Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Jemaah Haji Zaman Dulu, Berangkat dengan Kapal Penuh Risiko

Silvina • Selasa, 28 April 2026 | 15:09 WIB
Suasana musim haji tahun 1907 (DOC  JAWA POS)
Suasana musim haji tahun 1907 (DOC JAWA POS)

 

PONTIANAK POST –Menjalankan ibadah haji saat ini jauh lebih mudah berkat pesawat terbang dan fasilitas modern. Namun perjalanan haji zaman dulu menjadi kisah perjuangan luar biasa bagi umat Islam Nusantara.

Seperti diceritakan laman travel haji dan umrah Laraiba berikut ini.

Pada masa kolonia, calon jemaah haji dari wilayah Hindia Belanda harus menempuh perjalanan panjang melalui laut selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan demi sampai ke Tanah Suci Makkah.

Baca Juga: Doa yang Biasa Dibaca Saat Syukuran Haji Lengkap dengan Artinya  

Berangkat Haji dengan Kapal Laut

Pada abad ke-19, mayoritas jemaah haji berangkat menggunakan kapal layar. Waktu tempuh perjalanan bisa mencapai  40 hingga 49 hari,  tergantung cuaca dan kondisi laut.

Ketika kapal uap mulai digunakan pada awal abad ke-20, perjalanan menjadi lebih cepat, sekitar 19 hingga 25 hari.

Baca Juga: Gubernur Kalbar Ingatkan Jemaah Haji Siapkan Fisik Prima Jelang Wukuf di Arafah

Meski demikian, perjalanan tetap terasa panjang karena kapal kerap singgah di berbagai pelabuhan untuk mengisi logistik atau menunggu cuaca membaik.

Bekal Harus Disiapkan Sejak Lama

Berbeda dengan masa kini, jemaah dahulu harus menyiapkan segala kebutuhan secara mandiri.

Baca Juga: Dari Sekadau ke Pontianak, Perjalanan Duka 8 Jenazah Korban Helikopter PK-CFX Berakhir di RS Bhayangkara

Mereka membawa persediaan makanan, air minum, obat-obatan sederhana, pakaian secukupnya

dan biaya hidup selama berbulan-bulan.

Banyak keluarga juga harus menjual aset atau menabung bertahun-tahun demi bisa berangkat haji.

Baca Juga: Pemerintah Minta WNI Tunda Perjalanan Ke Timur Tengah, Mohon Jemaah Umrah Kalbar Tenang

Risiko Sakit dan Wafat di Tengah Laut

Perjalanan haji zaman dulu tidak hanya lama, tetapi juga penuh risiko.Kepadatan penumpang, sanitasi terbatas, serta fasilitas kesehatan minim membuat banyak jemaah jatuh sakit selama perjalanan.

Wabah penyakit juga menjadi ancaman serius. Jika ada jemaah wafat di tengah laut, jenazah biasanya dimakamkan di laut sesuai prosedur pada masa itu.

Baca Juga: Lepas Jemaah Haji KBIHU Kalbar, Gubernur Norsan Ingatkan Jaga Fisik dan Niat

Pengawasan Pemerintah Kolonial

Pemerintah kolonial Belanda mengatur ketat arus keberangkatan haji dari Hindia Belanda.

Berbagai regulasi dibuat untuk mengawasi jemaah yang pergi dan pulang dari Tanah Suci. Selain alasan administrasi, pengawasan itu juga terkait kekhawatiran penyebaran gagasan perlawanan kolonial dari Timur Tengah.

Baca Juga: Hampir 10 Ribu Jemaah Haji Tiba di Madinah, Layanan Makkah Route Percepat Proses Kedatangan

Karena itu, perjalanan haji kala itu tidak sekadar ibadah, tetapi juga berkaitan dengan situasi politik penjajahan.

Keteguhan Iman Jemaah Tempo Dulu

Meski perjalanan berat, umat Islam Nusantara tetap berangkat dengan semangat tinggi. Banyak yang rela menempuh risiko besar demi memenuhi rukun Islam kelima.

Bagi sebagian orang, haji saat itu bahkan menjadi perjalanan seumur hidup yang penuh harapan dan pengorbanan.

Baca Juga: Tanda-Tanda Ibadah Ramadan Diterima, Cek Apakah Anda Mengalaminya

Kini Jauh Lebih Mudah

Saat ini, perjalanan haji dari Indonesia ke Arab Saudi dapat ditempuh sekitar 9 hingga 12 jam dengan pesawat.

Fasilitas kesehatan, transportasi, dan manajemen jemaah pun jauh lebih baik dibanding masa lalu.

Baca Juga: Bupati Ketapang Serahkan Hibah Rp10 Miliar, Prioritaskan Rumah Ibadah dan Operasional Organisasi

Kesimpulan

Perjalanan haji zaman dulu adalah bukti kuatnya iman umat Islam terdahulu. Mereka rela berlayar berminggu-minggu, menghadapi sakit, cuaca buruk, hingga risiko wafat di tengah laut demi memenuhi panggilan Allah.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa ibadah haji dahulu membutuhkan perjuangan yang luar biasa.

Editor : Silvina
#haji #perjalanan