PONTIANAK POST – Pengguna jasa di Bandara Internasional Supadio Pontianak, Kabupaten Kubu Raya kini memiliki pilihan baru untuk menikmati kuliner sambil menunggu keberangkatan. Untuk pertama kalinya, gerai makanan dan minuman (food and beverage/F&B) hadir di area check in bandara tersebut melalui pembukaan outlet Kopi Peng, Minggu (14/6) pagi.
Gerai yang berlokasi di Terminal Keberangkatan itu menjadi cabang ketiga Kopi Peng di Kalimantan Barat (Kalbar), dan Indonesia. Setelah sebelumnya Kopi Peng yang mengusung kuliner khas Sarawak, Malaysia itu, terlebih dahulu hadir di Ayani Megamall Kota Pontianak, dan Gaia Bumi Raya City Mall, Kabupaten Kubu Raya.
General Manager (GM) PT Angkasa Pura Indonesia KC Bandara Internasional Supadio, Maya Damayanti mengapresiasi kehadiran Kopi Peng yang dinilai menambah layanan sekaligus memberikan pengalaman baru bagi para pengguna jasa bandara.
Baca Juga: Pontianak Kota Seribu Kedai Kopi: 1.035 Usaha Tumbuh Jadi Penggerak Ekonomi
“Ini merupakan salah satu layanan F&B, dan satu-satunya yang berada di area check in. Ini memberikan pelayanan baru bagi pengguna jasa, terutama penumpang maupun pengunjung untuk menikmati suasana baru, makan dan minum sambil menunggu proses check in maupun boarding,” ujarnya usai seremoni grand opening Kopi Peng.
Menurut Maya, keberadaan gerai tersebut menjadi warna baru di Bandara Internasional Supadio yang selama ini telah diisi berbagai merek lokal maupun internasional. Dengan hadirnya Kopi Peng, para penumpang kini memiliki lebih banyak pilihan menu sebelum melakukan perjalanan.
“Dengan adanya space, dan gerai baru ini, kami harapkan bisa menambah layanan yang bermanfaat bagi pengguna jasa, baik penumpang maupun pengunjung. Mereka tidak hanya menunggu waktu check in, tetapi juga bisa makan, minum, dan bersantai sebelum boarding,” katanya.
Maya pun berharap kehadiran Kopi Peng dapat berkembang dan berkelanjutan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Konsulat Malaysia di Pontianak yang turut mendukung pembukaan gerai tersebut. “Kami sangat senang karena ini menjadi bagian dari kerja sama, dan pertukaran budaya, khususnya budaya kuliner dari Sarawak kepada masyarakat Kalbar,” tambahnya.
Baca Juga: Tren Kopi Street di Kota Khatulistiwa: Cara Anak Muda Merawat Tradisi Ngopi Tanpa Sekat
Sementara itu, Konsul Malaysia di Pontianak, Azizul Zekri bin Abd Rahim mengatakan, pembukaan outlet ketiga Kopi Peng merupakan pencapaian yang membanggakan. Dalam kurun waktu sekitar dua tahun, jaringan kuliner tersebut mampu berkembang dengan membuka tiga gerai di Pontianak, dan Kubu Raya.
“Kami di Konsulat Malaysia selalu mendukung pihak swasta dalam memperkenalkan kebudayaan Malaysia, khususnya kuliner dari Sarawak. Ini memberikan peluang kepada pengunjung Bandara Internasional Supadio untuk menikmati kelezatan, dan keunikan cita rasa kuliner Sarawak,” ujarnya.
Azizul menilai menu khas Sarawak memiliki kedekatan tersendiri dengan masyarakat Kalbar. Selain faktor budaya yang serumpun, hubungan mobilitas masyarakat antara Kalbar, dan Sarawak yang cukup tinggi, sehingga membuat berbagai hidangan khas negeri jiran tersebut tidak lagi asing di lidah masyarakat.
“Menu Sarawak cukup digemari di sini karena ada kedekatan antara Kalbar, dan Sarawak. Banyak warga Sarawak yang berkunjung ke Pontianak, dan banyak warga Pontianak yang berkunjung ke Sarawak. Karena itu menu-menu khas Sarawak sudah dekat di hati masyarakat Kalbar,” katanya.
Di tempat yang sama, Direktur Kopi Peng, Wendy Haryanto menjelaskan, Bandara Internasional Supadio dipilih karena menjadi titik yang sangat strategis dalam konektivitas Kalbar, dan Malaysia, khususnya Sarawak.
“Ini tempat yang paling dekat dengan penerbangan. Kami juga mendengar akan ada penambahan frekuensi penerbangan harian ke Kuching, dan ke Kuala Lumpur. Jadi kami ingin menjadi jembatan antara Malaysia, dan Indonesia melalui hidangan khas Sarawak,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Direktur Temari Holding Sdn Bhd, Welly Kwok. Ia mengaku terkesan dengan perkembangan Kopi Peng di Pontianak yang mampu membuka tiga outlet dalam waktu relatif singkat. Menurutnya, tingginya penerimaan masyarakat terhadap menu khas Sarawak menjadi bukti kuat bahwa kuliner dari wilayah tersebut memiliki pasar yang besar di Kalbar.
“Awalnya kami tidak tahu apakah masyarakat Indonesia bisa menerima cita rasa lokal Malaysia, ternyata responsnya sangat baik. Mungkin karena kita satu rumpun, dan sama-sama berada di Pulau Borneo, sehingga kuliner Sarawak diterima dengan baik oleh masyarakat di sini,” katanya.
Keberhasilan tersebut, lanjut Welly, dapat membuka peluang investasi yang lebih luas di Pontianak maupun Indonesia. Yakni dengan menghadirkan berbagai merek lain di bawah Temari Holding yang saat ini berkembang di Malaysia. “Kami mungkin melihat ke depan bisa membawa lebih banyak brand-brand kami yang ada di Malaysia ke sini. Mungkin bisa buka juga di bandara, bekerja sama dengan pihak Angkasa Pura, dan sebagainya,” harapnya. (bar/ser)
Editor : Miftahul Khair