SAAT ini Pekan Olahraga Nasional (PON) sedang berlangsung di Aceh-Sumatera Utara, menjadi penyelenggaraan kali ke-21. Jika upacara pembukaannya berlangsung pada 9 September 2024 lalu, maka pembukaan PON I yang berlangsung pada 9 September 1948 atau 76 tahun lalu, kemudian dikenang sebagai Hari Olahraga Nasional (Haornas). Untuk mengenang peristiwa tersebut, pontianakpost.jawapos.com akan mengulas sejarah mengenai pembukaan ajang multievent empat tahunan ini, sejak berlangsung 76 tahun yang lalu.
Dilansir dari situs esi.kemdikbud.go.id, diungkapkan bahwa penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) I tersebut secara tidak langsung terkait dengan persiapan pada keikutsertaan Olimpiade musim panas di London, 29 Juli – 14 Agustus 1948. Pada saat itu, eksistensi negara yang baru berusia 3 tahun tersebut diupayakan untuk diperkenalkan melalui keterlibatan pada olimpiade ini.
Meskipun situasi di dalam negeri kurang kondusif, persiapan pendaftaran peserta telah dilakukan secara serius sebelum perhelatan dimulai. Hal ini dibuktikan dengan adanya pembentukan lembaga yang berwenang mengurus kepesertaan kontingen Indonesia, yaitu Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) yang dibentuk pada Januari 1946 dan khususnya Komite Olimpiade Republik Indonesia (KORI) yang dibentuk pada Januari 1947.
Keinginan dan usaha mengirim delegasi peserta kompetisi (kontingen olimpiade) mengalami kegagalan karena paspor Indonesia sebagai negara baru tidak diakui oleh pemerintah Inggris. Kegagalan ini cenderung disebabkan oleh persoalan politik antara Indonesia dan Belanda. Belanda tidak mengakui Indonesia sebagai negara, sehingga Inggris sebagai tuan rumah tidak mengesahkan paspor Indonesia.
Komite Olimpiade Internasional (IOC) juga menilai bahwa asosiasi olahraga Indonesia (PORI) belum terdaftar sebagai anggota IOC, di mana Indonesia juga belum menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Berbagai prasyarat yang ditolak mengakibatkan Indonesia gagal sebagai peserta Olimpiade.
Informasi kegagalan direspons secara internal oleh PORI melalui konferensi di Surakarta pada awal Mei 1948 di rumah Soerio Hamidjojo yang melibatkan perwakilan PORI daerah, Wikana (Menteri Pembangunan dan Pemuda), dan Ali Sastroamidjojo (Menteri Pengajaran dan Kebudayaan).
Momentum ini justru menjadi pondasi lahirnya sejarah baru kompetisi nasional olahraga. Konferensi ini memunculkan kesepakatan penyelenggaraan pertandingan olahraga yang disebut Pekan Olahraga Nasional (PON) 1948. Dengan adanya kelanjutan PON pada 1951 yang disusul secara berkala pada tahun berikutnya, maka kompetisi olahraga antardaerah tahun 1948 disebut Pekan Olahraga Pertama.
Pekan Olahraga Nasional I diselenggarakan di Surakarta, Jawa Tengah, 9 – 12 September 1948. Sebagai informasi, pada 1938, Surakarta juga sebagai tuan rumah kompetisi olahraga yang diselenggarakan oleh Ikatan Sport Indonesia (ISI). Kegiatan yang sama juga dilaksanakan di Batavia (Jakarta), 15 – 22 September 1940 yang disebut Pekan Olahraga Indonesia.
Cabang olahraga yang dipertandingkan adalah atletik, bola keranjang, sepakbola, bulu tangkis, renang, kasti, busur panah, dan tenis. Panitia utama pekan olahraga (sportweek) adalah R.P. Suracman Tjokroadisoerjo, M.H. Thamrin, Soewandi, Seno H. Dachlan Abdullah, R. Soerasno, Otto Iskandar Dinata, Moewardi, Hendarmin, dan R. Samsoedin. Agenda pertandingan pekan olahraga telah diberitakan pada hari sebelum penyelenggaraan yang dibuka pada 14 September sampai berakhir pada 22 September 1940.
Dua peristiwa olahraga yang diselenggarakan dengan kepanitiaan orang Indonesia tersebut terbukti berhasil. Pengalaman ini melatarbelakangi kesuksesan PON 1948. Jika pekan olahraga (sportweek) sebelumnya berada di bawah bayang-bayang kolonialisme, maka PON 1948 berlandaskan semangat nasionalisme dalam situasi ancaman Belanda.
Pemilihan Surakarta didasarkan pada pengalaman kegiatan di masa pemerintahan Hindia Belanda dan kedudukan kepengurusan pusat PORI berlokasi di Surakarta. Selain itu, Surakarta sekaligus sebagai lokasi yang dapat diterima terkait dengan penyempitan wilayah Republik Indonesia akibat Perjanjian Renville (8 Desember 1947 – 17 Januari 1948).
Situasi politik itu berimbas pada peserta kontingen yang bertanding pada PON 1948. Delegasi merupakan utusan dari daerah-daerah setingkat kota, kabupaten, dan karesidenan di Jawa, yaitu Jakarta, Bandung, Kedu, Magelang, Semarang, Pati, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, Madiun, Malang, Kediri, dan Banyuwangi.
Cabang olahraga yang dipertandingkan adalah atletik, bola keranjang, bulu tangkis, sepakbola, tenis, renang, panahan, bola basket, dan pencak silat. Cabang olahraga ini dapat dibandingkan dengan cabang olahraga pada pekan olahraga (sportweek) 1948 di Batavia yang tampak serupa. Penyelenggaraan PON 1948 merupakan wujud kemandirian bangsa di bidang olahraga. (ote)
Editor : Miftahul Khair