SEJAK Pemerintahan Republik Islam Iran dan negara tersebut dikepalai oleh seorang presiden, mungkin Mohammad Ali Rajai tercatat dalam sejarah sebagai kepala negara dengan jabatan tersingkat.
Tak kurang 28 hari dia memerintah negara di Teluk Persia tersebut, sebelum akhirnya tewas akibat serangan bom pada 30 Agustus 1981 atau persis terjadi pada 43 tahun yang lalu.
Situs iranwire.com, menceritakan bahwa Ali Rajai adalah presiden Iran selama kurang dari sebulan. Dia mulai menjabat pada 2 Agustus 1981 dan tewas dalam pemboman bersama dengan Perdana Menteri Mohammad Javad Banohar dan tiga orang lainnya pada 30 Agustus.
Ali Rajai adalah seorang mantan guru matematika dari latar belakang sederhana, di manaayahnya adalah seorang penjaga toko di Qazvin.
Rajai sendiri pernah bertugas di angkatan udara dan kemudian dipenjarakan dua kali karena menentang Syah atau Raja Iran Mohammad Reza Pahlavi.
Setahun sebelum menjadi presiden, Rajai adalah perdana menteri kedua Republik Islam tersebut. Dia menggantikan sekutu politiknya, Mehdi Bazargan, yang mengundurkan diri.
Pengunduran diri tersebut sebagai protes atas penolakan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khomeini, untuk melepaskan staf kedutaan Amerika Serikat (AS) yang disandera oleh para pendukungnya.
Pertanyaan tentang penggantian Bazargan mengakibatkan perselisihan panjang antara Presiden Abolhassan Banisadr, yang seharusnya menunjuk perdana menteri baru, dan Partai Republik Islam (IRP).
IRP sendiri secara sosial konservatif dan proulama, berulang kali menentang pilihan Banisadr di parlemen.
Khomeini akhirnya turun tangan, memaksa Banisadr untuk menunjuk Rajai. Rajai sendiri merupakan pendukung setia IRP, serta seorang tokoh terkemuka dalam kelompok kiri Islam yang sangat anti-imperialistik.
Sebagai perdana menteri, Rajai berpendapat perlunya perekonomian yang dipimpin oleh negara dan berupaya memaksakan ideologi Islam pada pendidikan Iran.
Baca Juga: Bimtek Pengelola Perpustakaan Kabupaten Mempawah, Ismail: Upaya Meningkatkan Indeks Literasi dan IPM
Dia bahkan sampai melarang pengajaran bahasa Inggris dan menutup universitas-universitas Iran, untuk mencegah perguruan-perguruan tinggi tersebut menjadi pusat oposisi terhadap rezim baru.
Dia juga berpartisipasi dalam negosiasi mengenai sandera Amerika Serikat (AS). Saat membahas situasi penyanderaan di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada Oktober 1980, ia terkenal menyalahkan AS atas penangkapannya oleh polisi rahasia Syah.
Dia menunjukkan kaki kanannya yang dikeluarkan dari sepatunya kepada penonton. Secara tegas dia menceritakan bagaimana saat dipenjara dulu, para interogator Syah telah memukuli telapak kakinya dan telah mencabut kuku kakinya.
Ketika parlemen yang didominasi IRP memakzulkan Banisadr, memaksanya meninggalkan negara itu, parlemen juga mendukung Rajai sebagai presiden. Sekali lagi, Rajai menerima restu Khomeini.
Mansour Farhang, perwakilan Iran di PBB sebelum mengundurkan diri karena krisis penyanderaan, menilai Rajai berkomitmen tanpa syarat terhadap posisi Khomeini.
Meskipun Banisadr adalah seorang kritikus ringan terhadap Bazargan, dia melihat, masa kepresidenan Rajai menandai perpecahan yang menentukan dengan kelompok liberal seperti Bazargan dan Banisadr.
Rajai dan para pendukungnya, menurut dia, mulai menggunakan kata liberal sebagai sinonim untuk pengkhianat atau pro-Amerika, sebuah kebiasaan yang mereka ambil dari partai komunis Iran yang pro-Moskow, Tudeh.
Rajai setia kepada ulama terkemuka seperti Ayatollah Mohammad Beheshti dan Mohammad-Javad Bahonar, yang keduanya merupakan anggota pendiri IRP.
Dia menunjuk perdana menteri Bahonar dua hari setelah menjabat sebagai presiden.
Namun setelah perselisihan yang berujung pada pemakzulan Banisadr, jabatan presiden kini dianggap hanya sekadar peran seremonial. Tidak seperti Bahonar, Rajai bukanlah orang yang berpengaruh.
Rajai mengambil alih kursi kepresidenan pada saat terjadi pergolakan besar. Iran baru saja memasuki satu tahun perang dahsyat dengan Irak, dan pasukan pro-Khomeini terlibat dalam perjuangan bersenjata melawan kelompok-kelompok revolusioner saingannya, terutama Organisasi Mujahidin Rakyat, yang mulai melakukan serangan teroris terhadap pemerintah.
Rajai sendiri lolos dari pengeboman di markas besar Partai Republik Islam yang menewaskan Beheshti, bersama 70 orang lainnya, sebagian besar adalah pejabat pemerintah, 28 Juni 1981.
Baca Juga: Bupati Ketapang Minta Laporan Pengerjaan Proyek CSR
Setelah pemboman tersebut, Khomeini semakin bertekad untuk mengamankan dominasi ulama di Iran, namun tampaknya masih berkomitmen pada janjinya,yang dibuat di bawah tekanan dari kaum revolusioner yang lebih sekuler dan nasionalis, di mana ulama tidak boleh menjadi presiden.
Sejarawan Ervand Abrahamian menilai bahwa Rajai telah dipercaya oleh Beheshti dan dipercaya oleh Khomeini. Rajai dinilai dia tidak mewakili siapa pun atau apa pun.
Rajai dalam pandangan dia hanya sebagai pesuruh orang-orang seperti Beheshti.
Jika diberi waktu, kata Abrahamian, latar belakang Rajai yang sederhana mungkin bisa bermanfaat. Menurutnya, Rajai mungkin bisa menjadi wong cilik seperti Ahmadinejad.
Tetapi dia berpandangan banyak tokoh revolusioner seperti Banisadr berasal dari keluarga tradisional yang cukup terkemuka, di mana dalam politik Iran, hal ini mempunyai dampak positif.
Rajai juga tidak mengesankan musuh baru Iran. Gary Sick, staf utama Gedung Putih untuk Iran di bawah Presiden Jimmy Carter ketika Rajai menjadi perdana menteri, melihatnya sebagai salah satu revolusioner Iran yang kurang berpengalaman.
Pada 30 Agustus 1981, sebuah bom menewaskan Rajai bersama dengan Perdana Menteri Bahonar di kantor perdana menteri di Teheran.
Tidak ada yang mengaku bertanggung jawab atas pemboman tersebut, namun Organisasi Mujahidin Rakyat secara luas diasumsikan sebagai pelakunya.
Setelah kematian Rajai, Khomeini membatalkan larangannya terhadap ulama untuk menjabat sebagai presiden, dan ulama revolusioner Ali Khamenei menggantikannya. Rajai adalah orang non-ulama terakhir yang menjabat sebagai presiden sampai Mahmoud Ahmadinejad menjabat pada 2005. Ahmadinejad sendiri menyebut kepresidenan Rajai sebagai teladan bagi dirinya sendiri.(ote)
Editor : Miftahul Khair