Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Hari Raya Galungan: Perayaan Kemenangan Kebaikan Melawan Kejahatan

Miftahul Khair • Selasa, 24 September 2024 | 12:09 WIB
Masyarakat Bali mengenakan pakaian adat saat upacara keagamaan di Pura Taman Ayun, Bali, Indonesia.
Masyarakat Bali mengenakan pakaian adat saat upacara keagamaan di Pura Taman Ayun, Bali, Indonesia.

PONTIANAK - Tanggal 25 September 2024 merupakan perayaan Hari Raya Galungan, khususnya di Bali, Indonesia.

Galungan adalah hari suci dalam agama Hindu yang dirayakan setiap 6 bulan berdasarkan kalender Bali, yaitu kalender pawukon, yaitu pada Rabu Kliwon Dungulan.

Hari suci ini menandai kemenangan Dharma (kebenaran) atas Adharma (kejahatan) dan merupakan wujud syukur kepada Sang Hyang Widhi serta para Dewa atas terciptanya alam semesta dan isinya.

Dalam perayaan ini, umat Hindu juga memasang penjor, yaitu bambu yang dihias indah dan ditempatkan di tepi jalan sebagai persembahan kepada Bhatara Mahadewa.

Makna Filosofis Galungan

Secara filosofis, Galungan mengajarkan pentingnya membedakan antara dorongan hidup yang positif (dharma) dan negatif (adharma) dalam diri manusia.

Inti dari perayaan ini adalah menyatukan kekuatan rohani untuk memperoleh ketenangan pikiran yang jernih, yang menjadi manifestasi dari dharma.

Pada akhirnya, kebahagiaan sejati bisa diraih ketika kita mampu menegakkan kebenaran dan melawan kejahatan di dalam diri.

Sejarah Singkat Galungan

Sejarah Hari Raya Galungan di Bali sulit dipastikan dengan pasti, namun berdasarkan Lontar Purana Bali Dwipa, perayaan pertama Galungan terjadi pada tahun 882 Masehi atau 804 Saka.

Dalam lontar tersebut, disebutkan bahwa Galungan dirayakan pertama kali pada Rabu Kliwon, Wuku Dungulan, di bulan purnama Kapat, ketika Pulau Bali digambarkan seperti Indra Loka, sebuah surga dunia.

Baca Juga: Stop Jemur Pakaian di Luar: Ini 6 Alasan Utama

Selain itu, Galungan dan Kuningan dirayakan dua kali setahun dalam kalender Masehi dengan jarak 10 hari di antara keduanya.

Perayaan Galungan jatuh pada hari Rabu Wuku Dungulan, sementara Hari Raya Kuningan jatuh pada Sabtu Wuku Kuningan. Kedua hari ini sangat penting dalam tradisi Hindu Bali dan menjadi momen penting untuk berdoa serta memohon perlindungan dari para Dewa.

Makna Hari Raya Kuningan

Hari Raya Kuningan dirayakan 10 hari setelah Galungan. Menurut Lontar Sundarigama, Kuningan mengajarkan umat Hindu untuk membersihkan pikiran dari hal-hal negatif dan kotor, atau yang disebut dengan Sapuhakena malaning jnyana.

Ritual pada Hari Raya Kuningan hendaknya dilakukan sebelum tengah hari, karena diyakini bahwa para Dewa dan Dewa Pitara akan kembali ke Swarga pada siang hari.

Pada hari Penampahan Kuningan, yang jatuh sehari sebelum Kuningan, umat Hindu diingatkan untuk melakukan kegiatan rohani sebagai persiapan spiritual.

Penjor: Simbol Kemenangan Dharma

Penjor, yang dipasang di setiap rumah, adalah simbol persembahan kepada Dewa Mahadewa. Bambu yang dihias dengan daun kelapa, hasil bumi, dan kain, mencerminkan harmoni antara manusia dan alam.

Kehadiran penjor di tepi jalan menambah kesakralan perayaan Galungan, sekaligus menjadi pengingat bahwa kemenangan Dharma atas Adharma adalah tujuan spiritual yang harus dicapai setiap umat Hindu.

Hari Raya Galungan adalah momen penting dalam kalender Hindu Bali yang mengingatkan umat untuk selalu menegakkan kebenaran dan melawan kejahatan dalam diri.

Melalui perayaan ini, umat Hindu tidak hanya memperingati penciptaan alam semesta, tetapi juga menyatukan kekuatan rohani untuk mencapai kebahagiaan sejati.

Kemenangan Dharma melawan Adharma menjadi inti dari perayaan ini, yang ditandai dengan berbagai ritual suci, salah satunya pemasangan penjor yang melambangkan keseimbangan antara manusia, alam, dan para Dewa. (mif)

Editor : Miftahul Khair
#Hari Raya Galungan #galungan dan kuningan #makna galungan