PONTIANAK POST - Tim arkeolog di Seyitomer Hoyuk, Turki barat, mengidentifikasi sisa kayu hangus yang diduga sebagai pintu rumah dari Zaman Perunggu Tengah, berusia hampir 4.000 tahun.
Temuan langka ini memberi gambaran langsung tentang bagaimana manusia kuno mengatur akses, keamanan, dan ruang hidup mereka.
Penelitian yang dipimpin arkeolog Semra Kaygısız dan dipublikasikan dalam Dumlupınar University Journal of Social Sciences mengungkap bahwa fragmen kayu tersebut ditemukan di lantai bangunan dan memiliki bentuk menyerupai daun pintu tunggal.
Baca Juga: Ungkap Sejarah Sejarah Pemerintah Kayong Utara, Pemkab Datangkan Sejarahwan dan Arkeologi
Ini menjadi bukti fisik yang jarang ditemukan, mengingat material organik biasanya telah lapuk dimakan waktu.
“Ini bukan sekadar potongan kayu biasa. Posisi, ukuran, dan keterkaitannya dengan bukaan pintu menunjukkan bahwa benda ini dulunya adalah pintu,” tulis Kaygısız dalam studinya.
Selama ini, arkeolog umumnya hanya merekonstruksi keberadaan pintu dari elemen tidak langsung seperti ambang, lubang tiang, atau batu engsel.
Namun di situs ini, sisa pintu kayu berhasil diidentifikasi secara langsung.
Baca Juga: Wagub Kalbar Kunjungi Situs Raja Mawikng, Siapkan Anggaran untuk Pengembangan Cagar Budaya
Fragmen tersebut ditemukan di tiga bangunan berbeda, C70, B23, dan B36, dengan ukuran berkisar antara 0,64 hingga 1,59 meter.
Bentuknya berupa papan-papan kayu yang tersusun dan hangus, diduga akibat kebakaran yang pernah melanda permukiman tersebut.
Menariknya, dari total 174 bangunan Zaman Perunggu di situs ini, hanya tiga yang menyimpan sisa pintu kayu, menjadikannya temuan yang sangat langka dalam dunia arkeologi.
Situs Seyitomer Hoyuk telah digali sejak 1989 dan menyimpan lapisan sejarah panjang, mulai dari era Romawi hingga Zaman Perunggu Awal.
Pada lapisan Zaman Perunggu Tengah, ditemukan berbagai struktur seperti rumah, jalan, tungku, hingga area produksi.
Keberadaan pintu ini memberi petunjuk penting tentang kehidupan sehari-hari, yakni bagaimana ruang dipisahkan, bagaimana privasi dijaga, hingga bagaimana aktivitas domestik berlangsung.
Posisi pintu yang ditemukan di lantai menunjukkan kemungkinan pintu terbuka ke dalam sebelum akhirnya roboh.
Penelitian juga mencatat bahwa pintu-pintu ini kemungkinan dibuat dari papan kayu yang disatukan tanpa logam, melainkan menggunakan pasak kayu atau teknik organik lainnya.
Temuan ini memperkaya pemahaman tentang arsitektur kuno di Anatolia, melengkapi situs lain seperti Kultepe dan Bogazkoy yang juga menunjukkan jejak struktur pintu, meski tanpa bukti kayu yang utuh.
“Sebuah pintu mungkin tampak sederhana, tetapi dalam arkeologi, ia bisa menjelaskan privasi, keamanan, hingga struktur sosial,” tulis Kaygısız.(*)
Editor : Budi Miank