Melati Burlian merupakan merek fesyen dari Kalimantan Barat yang mengusung tema kebudayaan dalam setiap desainnya. Mulai dari motif corak insang, mayang murai, flora khas Kalbar, dan lain sebagainya. Lewat motif etnik tersebut, merek busana muslimah ini ingin mengenalkan keunikan budaya Kalbar.
Oleh : Siti Sulbiyah
Salah satu produk scarf yang diluncurkan oleh Melati Burlian bermotif keindahan hutan Kalimantan. Scarf dengan motif dominan berupa daun-daun berwarna hijau tua tersebut menggambarkan betapa lebatnya hutan di pulau borneo tersebut. Ada juga dedaunan yang berwarna kuning emas yang mengartikan hutan Kalimantan merupakan anugerah yang luar biasa.
“Emas itu menggambarkan kemuliaan yang berarti berharga. Nah, warna kuning emas ini menggambarkan bahwa anugerah tersebut merupakan sesuatu yang berharga,” ungkap Melati Fajarwati, Owner Melati Burlian.
Motif ini terselip pesan untuk menjaga dan melestarikan hutan Kalimantan yang merupakan sumber daya yang paling berharga. Lewat motif ini pula, Melati ingin mengenalkan kepada orang-orang bahwa Kalimantan masih memiliki hutan lebat yang merupakan paru-paru dunia.
Scarf bermotif keindahan hutan Kalimantan dari Melati Burlian ini diakuinya merupakan produk yang paling laku terjual. Dalam waktu dekat, ia akan mengeluarkan model scarf dengan motif sama namun berbeda warna.
“Ini yang paling best seller. Nah, karena best seller itulah saya ingin memunculkan beberapa warna,” ucapnya.
Melati Burlian merupakan merk fasyen muslimah yang dirilis oleh Melati Fajarwati pada tahun 2019. Scarf dan hijab kekinian merupakan produk unggulannya. Produk scarf Melati Burlian mengangkat khasanah daerah dengan menghadirkan motif lokal seperti corak insang, mayang murai, bunga ketapang, aneka flora khas Kalbar, serta beragam motif etnik dayak.
“Produk kami kebanyakan untuk pencinta scarf etnik dan barang muslim yang premium,” katanya.
Melati menyebut pemilihan motif etnik lokal didapat melalui sumber atau literatur yang terpercaya sehingga sesuai dengan budaya yang ada. Lewat motif ini, melati ingin mengenalkan budaya khususnya dari Kalbar.
Wanita kelahiran 1988 ini mengatakan, setiap motif didesain dengan moodboard terlebih dahulu. Moodboard adalah kumpulan dari visual, gambar, atau objek lainnya yang umumnya dibuat untuk tujuan desain. Sehingga dalam ada alur dalam setiap motif yang didesain.
“Jadi bukan asal desain. Karena setiap desain ada ceritanya,” imbuhnya.
Kini, merk fasyen muslimah Melati Burlian telah mengikuti beberapa peragaan busana di tingkat lokal maupun nasional. Merk ini juga telah dipamerkan ke berbagai pagelaran nasional maupun internasional.
Baru-baru ini, Melati Burlian membuka gerai di Gaia Bumi Raya City Mall. Selain scarf desain etnik, tersedia pula pakain muslimah, hijab, dan aksesoris wanita lainnya. Terbaru ada bingkai dekorasi yang berisi kata-kata bijak dan motivasi.
Sejauh ini, Melati mengatakan akan terus menjadikan motif-motif khas Kalbar sebagai identitas dari merk Melati Burlian. Dirinya ingin Melati Burlian dikenal sebagai merek fesyen dari Kalbar.
Saat ini, pihaknya sedang berusaha mengembangkan bisnis dengan menjaring reseller-reseller nasional. “Bulan ini sudah ad a dua kota yang akan bergabung menjadi reseller.” ujarnya.
Selain desain yang unik, kualitas bahan juga perlu menjadi prioritas. Karenanya, bahan scarf yang dipilih merupakan voal grade A. Keunggulan dari bahan ini adalah sirkulasi udaranya bagus, tidak mudah jatuh, kokoh, lembut, tidak transparan, tapi rongga-rongganya cukup. Dengan material yang berkualitas ini, dapat mencegah berbagai masalah kepala, seperti ketombe, kulit kepala berminyak, dan rambut rontok.
“Jadi jangan lihat motif saja tapi materialnya juga dilihat,” tuturnya.
Investasi Leher ke Atas
Melati Fajarwati merupakan alumni Wirausaha Muda Mandiri, program nasional untuk mencetak wirausaha muda. Dari program ini, ia mendapatkan banyak pelatihan wirausaha yang dilakukan secara berkala.
“Lewat pelatihan ini pola pikir kita sebagai pengusaha jauh lebih berkembang,” tutur Lulusan Akuntansi Untan ini.
Tak hanya bekal pelatihan dari program WMM saja, Melati juga mencoba banyak kursus untuk meningkatkan kemampuannya dalam berbisnis, termasuk dalam mendukung usahanya di bidang fesyen. Bungsu dari enam bersaudara ini mengikuti kursus jahit hingga desain busana.
“Saya belajar desain dari beberapa coach di Jakarta. Saya juga belajar dari produk lokal yang sudah go internasional,” imbuhnya.
Menurutnya, bila ingin berkembang maka harus mau berkorban secara finansial. Baginya, yang paling mahal dalam mengembangkan bisnis itu adalah investasi leher ke atas. Artinya jangan pelit untuk mendapatkan ilmu baru untuk menyokong perkembangan bisnis.
Melati adalah sosok yang ambisius ketika sudah memutuskan akan melangkah. Ketika memutuskan untuk membangun usaha fesyen, ia begitu gigih. “Awal-awal desain saya bawa buku kemana saja, termasuk ke WC pun bawa. Itu karena kita tidak tahu dari mana dan kapan ide itu datang,” katanya.
Sebagai seorang desainer, Melati wajib mengikuti tren perkembangan fesyen terbaru. Terutama, tren kekinian busana muslimah. Menurutnya, saat ini model jilbab yang sedang jadi tren adalah eyelash . Eyelash merupakan model desain yang bagian tepi hijab yang memiliki bentuk jahitan seperti bulu mata. Model inilah yang tengah dikembangkan.
“Tepiannya seperti bulu mata, melengkung ke atas. Tidak norak dan tetap elegan. Biasanya brand besar menggunakan itu,” pungkasnya. (sti)
Editor : Siti Sulbiyah