Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pemikiran R.A. Kartini dan Inspirasi Islam yang Jarang Diungkap

Silvina • Selasa, 21 April 2026 | 12:56 WIB
Wisatawan melihat-lihat koleksi Museum RA Kartini di Jepara
Wisatawan melihat-lihat koleksi Museum RA Kartini di Jepara

 

Tokoh emansipasi perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini, dikenal luas melalui gagasan kesetaraan dan pentingnya pendidikan bagi perempuan. Namun, sejumlah pandangan menyebut pemikirannya juga dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam, meski belum banyak diungkap secara luas.

Inspirasi dari Al-Qur’an

Dalam salah satu ceramahnya, Ustadz Adi Hidayat menyampaikan  ungkapan terkenal Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang” diduga memiliki keterkaitan makna dengan konsep Al-Qur’an tentang perpindahan dari kegelapan menuju cahaya.

Konsep tersebut sejalan dengan pesan dalam Al-Qur'an, khususnya Surah Al-Baqarah ayat 257, yang menggambarkan proses manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya petunjuk.

Pada masa pingitan sejak usia muda, Kartini dikenal gemar membaca berbagai literatur. Sejumlah pandangan menyebutkan pada periode inilah ia mulai mengenal bacaan keagamaan, termasuk Al-Qur’an, yang kemudian memengaruhi cara pandangnya terhadap kehidupan dan perjuangan.

Pandangan ini juga dikaitkan dengan pengamatan Ustadz Adi Hidayat saat mengunjungi lokasi yang berkaitan dengan jejak sejarah Kartini. Ia menilai, dari peninggalan yang ada, Kartini merupakan sosok yang memiliki kedekatan dengan nilai-nilai keislaman, termasuk dalam ungkapan dan pemikirannya.

Peran Kyai Sholeh Darat

Sumber lain seperti dari Lembaga Dakwah Islam Indonesia menyebutkan perubahan pemahaman Kartini terhadap Islam terjadi setelah ia belajar kepada Kyai Sholeh Darat di Semarang.

Awalnya, Kartini mengaku mengalami kesulitan memahami ajaran Islam karena hanya diajarkan membaca Al-Qur’an tanpa mengetahui maknanya. Hal ini sempat ia tuliskan dalam surat-suratnya kepada sahabatnya di Belanda, Stella Zeehandelaar.

Namun, setelah memahami arti bacaan, terutama Surat Al-Fatihah, pandangan Kartini disebut mengalami perubahan. Ia mulai tertarik mendalami Islam secara lebih substansial, tidak hanya sebatas ritual.

Transformasi Cara Pandang

Perubahan tersebut tercermin dalam sejumlah surat Kartini kepada tokoh Belanda seperti Ny. Abendanon dan Ny. Van Kol. Dalam surat-surat itu, ia mulai mengkritisi anggapan Barat adalah peradaban paling unggul.

Kartini juga menunjukkan keinginan untuk memperbaiki citra Islam yang saat itu kerap dipandang negatif. Bahkan, dalam salah satu tulisannya, ia mengungkapkan keinginannya untuk menjadi  Hamba Allah, yang mencerminkan kedalaman spiritualitasnya.

Perlu Kajian Sejarah yang Objektif

Meski berbagai pandangan berkembang, kajian tentang pemikiran Kartini tetap perlu bersandar pada penelitian sejarah yang komprehensif dan sumber yang dapat diverifikasi.

Kumpulan surat Kartini yang dibukukan dalam karya *Habis Gelap Terbitlah Terang* masih menjadi rujukan utama dalam memahami gagasannya secara utuh.

Narasi mengenai pengaruh Islam dalam pemikiran Kartini memang menarik, namun masih memerlukan kajian akademik lebih lanjut agar tidak menimbulkan bias atau penyederhanaan sejarah.

Kesimpulan

R.A. Kartini merupakan sosok dengan pemikiran yang kompleks, dipengaruhi berbagai faktor seperti budaya Jawa, pendidikan Barat, serta kemungkinan nilai-nilai keislaman.

Memahami Kartini secara utuh membutuhkan pendekatan yang objektif dan berbasis data. Terlepas dari latar inspirasinya, semangat Kartini dalam memperjuangkan pendidikan dan martabat perempuan tetap relevan hingga saat ini.

 

Editor : Silvina
#Jejak Sejarah #Kajian sejarah #ajaran islam #al-quran #RA Kartini