Syawal di Zaman Kerajaan Islam, Jejaknya Hidup dalam Tradisi Melayu Kalbar

Silvina • Dipublikasikan Jumat, 17 April 2026 | 15:52 WIB

 

Ngalase : Salah satu tradisi budaya Melayu di bulan Syawal
Ngalase : Salah satu tradisi budaya Melayu di bulan Syawal

 

PONTIANAK POST – Perayaan bulan Syawal dalam sejarah Islam tidak hanya berlangsung di pusat-pusat kerajaan di Pulau Jawa, tetapi juga berkembang di berbagai wilayah Nusantara, termasuk Kalimantan Barat yang memiliki tradisi Islam Melayu yang kuat.

Sejarawan Muslim Indonesia, Azyumardi Azra, menyebut perkembangan Islam di Nusantara tidak bisa dilepaskan dari peran kerajaan yang menjadi pusat penyebaran agama sekaligus pembentuk tradisi keagamaan masyarakat.

“Tradisi Islam di Nusantara berkembang melalui proses akulturasi dengan budaya lokal, termasuk dalam perayaan hari besar seperti Idulfitri dan bulan Syawal,” tulisnya dalam berbagai kajian sejarah.

Syawal di Lingkungan Kerajaan Islam

Pada masa kerajaan Islam seperti Kesultanan Demak dan Kesultanan Mataram, Syawal tidak hanya dimaknai sebagai ibadah, tetapi juga momentum sosial dan politik.

Sultan bersama keluarga kerajaan biasanya melaksanakan salat Id berjamaah dengan rakyat, membuka pintu istana untuk silaturahmi, serta memberikan sedekah kepada masyarakat. Tradisi ini menunjukkan bagaimana Syawal menjadi sarana mempererat hubungan antara penguasa dan rakyat.

Tradisi Islam Melayu di Kalimantan Barat

Jejak tradisi tersebut kemudian berkembang dan beradaptasi di Kalimantan Barat melalui budaya Islam Melayu yang telah mengakar sejak masa Kesultanan Pontianak dan Kesultanan Sambas.

Dalam budaya Melayu, Syawal menjadi momen penting untuk memperkuat hubungan sosial dan spiritual. Tradisi silaturahmi, ziarah, sedekah, serta penghormatan kepada tokoh terdahulu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan Idulfitri.

Sedekah “Salam Tempel”

Tradisi sedekah dalam bentuk bagi-bagi uang saat Lebaran atau dikenal juga  dengan istilah “salam tempel” menjadi salah satu jejak nyata warisan kerajaan Islam yang masih hidup di Pontianak hingga kini.

Pada masa kesultanan, para sultan membuka ruang berbagi kepada rakyatnya di bulan Syawal, baik dalam bentuk makanan maupun harta. Nilai ini kemudian berkembang menjadi kebiasaan masyarakat memberikan “duit lebaran” kepada anak-anak, keluarga, hingga tetangga sebagai simbol kebahagiaan dan kepedulian sosial.

Di Pontianak, tradisi ini masih terasa kuat. Anak-anak berkunjung dari rumah ke rumah untuk bersilaturahmi sekaligus menerima pemberian. Lebih dari sekadar materi, praktik ini mengandung nilai kebersamaan, penghormatan, dan mempererat hubungan sosial.

Tradisi Ngalase di Pontianak

Selain sedekah, tradisi lain yang masih bertahan adalah Ngalase. Tradisi ini dilakukan masyarakat Desa Madu Sari, Pasak Tiang, hingga Terentang di Kabupaten Kubu Raya.

Ngalase merupakan kegiatan ziarah ke makam pendiri Kota Pontianak dengan menggunakan kapal motor klotok. Tradisi ini biasanya dilakukan sejak hari ketiga hingga ketujuh Idulfitri dan menjadi ritual tahunan yang diwariskan turun-temurun.

“Dahulu saya diajak orang tua menggunakan klotok. Sampai sekarang, tradisi ini rutin dilakukan setiap bulan Syawal,” kenang Kholik, warga yang masih menjalankan tradisi tersebut pada 2026.

Nilai utama dalam tradisi ini adalah adab, kebersamaan, dan penghormatan—ciri khas masyarakat Melayu.

Jejak Tradisi dalam Situs Sejarah

Warisan Syawal di Kalimantan Barat juga terlihat dari situs bersejarah seperti Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman yang sejak masa kesultanan menjadi pusat kegiatan keagamaan.

Masjid tersebut hingga kini tetap digunakan untuk salat Id dan berbagai kegiatan keagamaan selama bulan Syawal, menandakan kesinambungan tradisi dari masa ke masa.

Akulturasi yang Membentuk Tradisi

Azyumardi Azra menegaskan a keberhasilan Islam di Nusantara terjadi karena pendekatan budaya yang tidak menghapus tradisi lokal, melainkan mengisinya dengan nilai-nilai Islam.

Hal ini membuat Syawal tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat.

Warisan yang Tetap Bertahan

Hingga kini, tradisi Syawal yang berkembang sejak masa kerajaan Islam masih bertahan, baik di Jawa maupun Kalimantan Barat. Tradisi tersebut antara lain:

* Silaturahmi dan halalbihalal

* Tradisi makan bersama

* Kegiatan keagamaan di masjid bersejarah

* Ziarah makam leluhur

Meski mengalami penyesuaian dengan zaman, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap terjaga.

Refleksi

Memahami Syawal dari perspektif sejarah kerajaan Islam dan tradisi Melayu Kalimantan Barat menunjukkan bahwa perayaan ini memiliki akar budaya dan spiritual yang panjang.

Syawal bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi juga momentum untuk menjaga kebersamaan, mempererat silaturahmi, serta merawat warisan budaya Islam di Nusantara.

 

 

Editor : Silvina
kerajaan Islam syawal melayani budaya tradisi