Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Hotel Yamato, Saksi Peristiwa Heroik Perobekan Bendera Belanda di Surabaya

Miftahul Khair • Kamis, 19 September 2024 | 12:24 WIB
PEROBEKAN BENDERA: Para pemuda Surabaya dengan gagah berani merobek bendera Belanda yang berkibar di atas Hotel Yamato. DOK JAWAPOS
PEROBEKAN BENDERA: Para pemuda Surabaya dengan gagah berani merobek bendera Belanda yang berkibar di atas Hotel Yamato. DOK JAWAPOS

HOTEL Yamato Surabaya menjadi saksi peristiwa bersejarah perobekan warna biru  bendera Belanda, yang dikibarkan di atap hotel.

Dengan sigap berani para pemuda Surabaya menjadikan bendera Belanda hanya menjadi merah putih, warna bendera Indonesia. Insiden tersebut terjadi tepat pada 79 tahun yang lalu atau 19 September 1945.

Peristiwa ini menjadi pembuka sejumlah rangkaian konflik yang semakin memanas antara Republik Indonesia  dengan sekutu dan Belanda. Konflik tersebut kemudian berpuncak pada pertempuran Surabaya, 10 November 1945.

Dalam situs Ensiklopedia Indonesia, diungkapkan bagaimana peristiwa tersebut berlangsung. Berbekal brosur khusus mengenai sejarah Hotel Majapahit Surabaya yang diterbitkan oleh hotel tersebut pada 2014, dijelaskan bahwa hotel yang awalnya bernama Hotel Oranje ini dibangun pada 1910 oleh Lucas Martin Sarkies.

Lukas sendiri merupakan seorang pengusaha Iran keturunan Armenia, yang keluarganya memiliki jaringan perhotelan di Asia Tenggara sejak akhir abad ke-19. 

Hotel Oranje dirancang oleh arsitek asal Inggris, Alfred Bidwell, dan  selesai dibangun dan diresmikan pada 1911. Pada 1923 dan 1926 dilakukan perluasan bangunan hotel di bagian kanan dan kiri.

Menurut Ashadi dalam Peradaban dan Arsitektur Modern, hotel ini awalnya mengaplikasikan langgam Art Noveau.

Tahun 1931 bangunan ini direnovasi dengan menambahkan bagunan baru di bagian depan pintu masuk lama, dengan langgam Art Deco oleh arsitek Belanda Charles Prosper Wolff Schoemaker.

Allison Lee Palmer dalam Historical Dictionary of Architecture menjelaskan ciri arsitektur Art Noveau yang sangat populer pada awal abad ke-20.

Antara lain memiliki kaca bangunan yang berwarna-warni serta hiasan bermotif tanaman atau hewan.

Langit-langit bangunan biasanya menampilkan lekukan garis-garis melingkar dan vertikal.

Gaya arsitektur Art Deco berkembang pada sekitar tahun 1930 memiliki ciri umum yang lebih praktis dibandingkan Art Noveau yang lebih rumit.

Elemen-elemen dekoratif Art Deco bermotif vertikal dan horizontal saja, atau berbentuk zigzag dan kerucut yang bertingkat-tingkat.

Arsitektur Hotel Oranye mengaplikasikan perpaduan langgam arsitektur modern Art Noveau dan Art Deco.

Hotel Oranje dibangun dengan denah berbentuk huruf U, dengan ciri khas  arsitektur kolonial, seperti warna dominan putih, bentuk jendela yang besar serta langit-langit yang  dibuat lebih tinggi dihiasi lampu gantung.

Hingga sebelum masa pendudukan Jepang, Hotel Oranje merupakan hotel mewah di Surabaya dan menjadi salah satu tempat transit pengunjung. Hotel ini juga menjadi tempat pertemuan para perwira tinggi, sosialita, dan pengusaha.

Pada masa pendudukan Jepang, nama Hotel Oranje diganti menjadi Yamato Hoteru atau Hotel Yamato dan dialihfungsikan menjadi markas komando dan wisma bagi para perwira tinggi militer Jepang, tanpa perubahan fisik secara signifikan.

Setelah terjadi peristiwa heroik perobekan warna biru bendera Belanda, nama hotel   diganti menjadi Hotel Merdeka.

Namun, beberapa bulan kemudian, ketika Sarkies bersaudara kembali mengelola hotel ini pada 1946, nama hotel kembali diubah menjadi LMS Hotel, akronim dari Lucas Martin Sarkies, pendiri hotel yang telah meninggal pada 1941 sebelum Jepang masuk.

Kepemilikan hotel berpindah tangan ke Mantrust Holding Co pada 1969 dan nama hotel diubah menjadi Hotel Majapahit.

Setelah pergantian nama yang terakhir ini, kepemilikian hotel beberapa kali memang sempat berpindah tangan. Meskipun demikian, nama Majapahit tetap dikenakan. Tahun 1993, pemerintah menetapkan hotel ini sebagai bangunan cagar budaya.

Peristiwa heroik perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato sendiri hingga kini masih menyisakan pertanyaan berkait dengan siapa tokoh yang merobek bendera Belanda.

Ada beberapa versi atau klaim tentang kisah perobekan tersebut dari para pelaku sejarah.

Salah satu kajian terbaru adalah buku yang ditulis oleh Ady Setyawan dan Marjolein van Pagee berjudul Surabaya, Dimana Kau Sembunyikan Nyali Kepahlawananmu?

Riset mereka mengerucut pada dua nama saja sebagai orang yang berhasil memanjat atap Hotel Yamato.

Pertama adalah Hariyono, satu dari dua pemuda yang mengawal Residen Surabaya Sudirman saat bertemu dengan W.V. Ch Ploegman, pemimpin Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees (RAPWI) yang bermarkas di Hotel Yamato, untuk memprotes pengibaran bendera Belanda, namun gagal.

Kedua adalah seorang pemuda Surabaya bernama Koesno Wibowo yang berhasil menerobos dari luar gedung Hotel Yamato. (ote)

Editor : Miftahul Khair
#sejarah #hari ini #hotel yamato surabaya perobekan bendera tiga warna