KOSEM Sultan adalah salah satu wanita paling berpengaruh dalam sejarah Kekaisaran Ottoman. Sebagai ibu suri, dia ikut campur tangan dalam pemerintahan kekaisaran selama hampir 30 tahun, serta berperan dalam berbagai macam kebijakan yang diterapkan oleh enam kaisar berbeda.
Semua berakhir saat dia dihabisi oleh seterunya yang juga menantunya, Turhan Sultan, pada malam 2 September 1651 atau 373 tahun yang lalu.
Dilansir dari situs iamistanbul.com, Kosem Sultan adalah salah satu wanita yang meninggalkan jejak dalam sejarah Kekaisaran Ottoman. Ia adalah wanita yang kuat, tokoh terkemuka dalam sejarah Ottoman, dan pengaruhnya bertahan lama. Ia adalah istri Kaisar Ahmed I, dan ibu dari Kaisar Murad IV dan Kaisar Ibrahim.
Ia terlahir pada 1589, di Tinos. Merupakan putri seorang pendeta Ortodoks Yunani. Ketika berusia 15 tahun, ia diculik selama konflik antara Kekaisaran Ottoman dan Republik Venesia, dan dibeli sebagai budak.
Ia dibedakan oleh kecerdasan dan kecantikannya, oleh karena itu ia dikirim ke Konstantinopel untuk dilatih di harem. Di Konstantinopel, ia dilatih dalam mata pelajaran matematika, agama, musik, sastra, dan sulaman. Setelah itu, ia menarik perhatian Kaisar Ahmed I dan menjadi permaisuri utama yang disebut Haseki atau istri sah Sultan.
Setelah masuk Islam, nama Kosem yang berarti pemimpin kawanan diberikan kepadanya oleh Kaisar. Ia juga disebut mahpeyker yang berarti wajah seperti bulan, karena kecantikannya yang menawan. Pengaruhnya terus berlanjut pada pemerintahan Kaisar selama bertahun-tahun, dan ia juga dikenal sebagai penasihatnya.
Saat suaminya mangkat pada 22 November 1617, di usia yang sangat muda, 27 tahun, Kosem mendapati dirinya dalam kekacauan, di istana. Di masa itu, dia dibuang begitu saja ke Istana Lama dari istana kaisar.
Dalam keadaan tersebut, Kosem Sultan mendukung saudara suaminya Mustafa I untuk naik tahta sebagai kaisar. Namun kemudian, sang kaisar digambarkan memiliki gangguan mental sehingga digulingkan setelah 3 bulan pemerintahannya.
Mustafa I kemudian digantikan oleh Osman II yang merupakan putra dari istri lain Kaisar Ahmed I, tetapi pemerintahannya berlangsung singkat karena pemberontakan korps Janissary.
Setelah itu, putra Kosem Sultan, Murad IV naik takhta dan memberikan ibunya posisi Valide Sultan, yang berarti ibu dari Sultan. Dia memperoleh lebih banyak kekuasaan melalui posisi ini.
Pemerintahan Murad IV berlanjut hingga kematian sang kaisar pada 1640. Setelah Murad IV, saudaranyta Ibrahim mengklaim tahta. Namun pada 1648, Janissary menggulingkannya. Mehmed IV, cucu Kosem Sultan, pun menjadi penerusnya, sehingga gelar Valide Sultan diberikan kepada ibunya, Turhan Sultan, menantu Kosem Sultan, dan gelar nenek diberikan kepada Kosem Sultan.
Persaingan pun terjadi antara kedua wanita yang berkuasa ini. Semua berakhir hingga pada 2 September 1651, Kosem Sultan dicekik atas perintah Turhan Sultan yang merupakan Valide Sultan, dan ia ditemukan meninggal malam itu juga.(ote)
Editor : Miftahul Khair