Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Donat Embul Pontianak, Dari Keisengan hingga Punya Delapan Outlet

Aristono Edi Kiswantoro • Senin, 23 Oktober 2023 | 19:06 WIB

 

LAYANI PEMBELI: Owner Donat Embul Fety Mardiani saat melayani pembeli di , Jl Pancasila, Kecamatan Pontianak Kota, satu dari delapan outletnya.
LAYANI PEMBELI: Owner Donat Embul Fety Mardiani saat melayani pembeli di , Jl Pancasila, Kecamatan Pontianak Kota, satu dari delapan outletnya.
 

 

Fety Mardiani (29) tak menyangka usaha yang dimulainya sejak tujuh tahun lalu bisa berkembang sejauh ini. Mengandalkan pemasaran digital, kini produk Donat Embul miliknya punya delapan gerai yang tersebar di empat kota. 

  

PAGI-pagi sekali enam karyawan  Donat Embul sudah sibuk memproduksi donat-donat yang akan dikirim ke sejumlah toko dan kios di Pontianak. Dua orang mengadon, sedangkan yang lain kebagian tugas menggoreng.

Sementara Mudarna (52 tahun), ibundanya Fety Mardiani sang owner merek ini, tengah mengawasi kerja mereka. Sudah dua tahun rumah di Gang Nusa Karya, Jl Tanjung Raya, Kecamatan Pontianak Timur tersebut disulap menjadi pabrik donat.

"Sebelumnya kita produksi di dapur rumah saja. Karena permintaan makin tinggi, akhirnya anak saya mengontrak rumah ini untuk dijadikan pabrik. Sehari kami bisa bikin donat 4.000 - 6.000  pieces untuk semua outlet di Pontianak," cerita Mudarna saat disambangi Pontianak Post.

Sebagai informasi, satu lusin Donat Embul dijual seharga Rp33.000.

Sementara nun di outlet Donat Embul Cabang Jalan Pancasila, Kecamatan Pontianak Kota, Fety  Mardiani bersiap menyambut pelanggan pertama hari itu.

Sembari itu, ia dibantu karyawannya memasukkan donat-donat yang baru saja tiba dari pabrik ke dalam etalase kaca. "Setiap hari saya giliran ke cabang-cabang yang ada. Hari ini di sini (Jl Pancasila)," sebutnya.

Hingga Juni 2023, Donat Embul sudah memiliki delapan outlet. Lima diantaranya tersebar di Kota Pontianak.

Sedangkan tiga lainnya di Singkawang, Sambas, dan Sintang. Tiga cabang di luar kota tersebut memiliki pabrik masing-masing. Total Fety mempekerjakan 30-an orang.

Ia tak menyangka bisnis yang dimulainya lima tahun lalu ini bisa berkembang jauh.

"Padahal dulu pertama kali bikin hanya iseng saja. Karena himpitan ekonomi, saya coba untuk jualan dengan modal kecil-kecilan," ujar perempuan 29 tahun ini.

Tahun 2016,  sedang tren memulai usaha rintisan di kalangan anak muda Pontianak. Fety tak mau ketinggalan.

Bisnis donat dipilihnya karena melihat jenis makanan ini tidak ada matinya. Menurutnya, siapa yang tidak suka makanan ini, dari anak kecil sampai lansia doyan. Masalahnya seumur hidup Fety belum pernah membuat donat.

"Berkali-kali saya coba bikin. Takaran dan cara mengadonnya salah terus. Ada yang jadinya terlalu lembut. Ada yang terlalu keras. Sampai akhirnya saya rasa sudah berhasil dan layak jual," tutur Fety.

Produk layak jualnya pertama kali dipasarkan di grup-grup jual beli Facebook. Hebatnya, hari itu pula jualan Fety yang belum diberi merek ini langsung ludes.

Ia mengantar langsung donat-donat tersebut ke pembeli. Komentar di Facebook pun positif semua.

"Tetapi ada komentar yang lucu dari pembeli. Karena wadah kotak saya ukurannya agak kecil, jadi di foto donatnya menyembul keluar, dan dibecandain sama customer. Kata menyembul itu yang bikin saya ketawa. Dari situ lah nama Donat Embul muncul," kisah dia.

Tahun 2018, Fety mulai membuka outlet pertamanya di Jl Tanjung Raya II. Merasa dapur rumahnya kurang cukup untuk memenuhi permintaan pasar, ia pun menyewa rumah untuk dijadikan pabrik mini.

