Piala Dunia dan Ketahanan Pangan

Rafael B. Junior • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 09:56 WIB
Dr. Ir. H. Feira Budiarsyah Arief, M.Si., IPM., ASEAN Eng.
Dr. Ir. H. Feira Budiarsyah Arief, M.Si., IPM., ASEAN Eng.

Oleh: Feira Budiarsyah Arief*

DEMAM Piala Dunia kembali menyelimuti dunia. Memasuki babak gugur, jutaan pasang mata terpaku menyaksikan tim-tim terbaik dunia berjuang memperebutkan satu tujuan: menjadi juara dunia. Perhatian publik biasanya tertuju pada taktik pelatih, kualitas pemain, strategi permainan, hingga statistik penguasaan bola. Namun, ada satu hal yang jarang menjadi pembahasan, padahal justru menjadi fondasi dari seluruh kemampuan tersebut, yakni pangan.

Sepak bola modern bukan hanya soal teknik mengolah bola. Olahraga ini merupakan perpaduan antara kemampuan fisik, daya tahan, kecepatan berpikir, konsentrasi, dan pemulihan tubuh. Semua itu membutuhkan energi. Energi berasal dari pangan yang cukup, bergizi, aman, dan sesuai dengan kebutuhan atlet.

Tidak ada pemain yang mampu berlari selama sembilan puluh menit hanya bermodalkan semangat. Tubuh manusia memiliki batas biologis. Ketika cadangan energi menurun, kecepatan berlari melambat, konsentrasi berkurang, pengambilan keputusan menjadi lebih lambat, bahkan risiko cedera meningkat. Di sinilah pangan berperan sebagai "bahan bakar" utama prestasi.

Menariknya, dalam turnamen besar seperti Piala Dunia, urusan pangan mendapat perhatian yang sangat serius. Banyak negara peserta membawa koki sendiri, bahkan mengirimkan bahan pangan dari negara asal. Tujuannya bukan karena tidak percaya terhadap kualitas pangan negara tuan rumah, melainkan untuk menjaga konsistensi pola makan yang selama ini telah menjadi bagian dari program latihan atlet. Tubuh atlet elite tidak boleh dipaksa beradaptasi dengan menu yang sama sekali baru ketika mereka sedang menghadapi pertandingan paling penting dalam kariernya.

Di sinilah kita mulai memahami mengapa menjadi tuan rumah sering kali memberikan keuntungan tersendiri. Selain dukungan suporter, faktor cuaca, kondisi lapangan, dan minimnya perjalanan jauh, para pemain juga tidak perlu beradaptasi dengan lingkungan maupun pola konsumsi pangan yang telah menjadi kebiasaan sehari-hari. Makanan yang akrab di lidah bukan sekadar persoalan rasa, tetapi juga berkaitan dengan kenyamanan psikologis, kecukupan asupan gizi, dan kesiapan tubuh menghadapi pertandingan.

Memang, tidak semua negara tuan rumah selalu menjadi juara. Namun, hampir semuanya memperoleh keuntungan berupa kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang lebih baik dibandingkan negara tamu. Dalam olahraga modern, kemenangan sering kali ditentukan oleh hal-hal kecil. Selisih satu persen kondisi fisik saja dapat menentukan siapa yang melaju ke babak berikutnya.

Pelajaran besar dari Piala Dunia sesungguhnya tidak berhenti di lapangan hijau. Ajang ini juga mengajarkan bahwa keberhasilan selalu diawali oleh kemampuan memenuhi kebutuhan dasar manusia. Jika pemain sepak bola kelas dunia membutuhkan jaminan pangan agar mampu tampil maksimal, sebuah bangsa tentu membutuhkan ketahanan pangan agar mampu membangun sumber daya manusianya.

Ketahanan pangan bukan semata-mata persoalan ketersediaan beras di gudang atau stok pangan yang mencukupi di pasar. Ketahanan pangan berarti memastikan setiap warga negara memperoleh pangan yang cukup, bergizi, aman, mudah diakses, dan berkelanjutan. Anak-anak yang memperoleh gizi baik akan tumbuh menjadi generasi yang sehat. Mahasiswa dapat belajar lebih optimal. Pekerja memiliki produktivitas yang tinggi. Petani memperoleh penghidupan yang layak. Pada akhirnya, seluruh sendi pembangunan nasional memiliki energi untuk terus bergerak.

Ironisnya, kita sering kali lebih bersemangat membicarakan siapa yang akan menjadi juara Piala Dunia daripada siapa yang menjaga sawah tetap produktif. Padahal, tanpa petani tidak akan ada pangan. Tanpa pangan, tidak ada energi. Tanpa energi, tidak akan lahir atlet, ilmuwan, guru, dokter, maupun pemimpin bangsa.

Karena itu, ketika kita menikmati setiap pertandingan Piala Dunia, sesungguhnya kita juga sedang menyaksikan hasil dari sebuah sistem pangan yang bekerja dengan sangat baik. Para pemain terbaik dunia dapat tampil luar biasa karena kebutuhan gizinya dipenuhi secara terencana, mulai dari proses produksi pangan, distribusi, hingga konsumsi.

Indonesia tentu memiliki pelajaran yang dapat dipetik. Jika negara-negara peserta Piala Dunia menempatkan pangan sebagai bagian dari strategi meraih kemenangan, Indonesia semestinya menjadikan ketahanan pangan sebagai strategi memenangkan masa depan bangsa. Program swasembada pangan, perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan, peningkatan kesejahteraan petani, inovasi teknologi pertanian, hingga penguatan cadangan pangan nasional bukan sekadar agenda sektor pertanian, melainkan investasi bagi daya saing bangsa.

Pada akhirnya, Piala Dunia mengajarkan satu hal sederhana. Sebelum berbicara tentang kemenangan, pastikan kebutuhan yang paling mendasar telah terpenuhi. Sebab, di balik setiap gol yang tercipta, setiap sprint yang dilakukan pemain, dan setiap trofi yang diangkat sang juara, selalu ada energi yang berasal dari pangan.

Mungkin benar bahwa pertandingan dimenangkan di atas rumput hijau. Namun, fondasi kemenangan sesungguhnya telah dibangun jauh sebelumnya, yakni di ladang-ladang pertanian yang menghasilkan pangan bagi kehidupan.**

 

*Penulis adalah dosen Faperta Untan.

Editor : Rafael B. Junior
Pangan Bergizi Pertandingan stamina pemulihan Piala Dunia