PONTIANAK POST - Pebalap VR46, Fabio Di Giannantonio, menilai Marc Marquez mengalami awal musim yang kurang beruntung bersama Ducati pada MotoGP 2026.
Meski kini berstatus sebagai pembalap Ducati terbaik di klasemen sementara, Di Giannantonio menolak menyebut dirinya yang paling unggul.
Dari empat seri awal musim, Di Giannantonio sudah mengoleksi dua pole position dan dua podium.
Total 71 poin menempatkannya di posisi ketiga klasemen pembalap dan menjadi rider Ducati dengan raihan angka terbanyak sejauh ini.
Namun, ia masih terpaut 30 poin dari pimpinan klasemen, Marco Bezzecchi.
Berbicara kepada Motosprint usai GP Spanyol di Jerez, Di Giannantonio justru merendah.
“Saya, pembalap Ducati terbaik? Saya tidak setuju. Marc Marquez sangat cepat seperti saya, tapi kurang beruntung di sana-sini,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kebangkitan Alex Marquez yang baru saja mempersembahkan kemenangan perdana Ducati musim ini di Jerez.
“Alex sedang kembali. Saya memang melakukan pekerjaan dengan baik, tetapi saya tidak suka gelar pembalap Ducati terbaik. Saya Fabio bersama tim VR46, bersama-sama kami melakukan pekerjaan hebat. Kami di posisi ketiga, tapi balapan masih panjang,” tegasnya.
Sebelumnya, Di Giannantonio sempat mengkritik arah pengembangan motor pabrikan Ducati yang dinilai terlalu mengarah ke Marquez.
Namun kini ia melihat rivalnya itu sebagai sosok yang tetap berbahaya meski hasilnya belum maksimal.
Selain menilai peta persaingan internal Ducati, Di Giannantonio juga mengungkap area yang perlu ia benahi pada GP26. Fokus utamanya adalah peningkatan rasa pada bagian depan motor.
“Bagian depan adalah aspek paling penting bagi pembalap. Itu dasar untuk pengereman dan masuk tikungan, serta menentukan jalur saat keluar tikungan. Kami sudah meningkat tahun ini, ada langkah maju, tetapi masih kurang dibanding rival,” jelasnya.
Baca Juga: Walau Masuk 3 Besar, Bezzecchi Ungkap Masalah Masa Lalu Kembali Ganggu Aprilia di MotoGP Spanyol
Ia mengakui sempat mendekati Bezzecchi saat rivalnya membuat beberapa kesalahan, namun harus mengambil risiko besar.
“Saya meminta terlalu banyak dari bagian depan dan mengambil banyak risiko. Saya perlu meningkatkan efektivitas bagian depan agar bisa mengerem lebih keras saat masuk tikungan dan lebih merasakan motor,” katanya.
Tak hanya itu, start juga menjadi titik lemah yang ingin segera dibenahi.
“Titik lemah saya adalah start. Kami sedang berbicara dengan Ducati, mencari solusi untuk saya,” pungkasnya.(*)
Editor : Budi Miank