Menjaga Paru Anak di Tengah Kabut Asap: Ketika Langit Pontianak Berubah Abu-Abu

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 00:21 WIB
dr. Rista Lestari, Sp.A., M.Sc
dr. Rista Lestari, Sp.A., M.Sc

 

Oleh: dr. Rista Lestari, Sp.A., M.Sc

Penulis adalah pengurus IDI Kota Pontianak dan pengurus IDAI Cabang Wilayah Kalimantan Barat.

 

ADA sesuatu yang berubah ketika langit Pontianak mulai berwarna kelabu dan udara dipenuhi jerebu.

Anak-anak yang biasanya berlari di halaman, bermain bersama teman, bersepeda, atau menikmati udara sore, tiba-tiba harus lebih banyak berada di dalam rumah. Sekolah membatasi kegiatan luar ruangan. Orang tua mulai bertanya-tanya, apakah udara hari ini masih aman bagi anak-anak?

Pertanyaan itu penting karena bahaya kabut asap tidak selalu terlihat.

Yang Tidak Terlihat Justru Perlu Diwaspadai

Asap kebakaran hutan dan lahan merupakan campuran berbagai partikel dan gas. Salah satu yang paling mendapat perhatian dalam kaitannya dengan kesehatan adalah PM2.5, partikel sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai bagian dalam paru.

Ketika terhirup, partikulat halus ini dapat memicu peradangan. Paparan polusi udara juga berkaitan dengan berbagai gangguan pernapasan, termasuk memburuknya gejala asma dan gangguan fungsi paru.

Karena itu, satu hal perlu diingat: langit yang terlihat cukup cerah belum tentu berarti udara yang kita hirup sudah aman.

Mengapa Anak Lebih Perlu Dilindungi?

Paru anak bukan sekadar paru orang dewasa dalam ukuran yang lebih kecil. Sistem pernapasan mereka masih berkembang. Anak juga cenderung lebih aktif bergerak dan memiliki kebutuhan ventilasi yang relatif lebih besar dibandingkan ukuran tubuhnya.

Ketika berlari, bermain, atau berolahraga, jumlah udara yang masuk ke paru meningkat. Jika udara tersebut mengandung polutan, paparan yang diterima tubuh anak pun bertambah.

Dampaknya tidak selalu langsung terlihat.

Sebagian anak mungkin hanya mengalami mata berair, hidung dan tenggorokan tidak nyaman, batuk, atau peningkatan produksi lendir. Namun, pada anak yang lebih rentan, terutama mereka yang memiliki asma atau penyakit paru kronis, kualitas udara yang buruk dapat memperberat gejala yang sebelumnya terkendali.

Karena itu, perlindungan terhadap anak tidak seharusnya baru dimulai ketika mereka sudah sesak.

Jangan Menunggu Anak Batuk

Kita sering lebih mudah bereaksi terhadap sesuatu yang sudah menimbulkan gejala. Anak batuk, kita khawatir. Anak sesak, kita membawanya ke dokter.

Padahal, dalam menghadapi polusi udara, langkah yang paling masuk akal justru dimulai lebih awal: mengurangi paparan sebelum keluhan muncul.

Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengenai perlindungan anak dari paparan asap juga menekankan pentingnya mengurangi pajanan, membatasi aktivitas di luar rumah, mencegah asap masuk ke dalam ruangan, menghindari sumber polusi di dalam rumah, serta memberikan perhatian lebih kepada anak dengan penyakit pernapasan atau penyakit kronis.

Dengan kata lain, mengurangi aktivitas anak ketika kualitas udara memburuk bukan tindakan berlebihan. Itu adalah bentuk pencegahan.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?

Ketika kualitas udara memburuk, beberapa langkah sederhana dapat dilakukan untuk mengurangi paparan polutan pada anak.

Pertama, kurangi aktivitas di luar rumah.

Bermain, berolahraga, atau kegiatan lain di luar ruangan sebaiknya ditunda atau dialihkan ke dalam ruangan ketika kualitas udara sedang buruk, terutama saat konsentrasi partikulat meningkat.

Kedua, perhatikan kualitas udara, bukan hanya warna langit.

Informasi mengenai kualitas udara dan PM2.5 dapat menjadi pertimbangan untuk menentukan apakah anak aman beraktivitas di luar. Informasi dari instansi resmi, termasuk BMKG Kalimantan Barat, dapat menjadi rujukan.

Ketiga, jadikan rumah sebagai tempat perlindungan.

Ketika udara luar tercemar, pintu dan jendela dapat ditutup untuk mengurangi masuknya asap. Jika tersedia, penyaring udara dengan kemampuan filtrasi partikulat dapat digunakan untuk membantu memperbaiki kualitas udara dalam ruangan.

Keempat, jangan menciptakan polusi tambahan di dalam rumah.

Rokok, pembakaran sampah, dupa, obat nyamuk bakar, dan sumber pembakaran lainnya dapat memperburuk kualitas udara yang dihirup anak.

