Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Haji dan Umrah yang Dirindukan

Hanif • Senin, 11 Mei 2026 | 10:13 WIB
H. Abdul Hamid
H. Abdul Hamid

Oleh: Abdul Hamid

1 ZULHIJAH 1447 H diperkirakan jatuh pada Senin, 18 Mei 2026. Bulan Zulhijah dikenal sebagai bulan haji, saat umat Islam sedunia yang memiliki kemampuan fisik, rohani, dan finansial menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Makkah. Mereka disebut sebagai duyufurrahman atau tamu Allah.

Karena panggilan-Nya pula seseorang mampu menunaikan ibadah haji. Ada orang yang secara lahiriah tampak tidak mampu, tetapi akhirnya dapat berangkat dengan “pertolongan” Allah melalui tangan orang lain. Ketika panggilan-Nya datang, terlebih panggilan kematian, tidak ada satu pun yang mampu menolak atau menghalanginya. Panggilan terakhir itu pasti dialami setiap manusia. Karena itu, yang terpenting adalah mempersiapkan bekal hidup sesuai tuntunan-Nya.

Sebagai salah satu rukun Islam, tentu setiap Muslim memiliki keinginan untuk berhaji atau berumrah. Namun, karena kemampuan fisik, rohani, dan finansial setiap orang berbeda, tidak semua umat Islam berkewajiban menunaikannya. Saya dan istri, alhamdulillah, telah menunaikan ibadah haji pada 1997 dan beberapa tahun kemudian kembali berumrah. Dalam perjalanan itu, kami juga sempat mengunjungi Palestina/Jerusalem dan Masjidil Aqsa.

Dalam Al-Qur’an, setidaknya terdapat lima surah dan 12 ayat yang menyebut tentang haji, serta satu surah dan dua ayat mengenai umrah. Salah satu firman Allah tentang ibadah haji terdapat dalam QS Al-Baqarah ayat 197:

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barang siapa menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji. Apa saja kebaikan yang kamu kerjakan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.”

Umat Islam yang pernah menunaikan ibadah haji dan umrah tentu merasakan betapa nikmatnya menjalani ibadah tersebut. Karena itu, keinginan untuk kembali selalu muncul, terlebih ketika diri masih merasa mampu secara fisik, spiritual, dan finansial.

Kerinduan untuk kembali berhaji dan berumrah muncul karena berbagai alasan.

Pertama, kenikmatan ibadah yang khusyuk dengan ketulusan niat dan tingkat ketaatan yang terasa lebih tinggi dibandingkan ketika berada di kampung halaman. Kedua, perjalanan spiritual di Tanah Suci yang membekas dalam hati karena dipenuhi haru, air mata, dan doa yang tak putus.

Ketiga, kerinduan spiritual setelah menginjakkan kaki di dua tanah suci serta mengunjungi tempat-tempat bersejarah peninggalan Rasulullah SAW, keluarga, dan para sahabat beliau. Keempat, pengalaman puncak ibadah seperti mabit di Muzdalifah, wukuf di Arafah, bermalam di Mina, dan melempar jumrah di Ula, Wustha, serta Aqabah. Kelima, momen kesetaraan dan kesederhanaan seluruh jamaah di hadapan Allah SWT.

Keenam, panggilan hati dan iman yang membuat diri merasa sangat dekat dengan Allah SWT dan Rasul-Nya ketika berada di Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah, khususnya di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan makam Rasulullah SAW.

Ketujuh, kesempatan melihat langsung Ka’bah atau Baitullah, melaksanakan tawaf, mencium Hajar Aswad, salat di Hijir Ismail, serta sa’i antara Bukit Safa dan Marwah. Kedelapan, harapan memperoleh haji mabrur yang balasannya adalah surga. Kesembilan, adanya perubahan positif setelah pulang dari Tanah Suci, baik dalam perilaku, ucapan, maupun peningkatan ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Kesepuluh, pengalaman meminum air zamzam untuk pertama kalinya di Tanah Suci. Kesebelas, kerinduan karena merasa sangat dekat dengan Allah SWT dan Rasulullah SAW ketika berada di Tanah Suci, meskipun sejatinya Allah selalu dekat dengan manusia. Sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-Baqarah ayat 186:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku...”

Keduabelas, sebagai wujud nyata doa Nabi Ibrahim AS dalam QS Ibrahim ayat 37: “...Ya Tuhan kami, agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” Ketigabelas, kesempatan bertemu umat Islam dari seluruh dunia.

Betapa terasa dekatnya kita dengan Allah SWT dan Rasul-Nya ketika berada di Tanah Suci. Perasaan itu sering kali tidak dirasakan ketika berada di kampung halaman.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesempatan kepada kita untuk kembali berkunjung ke rumah-Nya dan ke makam Rasul-Nya, serta menunaikan ibadah haji dan umrah dengan penuh kerinduan dan keikhlasan. (**)

 

*) Penulis adalah purnatugas dosen PNS/ASN Universitas Tanjungpura sejak 1 Agustus 2020, anggota Dewan Pembina Yayasan Masjid Mujahidin Kalimantan Barat, dan pengasuh Bacaan Ringan Salam Pontianak.

Editor : Hanif
#pengalaman spiritual #Kerinduan #umrah #tanah suci #haji