadari bahwa anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, melainkan orang tua yang hadir, memahami, dan mencintai tanpa syarat.
Anak bukan mesin prestasi. Ia adalah manusia kecil yang sedang belajar menjadi dirinya sendiri. Tugas kita bukan menjadikannya yang terbaik di antara yang lain, melainkan membantu ia menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri dengan jiwa yang utuh dan sehat. (**)
*Penulis adalah Dosen Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang
Editor : Hanif