Oleh: Ahmad Rahmatulloh*
DAHULU, orang tua kita selalu mengingatkan: jaga apa yang masuk ke mulut. Pilih yang bersih, yang menyehatkan, dan hindari yang beracun agar tubuh tidak jatuh sakit. Namun hari ini, di tengah riuhnya zaman, saya tergerak bertanya, “Siapa yang masih mengingatkan kita untuk menjaga apa yang masuk lewat mata dan telinga?”
Kita sungguh beruntung hidup di masa yang serba mudah. Segala hal seolah dirancang untuk memanjakan kita. Makanan tersaji tanpa harus keluar rumah. Informasi dari ujung dunia bisa didapat hanya dengan satu sentuhan. Hiburan ada dua puluh empat jam, tepat di genggaman tangan. Teknologi membuat pekerjaan fisik jauh lebih ringan dibandingkan generasi kakek-nenek kita dulu.
Namun, di balik kenyamanan yang tampak itu, ada sesuatu yang terasa ganjil. Mengapa kita justru semakin sering merasa lelah? Saya sendiri pernah merasakannya: tidak sedang mengerjakan hal berat, tapi setiap malam tiba, tubuh dan pikiran terasa begitu terkuras. Awalnya saya kira kurang tidur atau terlalu banyak tugas. Tapi setelah direnungkan, ternyata energi itu habis tersedot oleh arus informasi yang tak pernah putus. Dari bangun tidur hingga kembali beristirahat, mata dan telinga terus disuguhi berita, video, pendapat, dan peristiwa. Banyak hal yang sebenarnya tak perlu kita bawa masuk ke dalam hati.
Kelelahan yang kita rasakan kini bukan lagi lelah fisik setelah mencangkul di sawah atau berjalan jauh. Ini adalah lelah yang berbeda: lelah batin. Tandanya terlihat nyata: kita jadi mudah marah, tersinggung oleh komentar orang asing di media sosial, cemas akan hari esok yang belum tentu terjadi, susah tenang, dan makin sulit merasa cukup. Padahal jika dibandingkan masa lalu, hidup kita sekarang jauh lebih lengkap dan nyaman.
Kalau dulu penyakit sering datang dari apa yang kita makan, hari ini saya percaya ada sumber lain yang jarang disadari. Ada semacam "makanan" baru yang kita telan terus-menerus: apa yang masuk lewat mata dan telinga.
Setiap hari, kita melihat ribuan gambar di layar ponsel. Mendengar berita duka, perdebatan, ketakutan, dan kekhawatiran yang sering kali sengaja diperbesar-besar. Semua itu masuk ke dalam kesadaran, meninggalkan jejak yang kadang tak kita sadari.
Sama seperti tubuh yang berdebu seharian, batin pun ikut tertutup endapan dari apa yang kita lihat, dengar, dan pikirkan. Sekali-sekali mungkin terasa sepele. Tapi lama-kelamaan menumpuk dan menebal. Akibatnya, pikiran jadi tak jernih, hati jadi tak tenang, dan kita merasa memikul beban berat tanpa tahu dari mana asalnya.
Mungkin masalah terbesar kita sekarang bukan kurang informasi. Sebaliknya, kita justru mengalami "kegemukan informasi", tapi miskin ruang sepi untuk membersihkan diri dari segala tumpukan itu.
Kita sangat rajin merawat tubuh luar. Mandi setiap hari, menjaga pola makan, berolahraga demi kebugaran. Tapi coba tanya diri sendiri: kapan terakhir kali kita memberi waktu bagi hati untuk benar-benar istirahat? Kapan kita berhenti sejenak untuk menyaring apa yang sudah masuk ke dalam diri?
Bisa jadi, lelah yang kita rasakan bukan karena pekerjaan yang terlalu berat. Melainkan karena tumpukan sampah pikiran dan perasaan yang tak pernah kita buang.
Kita tak perlu tahu segala hal yang terjadi di muka bumi. Tak semua berita harus diikuti. Tak semua pertengkaran perlu dimasuki. Tak semua suara perlu didengar. Karena ketenangan hati jarang lahir dari banyaknya pengetahuan, melainkan dari kebijaksanaan memilih apa yang layak kita izinkan masuk ke dalam diri.
Pada akhirnya, sama seperti kita menahan diri dari makanan yang tak sehat, mungkin sudah saatnya kita belajar menutup mata dan telinga dari keributan yang tak perlu. Sebelum mencari pelarian ke mana-mana, kita cukup kembali menyempatkan ruang hening, duduk tenang, dan mulai mengenali diri sendiri kembali.**
*Penulis adalah penulis independen yang aktif menulis tentang refleksi kehidupan, kesehatan mental, kesadaran diri, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Editor : Rafael B. Junior