Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Dari Disambut hingga Dibenci, Begini Sejarah Jepang di Indonesia

Silvina • Rabu, 13 Mei 2026 | 14:54 WIB
Ilustrasi sejarah Jepang di Indonesia
Ilustrasi sejarah Jepang di Indonesia

 

PONTIANAK POST-Kedatangan Jepang ke Indonesia pada tahun 1942 menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah bangsa. Setelah Belanda berkuasa selama ratusan tahun, Jepang berhasil mengambil alih Hindia Belanda dalam waktu singkat.

Pada awalnya, banyak rakyat Indonesia menyambut baik kedatangan Jepang. Namun seiring berjalannya waktu, sikap tersebut berubah menjadi kebencian akibat berbagai tindakan penindasan yang dilakukan pemerintah militer Jepang.

Awal Kedatangan Jepang ke Indonesia

Baca Juga: Yamaha YZF-R3/R25 Produksi Yamaha Indonesia, Raih Penghargaan Internasional Prestisius di Jepang

Dilansir dari laman zenius education, sebelum masuk ke Indonesia, Jepang lebih dulu melakukan ekspansi besar-besaran di kawasan Asia-Pasifik.

Saat itu Jepang sedang memperluas kekuasaan politik dan militernya. Mereka mencari wilayah-wilayah strategis yang dapat mendukung kebutuhan perang dan industri Jepang.

Pada tahun 1941, Jepang berhasil mengambil alih wilayah Indochina di Vietnam. Namun langkah tersebut memicu konflik dengan Amerika Serikat yang kemudian menghentikan pasokan minyak ke Jepang melalui embargo ekonomi.

Baca Juga: Yamaha YZF-R3/R25 Produksi Yamaha Indonesia, Raih Penghargaan Internasional Prestisius di Jepang

Kondisi ini membuat Jepang kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk kebutuhan perang dan industrinya. Karena itulah Jepang mulai melirik Indonesia yang dikenal kaya akan sumber minyak bumi.

Jepang akhirnya mendarat pertama kali di Tarakan, Kalimantan, pada 11 Januari 1942. Setelah itu, satu per satu wilayah Indonesia berhasil mereka kuasai.

Perjanjian Kalijati dan Berakhirnya Kekuasaan Belanda

Baca Juga: Fakta Perjanjian Roem Royen, Diplomasi Sengit yang Mengubah Nasib Republik Indonesia

Kekuatan Belanda di Indonesia semakin melemah setelah serangan Jepang terus berlangsung. Pada Maret 1942, Belanda akhirnya menyerah tanpa syarat kepada Jepang melalui Perjanjian Kalijati.

Sejak saat itu, Indonesia resmi berada di bawah kekuasaan Jepang. Peristiwa tersebut menjadi akhir dari penjajahan Belanda dan awal masa pendudukan Jepang di Indonesia.

Jepang Datang dengan Propaganda “Saudara Tua”

Baca Juga: Netanyahu Sempat Rahasiakan Kanker Prostat: Tak Ingin Jadi Bahan Propaganda Iran

Pada awal pendudukan, Jepang berusaha menarik simpati rakyat Indonesia. Mereka memperkenalkan propaganda sebagai “saudara tua” bagi bangsa Asia melalui Gerakan 3A.

Gerakan tersebut berisi slogan: “Jepang Cahaya Asia, Jepang Pemimpin Asia, Jepang Pelindung Asia.” Selain itu, Jepang juga menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia.

Perdana Menteri Jepang, Kuniaki Koiso, bahkan pernah mengumumkan janji kemerdekaan Indonesia pada 7 September 1944. Jepang juga membolehkan penggunaan Bahasa Indonesia dan bendera merah putih dalam beberapa kegiatan.

Baca Juga: Yamaha YZF-R3/R25 Produksi Yamaha Indonesia, Raih Penghargaan Internasional Prestisius di Jepang

Hal ini membuat sebagian rakyat Indonesia percaya bahwa Jepang benar-benar ingin membantu perjuangan kemerdekaan.

Tokoh Nasional Ada yang Mendukung dan Curiga

Beberapa tokoh nasional seperti Ir.Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hajar Dewantara sempat bekerja sama dengan Jepang melalui organisasi seperti PUTERA dan Jawa Hokokai.

Baca Juga: Bertemu Tokoh Nasional di Acara OSO, Alex Bawa Semangat Kolaborasi untuk Ketapang

Namun tidak semua tokoh percaya kepada Jepang. Beberapa tokoh seperti Sam Ratulangi dan H.M. Thamrin justru curiga bahwa Jepang memiliki tujuan tersembunyi di balik sikap manis mereka kepada rakyat Indonesia. Kecurigaan tersebut ternyata benar.

Romusha dan Penderitaan Rakyat Indonesia

 Lama-kelamaan, rakyat Indonesia mulai merasakan kerasnya pendudukan Jepang. Salah satu kebijakan paling menyengsarakan adalah romusha atau kerja paksa.

Baca Juga: Pejuang Kemerdekaan dari Borneo Barat, Dua Pahlawan Nasional Gigih Melawan Penjajah

Banyak rakyat, terutama laki-laki muda, dipaksa bekerja membangun jalan, rel kereta, hingga fasilitas perang dalam kondisi yang sangat buruk.

Tidak sedikit yang meninggal dunia akibat kelaparan, penyakit, dan kelelahan. Selain romusha, Jepang juga sering merampas hasil pertanian rakyat sehingga banyak masyarakat mengalami kelaparan.

Perempuan Indonesia pun banyak yang dijadikan jugun ianfu atau perempuan penghibur bagi tentara Jepang.

Baca Juga: Peringati Hari Kartini, Astra Motor Kalbar Edukasi Safety Riding untuk Perempuan

Rakyat Indonesia Mulai Membenci Jepang

Berbagai penderitaan tersebut akhirnya memunculkan kebencian rakyat Indonesia terhadap Jepang.

Masyarakat menyadari bahwa Jepang tidak benar-benar datang untuk membebaskan Indonesia, melainkan demi kepentingan perang dan kekuasaan mereka sendiri.

Baca Juga: Presiden Prabowo Sebut Indonesia Negara Nomor Satu dengan Rakyat Paling Bahagia

Meski demikian, masa pendudukan Jepang juga memberi pengalaman penting bagi bangsa Indonesia, terutama dalam membangun semangat nasionalisme dan persiapan menuju kemerdekaan.

Pelajaran Penting dari Pendudukan Jepang

Sejarah kedatangan Jepang ke Indonesia menjadi pelajaran penting penjajahan dalam bentuk apa pun tetap membawa penderitaan bagi rakyat.

Baca Juga: DPD ARUN Kalbar Gelar Aksi Pendudukan Lahan di Tiga Desa Ketapang

Di balik janji manis dan propaganda, Jepang ternyata tetap menjalankan praktik penindasan demi kepentingan mereka sendiri.

Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia lahir dari pengorbanan besar rakyat yang tidak ingin terus hidup di bawah penjajahan bangsa asing.

 

 

Editor : Silvina
#saudara tua #sejarah #indonesia #jepang #penjajah