Usaha rumahan menjadi pilihan bagi Yuli Astuti. Selain hemat modal, waktu, dan tenaga, ia juga bisa berbagi fokus mengurus keluarga. Walaupun ia mengaku tetap keteteran melayani banyaknya pesanan yang datang setiap hari.
ARISTONO, Pontianak
YULI Astuti asyik menggoreng adonan empek-empek yang telah direbus sebelumnya. Ia dibantu dua karyawan yang sibuk membuat adonan dari tepung kanji dan ikan tenggiri di dapur berukuran 3x3 meter tersebut.
Dari luar, rumah di Komplek Asabri Permai, Jl Sungai Raya Dalam, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya itu tampak seperti tanpa aktivitas.
"Lebih enak usaha rumahan seperti ini. Tidak ada beban untuk sewa ruko. Apalagi anak saya masih sekolah semua. Jadi bisa sambil mengawasi dari rumah," ujar perempuan dua anak ini.
Empek-empek ini ia jual langsung ke konsumen maupun lewat reseller.
Setiap siang sehabis produksi, para pengecer mitra Yuli datang mengambil pesanan mereka. Sedangkan konsumen yang pesan langsung ke Yuli, orderannya akan diantarkan langsung oleh sang owner.
"Saya antar sendiri ke rumah konsumen. Saya kasih gratis ongkir (ongkos kirim) kalau pesan 10 pieces ke atas," ucapnya. Selain itu, setiap Hari Minggu pagi, ia juga membuka lapak di kawasan Car Free Day, sekitaran GOR Pangsuma.
Sejauh ini, ia mengenalkan produknya dari mulut ke mulut dan grup WhatsApp. Kendati tanpa plang nama dan promosi di media sosial, empek-empek buatan Yuli cukup terkenal di Pontianak. "Bahkan sering orang dari Sintang, Sanggau, dan daerah lainnya pesan empek-empek saya," bangga Yuli.
Saban hari ia mampu menjual 600 buah empek-empek. Satu pieces dijualnya seharga Rp6.000. Belum lagi bila ada order untuk katering acara pernikahan dan resepsi lainnya.
"Pernah kepikiran untuk bikin lapak di aplikasi ojek online dan Instagram. Tapi diingatkan suami. Katanya, sekarang saja kamu sudah keteteran, apalagi kalau punya toko online," sebut perempuan 40 tahun ini.
Niat membuka toko online kian pupus setelah pada lebaran lalu, ia tak sempat memasak untuk makan besar keluarga. Alhasil Yuli disindir suami dan anak-anaknya.
"Padahal saya sudah belanja ayam dan daging (sapi) di pasar. Rencananya mau buat opor dan lain-lain. Tapi sehari sebelum lebaran itu orderan empek-empek banyak sekali. Karena sudah terlanjur janji ke konsumen, dapur rumah sendiri jadi terbengkalai. Lebaran tahun depan saya tak mau begini lagi," tuturnya.
Dulu Sehari dalam Seminggu
Sebuah mobil tua nangkring di halaman rumah Yuli. Mobil ini ia beli tahun lalu untuk menunjang jualannya setiap Minggu Pagi pada momen Car Free Day (CFD) di kawasan GOR Pangsuma.
"Saya ambil KUR dari Bank BRI Rp100 juta dan disetujui. Walaupun usaha rumahan, ternyata bank melihat saya layak mendapatkan KUR. Prosesnya juga cepat," kata Yuli.
Selain itu, ia juga mendapatkan bantuan pelatihan dan akses transaksi QRIS (Quick Response Code Indonesian) dari bank pelat merah tersebut.
"Sebagian konsumen di GOR itu bayarnya memang pakai QRIS karena mudah dan cepat. Kita tidak perlu repot-repot cari kembalian juga," sebutnya.
Usaha empek-empek ini sendiri dimulainya dari tahun 2016. Kebetulan suaminya adalah perantauan dari Palembang. Ia mendapat ilmu membuat empek-empek dari saudari iparnya. Kemampuan membuat empek-empek ia praktikkan di komunitasnya.
"Kalau ada arisan di rumah, selalu saya hidangkan empek-empek. Begitu juga acara keluarga. Lalu ada teman yang nyelutuk kenapa tidak jualan saja, dia bilang empek-empek saya enak," tutur.
Baca Juga: BRI Salurkan KUR Rp564 Miliar di Pontianak Tahun Lalu
Ia pun mencoba berjualan di kawasan GOR Pangsuma, saat event CFD yang berlangsung setiap Ahad pagi. Namun pada awalnya sempat terjadi drama rumah tangga.
Ia mendapat pertentangan dari suami. Bahkan ia tak dipinjami modal dari pasangannya yang bekerja sebagai ASN di Kantor DPRD Kabupaten Kubu Raya.
"Suami bilang, buat apa jualan. Gaji saya kan cukup untuk keluarga kita. Tapi saya tetap ngotot. Uang arisan yang saya dapat, saya jadikan modal awal," imbuhnya.
Yuli ingat betul. Hari pertama berjualan ia pesimis, dan hanya membuat 100 pieces empek-empek saja. Tak sampai dua jam, jualannya ludes. Ia pulang dengan rasa bangga, dan menceritakan kegiatannya hari itu ke suami.
"Suami saya langsung muji-muji. Dari awalnya menentang, sekarang malah support. Bahkan dia juga bantu kalau sedang tidak dinas," ungkap wanita kelahiran Pontianak ini.
Sejak hari itu, setiap Minggu, ia membuka lapak di CFD, dan jualannya selalu laris manis. Banyak konsumen yang kemudian meminta nomor WA-nya untuk memesan empek-empek.
Yuli kemudian memutuskan untuk berjualan setiap hari dengan sistem delivery order dan reseller. Namun lapaknya setiap akhir pekan di GOR Pangsuma tak ia tinggalkan.
Menurutnya, kunci sukses usaha yang ia jalankan adalah menjaga kualitas rasa dan kepercayaan pelanggan.
"Saya tidak pernah mengurangi takaran ikan. Begitu juga saos saya jaga betul. Satu lagi yang penting, kita harus ramah dan murah senyum ke konsumen," ucapnya.
Ke depan, ia bercita-cita untuk punya rumah makan empek-empek sendiri. Namun niat itu ia tunda dulu, lantaran harus berbagi fokus mengurus rumah tangga. Sembari mengumpulkan modal untuk membeli ruko.
"Mungkin bisa terwujud lima tahun lagi, pas suami saya pensiun dan anak-anak sudah pada besar. Suami saya juga bisa fokus di usaha ini. Mudah-mudahan bisa terwujud Ya Allah," pungkasnya. (*)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro