Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Matamuda: Pedagogi Cinta di Gerbang Madrasah

Rafael B. Junior • Kamis, 16 Juli 2026 | 10:39 WIB
Mustafa
Mustafa

Oleh: Mustafa*

Setiap awal tahun pelajaran, halaman madrasah selalu menghadirkan pemandangan yang menggetarkan hati. Seorang ibu membetulkan kerah seragam anaknya untuk terakhir kali. Seorang ayah menggenggam tangan putranya sambil berpesan, “Belajarlah dengan sungguh-sungguh, hormati guru, cintai teman-temanmu, dan jagalah salatmu.”

Beberapa saat kemudian, kendaraan meninggalkan halaman madrasah, sementara seorang anak masih berdiri memandang hingga bayangannya menghilang di tikungan jalan.

Sesungguhnya, pada saat itulah seorang murid tidak hanya memasuki lingkungan madrasah. Ia sedang melangkah menuju ruang peradaban, tempat ilmu dipelajari, akhlak dibentuk, karakter ditempa, dan masa depan mulai dirajut. Karena itu, Masa Ta'aruf Murid Madrasah (Matamuda) tidak semestinya dipahami hanya sebagai kegiatan pengenalan lingkungan atau pembacaan tata tertib. Matamuda adalah gerbang pendidikan yang membentuk kesan pertama murid terhadap madrasah. Cara mereka disambut akan memengaruhi cara mereka belajar, berinteraksi, dan mencintai ilmu.

 

Pedagogi Cinta

 

Bagi penulis, Matamuda perlu dibangun di atas pedagogi cinta, yaitu pendekatan pendidikan yang menjadikan cinta, penghormatan terhadap martabat manusia, keteladanan, dialog, dan pengasuhan sebagai dasar pembentukan karakter. Disiplin tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan madrasah, tetapi disiplin yang tumbuh dari kesadaran akan jauh lebih kuat daripada kepatuhan yang lahir karena ketakutan.

Dalam suasana yang penuh kasih sayang, murid tidak merasa diawasi, melainkan didampingi. Mereka tidak sekadar menaati aturan, tetapi memahami makna di balik setiap aturan. Pendidikan pun berubah dari proses mengendalikan menjadi proses menumbuhkan.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara (1962), menegaskan bahwa pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Kata "menuntun" menjadi sangat penting karena guru bukan penguasa yang memaksakan kehendak, melainkan pembimbing yang membantu setiap anak menemukan potensi terbaiknya.

Nilai tersebut dipertegas oleh firman Allah SWT, "Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal (li ta'arafu)…." (QS. 49: 13).

Kata "li ta'arafu" mengandung makna yang jauh lebih luas daripada hanya semata-mata saling mengenal nama. Ta'aruf adalah proses membangun hubungan yang saling memahami, saling menghargai, saling belajar, dan saling memuliakan. Nilai inilah yang menjadi ruh Matamuda. Murid baru tidak datang untuk ditaklukkan oleh budaya senioritas, tetapi untuk dibimbing menjadi bagian dari keluarga besar madrasah.

Ketika hari pertama di madrasah dipenuhi senyum guru, sapaan yang ramah, bimbingan kakak kelas, serta suasana yang aman dan menyenangkan, sesungguhnya madrasah sedang menyampaikan pelajaran pertamanya: pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Dari pengalaman awal yang positif itulah tumbuh rasa percaya, dan dari rasa percaya lahirlah kecintaan kepada ilmu.

 

Matamuda dan Madrasah Ramah Anak

Budaya kasih sayang yang ditanamkan sejak hari pertama akan menemukan bentuk nyatanya ketika madrasah menjadi ruang belajar yang aman, inklusif, dan memerdekakan. Dalam konteks ini, Matamuda merupakan momentum untuk mengimplementasikan semangat Kurikulum Berbasis Cinta yang dikembangkan Kementerian Agama. Murid tidak hanya diperkenalkan pada ruang kelas, tata tertib, atau jadwal pelajaran, tetapi juga pada nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, moderasi beragama, kepedulian sosial, kecintaan terhadap ilmu, serta penghormatan kepada sesama.

Lingkungan belajar yang demikian juga sejalan dengan konsep psychological well-being yang dikembangkan Carol D. Ryff (1989). Menurutnya, manusia berkembang secara optimal ketika mampu menerima dirinya, membangun hubungan yang positif, memiliki tujuan hidup, mandiri, mampu mengelola lingkungannya, dan terus bertumbuh sebagai pribadi. Pandangan ini diperkaya oleh Martin E. P. Seligman dalam bukunya Flourish (2011) menegaskan pentingnya emosi positif, keterlibatan, hubungan yang sehat, makna hidup, dan pencapaian sebagai unsur kehidupan yang sejahtera.

Nilai-nilai tersebut sesungguhnya telah lama hidup dalam tradisi pendidikan Islam. Budaya memberi salam, berdoa sebelum belajar, menghormati guru, saling membantu, bermusyawarah, menjaga kebersihan, dan melaksanakan salat berjamaah bukan hanya pembiasaan ibadah, tetapi juga sarana membentuk karakter dan kesejahteraan psikologis peserta didik.

Karena itu, Matamuda tahun ini merupakan ikhtiar strategis untuk menghadirkan pendidikan yang memadukan ilmu, iman, akhlak, dan kemanusiaan. Dari gerbang madrasah itulah lahir generasi yang mencintai Allah SWT meneladani Rasulullah SAW, menghormati guru dan orang tua, menyayangi sesama, menjaga lingkungan, serta mengabdikan ilmu bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan. Pendidikan yang bertumpu pada kasih sayang pada akhirnya akan melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab. Dan dari madrasah yang memanusiakan manusia, masa depan Indonesia dibangun dengan ilmu, akhlak, dan cinta.**

 

*Penulis adalah guru MAN 2 Pontianak dan Devisi Pengembangan Pendidikan dan SDM ICMI Kota Pontianak.

Editor : Rafael B. Junior
Matamuda cinta madrasah karakter pendidikan islam