PRODUKSI: Proses mengadon Donat Embul di pabrik sederhana usaha ini, Jl Nusa Karya, Kecamatan Pontianak Timur.
PRODUKSI: Proses mengadon Donat Embul di pabrik sederhana usaha ini, Jl Nusa Karya, Kecamatan Pontianak Timur.

Pandemi Covid-19 yang melanda tanah air tahun 2020 tak membuat usaha donat ini sepi pembeli. Malahan Fety menambah jumlah outletnya di Pontianak.

"Pas Covid malah pembeli meningkat, karena banyak orang takut atau malas keluar rumah. Jadi mereka pilih pesan makanan online," sebut dia.

Pembeli Donat Embil ternyata banyak dari luar kota, seperti Singkawang, Sambas, dan Sintang. Tahun lalu, ia memutuskan untuk membuka cabang di kota-kota tersebut.

"Daripada harus kirim dari sini, takut donatnya rusak, saya pilih bikin pabrik dan outlet sekalian di sana," ungkapnya.

Namun untuk proyek ekspansi tersebut, Fety butuh tambahan modal. Ia pun memberanikan diri meminjam Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar Rp100 juta dengan tenor dua tahun, dan dikabulkan.

"Prosesnya mudah dan cepat," sebut Fety.

Andalkan Influencer

Walaupun baru, dia mengelola pemasaran digital dengan sangat serius. Menurutnya produk yang baik, harus didukung pula oleh strategi pemasaran dan komunikasi yang baik.

Media sosial menjadi andalan Fety lantaran daya jangkau dan keaktivan para penggunanya.

Agar produknya menjadi sorotan masyarakat, ia bermitra  dengan sejumlah influencer  top untuk mempromosikan produknya.

Bahkan ia memiliki brand ambassador sendiri. Di Pontianak ia menggaet nama selebram Tini Situmorang.

Sementara untuk pasar Singkawang - Sambas, ia punya nama influencer beken Aningmu. Adapula sejumlah selebram, tiktokers, youtuber, hingga food blogger yang diendorse olehnya.

"Mereka kan punya follower besar di medsos, sehingga bisa mengenalkan nama Donat Embul ke pengikut mereka. Hasilnya luar biasa, sejak saya bekerja sama dengan mereka, donat saya makin dikenal sampai luar kota," papar Fety.

Kata Fety, popularitas Donat Embul di medsos hanya akan bertahan sementara apabila ia tak menjaga kualitas produknya.

Para influencer ini memperkenalkan Donat Embul, namun tetap Fety lah yang menjaga kualitas produknya.

"Para influencer ini berani mempromosikan kita karena mereka merasa Donat Embul itu unik. Topingnya beraneka varian dan tidak pelit. Lembut donatnya juga tahan sampai dua hari. Itu yang saya jaga sampai saat ini.

Fety sendiri belum puas dengan pencapaiannya saat ini. Di masa depan, ia ingin punya gerai premium dan luas yang bisa menjadi tempat bersantai banyak orang.

"Maunya sih seperti Dunkin' Donuts dan JCO yang punya tempat nongkrong. Tetapi bisnis saya yang sekarang sudah jauh melebihi harapan awal," ucapnya merendah.

Buka Lapangan Kerja

Mulyadi (47) adalah salah satu dari 30-an karyawan Donat Embul yang direkrut sejak tiga tahun lalu.

Ia bertugas sebagai kurir yang mengantar donat dari pabrik ke outlet-outlet di Pontianak. Awalnya ia adalah driver ojek online yang diorder jasanya lewat aplikasi oleh Fety untuk pengantaran donat ke pelanggan. Karena area mangkal Mulyadi dekat dengan rumah Fety

Namun lama -kelamaan, Fety merasa butuh tenaga khusus untuk mengantar produknya ke outlet, agar jam bukanya pasti.

"Semua gerai saya jam 10 sudah harus buka. Jadi perlu ada tenaga khusus agar jangan sampai kita bukanya telat, gara-gara produk belum sampai," kata Fety.

Mulyadi sendiri bersyukur, lantaran kini ia punya pekerjaan tetap.

"Satu hari saya dibayar Rp110 ribu atau Rp3 jutaan per bulan. untuk pengantaran donat pagi ke outlet. Siangnya sampai malam saya dibebaskan. Kadang kalau tidak capek, saya ngojek juga," sebutnya. (aristono)

 

 

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#UMKM #Donat #gerai #KUR #bri #pontianak