PONTIANAK POST –Menjalankan ibadah haji saat ini jauh lebih mudah berkat pesawat terbang dan fasilitas modern. Namun perjalanan haji zaman dulu menjadi kisah perjuangan luar biasa bagi umat Islam Nusantara.
Seperti diceritakan laman travel haji dan umrah Laraiba berikut ini.
Pada masa kolonia, calon jemaah haji dari wilayah Hindia Belanda harus menempuh perjalanan panjang melalui laut selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan demi sampai ke Tanah Suci Makkah.
Baca Juga: Doa yang Biasa Dibaca Saat Syukuran Haji Lengkap dengan Artinya
Berangkat Haji dengan Kapal Laut
Pada abad ke-19, mayoritas jemaah haji berangkat menggunakan kapal layar. Waktu tempuh perjalanan bisa mencapai 40 hingga 49 hari, tergantung cuaca dan kondisi laut.
Ketika kapal uap mulai digunakan pada awal abad ke-20, perjalanan menjadi lebih cepat, sekitar 19 hingga 25 hari.
Baca Juga: Gubernur Kalbar Ingatkan Jemaah Haji Siapkan Fisik Prima Jelang Wukuf di Arafah
Meski demikian, perjalanan tetap terasa panjang karena kapal kerap singgah di berbagai pelabuhan untuk mengisi logistik atau menunggu cuaca membaik.
Bekal Harus Disiapkan Sejak Lama
Berbeda dengan masa kini, jemaah dahulu harus menyiapkan segala kebutuhan secara mandiri.
Mereka membawa persediaan makanan, air minum, obat-obatan sederhana, pakaian secukupnya
dan biaya hidup selama berbulan-bulan.
Banyak keluarga juga harus menjual aset atau menabung bertahun-tahun demi bisa berangkat haji.
Baca Juga: Pemerintah Minta WNI Tunda Perjalanan Ke Timur Tengah, Mohon Jemaah Umrah Kalbar Tenang
Risiko Sakit dan Wafat di Tengah Laut
Perjalanan haji zaman dulu tidak hanya lama, tetapi juga penuh risiko.Kepadatan penumpang, sanitasi terbatas, serta fasilitas kesehatan minim membuat banyak jemaah jatuh sakit selama perjalanan.
Wabah penyakit juga menjadi ancaman serius. Jika ada jemaah wafat di tengah laut, jenazah biasanya dimakamkan di laut sesuai prosedur pada masa itu.
Baca Juga: Lepas Jemaah Haji KBIHU Kalbar, Gubernur Norsan Ingatkan Jaga Fisik dan Niat
Pengawasan Pemerintah Kolonial
Pemerintah kolonial Belanda mengatur ketat arus keberangkatan haji dari Hindia Belanda.
Berbagai regulasi dibuat untuk mengawasi jemaah yang pergi dan pulang dari Tanah Suci. Selain alasan administrasi, pengawasan itu juga terkait kekhawatiran penyebaran gagasan perlawanan kolonial dari Timur Tengah.
Baca Juga: Hampir 10 Ribu Jemaah Haji Tiba di Madinah, Layanan Makkah Route Percepat Proses Kedatangan
Karena itu, perjalanan haji kala itu tidak sekadar ibadah, tetapi juga berkaitan dengan situasi politik penjajahan.
Keteguhan Iman Jemaah Tempo Dulu
Meski perjalanan berat, umat Islam Nusantara tetap berangkat dengan semangat tinggi. Banyak yang rela menempuh risiko besar demi memenuhi rukun Islam kelima.
Bagi sebagian orang, haji saat itu bahkan menjadi perjalanan seumur hidup yang penuh harapan dan pengorbanan.
Baca Juga: Tanda-Tanda Ibadah Ramadan Diterima, Cek Apakah Anda Mengalaminya
Kini Jauh Lebih Mudah
Saat ini, perjalanan haji dari Indonesia ke Arab Saudi dapat ditempuh sekitar 9 hingga 12 jam dengan pesawat.
Fasilitas kesehatan, transportasi, dan manajemen jemaah pun jauh lebih baik dibanding masa lalu.
Baca Juga: Bupati Ketapang Serahkan Hibah Rp10 Miliar, Prioritaskan Rumah Ibadah dan Operasional Organisasi
Kesimpulan
Perjalanan haji zaman dulu adalah bukti kuatnya iman umat Islam terdahulu. Mereka rela berlayar berminggu-minggu, menghadapi sakit, cuaca buruk, hingga risiko wafat di tengah laut demi memenuhi panggilan Allah.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa ibadah haji dahulu membutuhkan perjuangan yang luar biasa.
Editor : Silvina