Kelima, berikan perhatian khusus kepada anak dengan penyakit kronis.

Anak dengan asma atau penyakit saluran pernapasan lainnya perlu tetap mengikuti terapi yang telah diresepkan dan memiliki akses terhadap obat yang diperlukan.

Keenam, gunakan masker dengan tepat jika anak harus keluar.

Masker dapat menjadi salah satu lapisan perlindungan ketika paparan tidak dapat dihindari. Namun, masker bukan berarti anak tetap aman untuk beraktivitas seperti biasa ketika kualitas udara sedang buruk.

Efektivitas perlindungan dipengaruhi jenis masker, ukuran yang sesuai, serta kemampuan anak menggunakannya dengan benar.

Karena itu, perlindungan utama tetap dimulai dengan mengurangi paparan: membatasi aktivitas luar ruangan, memilih waktu dan tempat dengan kualitas udara lebih baik, serta menggunakan perlindungan tambahan jika keluar rumah tidak dapat dihindari.

Kapan Orang Tua Harus Waspada?

Tidak semua batuk selama musim kabut asap berarti keadaan gawat. Namun, orang tua perlu memperhatikan perubahan pola pernapasan anak.

Segera lakukan pemeriksaan medis apabila anak mengalami:

Pada kondisi tersebut, jangan menunggu keluhan menjadi berat. Penilaian dini oleh tenaga kesehatan dapat membantu menentukan apakah anak cukup dipantau di rumah atau memerlukan penanganan lebih lanjut.

Kabut Asap, Pontianak, dan Kita Semua

Kabut asap bukan fenomena baru bagi masyarakat Kalimantan Barat. Kita sudah berkali-kali melewati musim ketika langit berubah warna, udara berbau asap, napas terasa sesak oleh jerebu, aktivitas sekolah terganggu, dan keluarga kembali diingatkan untuk membatasi kegiatan di luar rumah.

Pada 2026, perlindungan terhadap anak bahkan kembali menjadi bagian dari respons pemerintah kota terhadap memburuknya kualitas udara.

Namun, mungkin sudah waktunya kita mengubah cara pandang.

Kabut asap bukan hanya persoalan lingkungan. Bukan hanya persoalan kebakaran lahan. Bukan pula sekadar persoalan apakah sekolah perlu meliburkan kegiatan belajar.

Kabut asap adalah persoalan kesehatan anak.

Setiap kali seorang anak menghirup udara tercemar, paparan polutan sedang berlangsung.

Setiap keputusan yang kita buat ketika kualitas udara memburuk—apakah anak boleh bermain di luar, apakah olahraga perlu dipindahkan ke dalam ruangan, apakah jendela perlu ditutup, atau apakah anak dengan asma membutuhkan perlindungan tambahan—pada akhirnya adalah keputusan tentang seberapa besar paparan yang diterima paru mereka.

Kita memang tidak dapat meminta anak berhenti bernapas. Tetapi kita dapat memilih untuk tidak membiarkan mereka menghirup udara tercemar tanpa perlindungan yang semestinya.

Jangan Menunggu Paru Anak “Berbicara”

Anak mungkin tidak selalu mampu mengatakan bahwa udara yang dihirupnya terasa tidak nyaman.

Bayi tidak dapat mengeluh. Balita mungkin hanya menjadi lebih rewel. Anak yang lebih besar mungkin hanya mengatakan, “Aku capek,” tanpa menyadari bahwa napasnya mulai bekerja lebih keras.

Karena itu, dalam situasi kabut asap, orang dewasa tidak cukup hanya melihat apakah anak batuk. Kita perlu memperhatikan cara anak bernapas, tingkat aktivitasnya, kemampuan makan dan minumnya, serta perubahan perilaku yang tidak biasa.

Para pemegang kebijakan juga perlu memastikan langkah perlindungan terhadap anak benar-benar berjalan ketika kualitas udara memburuk.

Kabut mungkin akan hilang ketika hujan datang. Tetapi perhatian kita terhadap kesehatan paru anak tidak boleh ikut menghilang bersama kabut.

Menjaga kualitas udara hari ini bukan hanya untuk mencegah anak batuk malam ini. Kita sedang menjaga paru-paru yang akan mereka gunakan sepanjang hidupnya. **

 

Referensi Utama

  1. IDAI. Rekomendasi No. 011/Rek/PP IDAI/X/2015 tentang Kesehatan Anak Akibat Bencana Kabut Asap.
  2. World Health Organization (WHO). Air Pollution and Child Health: Prescribing Clean Air. 2018.
  3. World Health Organization (WHO). Ambient (Outdoor) Air Pollution and Health. Updated 2024.
  4. World Health Organization (WHO). Health Effects of Air Pollution: Evidence and Implications. 2026.
  5. BMKG Provinsi Kalimantan Barat. Informasi dan pemantauan kualitas udara serta PM2.5.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro
kabut asap Pontianak PM2.5 paru anak perlindungan anak kesehatan anak