Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Jejak Dupa dari Peradaban Kuno hingga Manfaat bagi Pikiran

Chairunnisya • Jumat, 24 April 2026 | 18:21 WIB
Ilustrasi dupa (AI)
Ilustrasi dupa (AI)

PONTIANAK POST - Aroma dupa kerap menghadirkan suasana tenang dan khusyuk. Namun, di balik penggunaannya yang identik dengan ritual, dupa ternyata memiliki sejarah panjang sekaligus manfaat yang terus dipercaya hingga kini.

Dilansir dari Jawapos, menurut Prof Dr Apt Mangestuti Agil MS, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, dupa atau incense telah dikenal sejak sekitar 3.500 tahun sebelum Masehi.

Sejak saat itu, penggunaannya menjadi bagian penting dalam berbagai ritual tradisional di berbagai peradaban dunia, mulai dari suku Aztec, Yunani, Romawi, Mesir, Arab, hingga India.

Secara historis, bahan pembuat dupa berasal dari berbagai tanaman aromatik, seperti kayu, kulit batang, akar, bunga, daun, hingga resin. Hingga kini, bahan-bahan tersebut masih banyak digunakan secara global.

Baca Juga: Benzoin dalam Dupa Punya Efek Relaksasi hingga Bantu Konsentrasi

Di antaranya resin benzoin, frankincense, myrr, minyak atsiri, cinnamomi, saffron, sage, agarwood, serta sandalwood.

Dalam praktik turun-temurun, dupa digunakan untuk berbagai tujuan, mulai dari pengusir makhluk halus, pengantar spiritual, penetral bau, hingga pengawet jenazah.

Fungsi-fungsi tersebut menunjukkan bahwa dupa tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga dianggap memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat.

Di Yunani dan Romawi kuno, terdapat ramuan dupa yang terdiri dari 16 bahan herbal aromatik. Beberapa di antaranya adalah frankincense, myrr, saffron, cinnamon, sage, dan juniper.

Baca Juga: Manfaat Dupa Tak Hanya Ritual, Bisa Bantu Kesehatan Tubuh

Ahli sejarah Yunani meyakini bahwa ramuan tersebut memiliki manfaat dalam membantu meredakan gangguan mental, menjaga kestabilan emosi, serta mempercepat pemulihan setelah tindakan operasi.

Keyakinan terhadap manfaat dupa juga berkembang dalam tradisi spiritual lainnya.

Para pendeta Buddha Mahayana sejak abad ke-16 telah meyakini bahwa dupa dapat membantu memperbaiki suasana hati, mengendalikan pikiran negatif, meningkatkan kewaspadaan, serta menciptakan ketenangan di tengah kesibukan hidup.

Seiring perkembangan zaman, keyakinan tersebut mulai mendapatkan dukungan dari penelitian ilmiah. Meski demikian, penggunaannya tetap perlu diperhatikan. 

Baca Juga: Syekh Ali Jaber Wafat, Pembawa Kesejukkan yang Gemar Gubal Gaharu Kalbar

Para pendeta Buddha Mahayana tidak menganjurkan penggunaan dupa secara berlebihan, meskipun tetap diperbolehkan digunakan setiap hari.

Dengan sejarah panjang dan beragam fungsi, dupa tidak hanya menjadi simbol ritual, tetapi juga memiliki potensi manfaat bagi keseimbangan emosi dan ketenangan pikiran, selama digunakan secara bijak. (*)

Editor : Chairunnisya
#gaharu #historis #dupa