PONTIANAK POST – Kota kuno Pompeii menjadi salah satu saksi paling terkenal dalam sejarah dunia setelah terkubur letusan dahsyat Gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi. Selama berabad-abad, kota ini menyimpan misteri tentang kehidupan masyarakatnya yang mendadak lenyap akibat bencana besar tersebut.
Dilansir dari National Geographic pada tahun 2024, penelitian terbaru terhadap DNA korban letusan Gunung Vesuvius mengungkap fakta baru mengenai identitas asli penduduk Pompeii kuno.
Pompeii Tumbuh di Dekat Gunung Vesuvius
Baca Juga: Kota Pompeii yang Musnah Mendadak, Benarkah Mirip Kisah Kaum Nabi Luth?
Sejarah Pompeii diperkirakan bermula pada abad ke-8 sebelum Masehi ketika masyarakat Oscan membangun permukiman kecil di wilayah subur dekat Gunung Vesuvius.
Kesuburan tanah membuat kawasan tersebut berkembang pesat hingga akhirnya menjadi bagian penting dari wilayah Campania di bawah Kekaisaran Romawi.
Meski berada di selatan Italia, Pompeii dikenal sebagai kota yang berkembang maju dengan budaya yang kaya dan kehidupan perdagangan yang aktif. Namun, kehidupan kota itu berubah total saat Gunung Vesuvius meletus pada tahun 79 Masehi.
Baca Juga: Jejak Kota Sodom di Tepi Laut Mati, Benarkah Bekas Kaum Nabi Luth?
Letusan Gunung Vesuvius Mengubur Seluruh Kota
Letusan besar Gunung Vesuvius menyebabkan hujan abu vulkanik, batu kecil, dan material panas yang menimbun seluruh kota Pompeii.
Ribuan penduduk tidak sempat menyelamatkan diri dan akhirnya terkubur bersama bangunan-bangunan megah khas Romawi kuno.
Baca Juga: Kisah Kaum Nabi Luth Ternyata Bukan Hanya Tentang Homoseksualitas Saja
Kisah tragedi tersebut banyak diketahui dari catatan Plinius Muda, penulis Romawi yang menggambarkan detail letusan Vesuvius sekitar 25 tahun setelah kejadian.
Dalam suratnya, Plinius Muda juga menceritakan kematian pamannya, Plinius Tua, yang meninggal saat berusaha menolong korban erupsi.
Penelitian DNA Ungkap Fakta Baru Penduduk Pompeii
Selama ini para sejarawan menduga Pompeii merupakan kota kosmopolitan yang dihuni berbagai kelompok masyarakat, bukan hanya orang Italia asli. Dugaan itu diperkuat dengan adanya peninggalan budaya Latin dan Yunani di kawasan tersebut.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology pada 7 November 2024 semakin memperjelas identitas penduduk Pompeii.
Tim peneliti mengekstraksi DNA dari sisa-sisa kerangka yang ditemukan di 14 dari 86 cetakan tubuh korban letusan Vesuvius.
Baca Juga: Dari Budi Utomo hingga Indonesia Modern, Ini Sejarah Harkitnas
Hasilnya menunjukkan sebagian besar penduduk Pompeii ternyata memiliki garis keturunan imigran dari kawasan Mediterania Timur.
Banyak Asumsi Lama Ternyata Keliru
Penelitian tersebut juga mengungkap banyak asumsi lama tentang identitas korban ternyata tidak sesuai dengan fakta ilmiah.
Baca Juga: Bupati Ontot Berang Lihat PETI Kapuas-Sekayam, Peringatkan Bencana Besar Bila Terus Dibiarkan
Selama ini, para arkeolog sering menafsirkan jenis kelamin korban berdasarkan penampilan fisik atau benda yang ditemukan di sekitar jasad.
Misalnya, kerangka yang mengenakan gelang emas kerap dianggap perempuan. Namun hasil analisis DNA justru menunjukkan beberapa di antaranya merupakan laki-laki.
Ada pula temuan sosok dewasa yang memeluk anak kecil dan selama ini dianggap ibu dan anak, padahal secara biologis keduanya tidak memiliki hubungan keluarga.
Baca Juga: Sejarah Kelam Jazirah Arab Sebelum Dakwah Nabi Muhammad Menyebar
“Data ilmiah yang kami berikan tidak selalu sejalan dengan asumsi umum,” kata David Reich dari Harvard University dalam penelitian tersebut.
Teknologi Modern Membantu Membaca Sejarah
Penelitian ini menunjukkan bagaimana teknologi genetika modern membantu membuka kembali sejarah yang selama ini hanya didasarkan pada dugaan visual.
Baca Juga: Sejarah Ka’bah di Makkah dan Peran Lima Gunung Pilihan
Menurut antropolog University of Florence, David Caramelli, analisis DNA memberikan pemahaman baru tentang kehidupan masyarakat Pompeii sebelum bencana terjadi.
Selain identitas etnis, penelitian ini juga membantu memahami hubungan sosial, budaya, hingga struktur keluarga masyarakat Romawi kuno.
Pompeii Jadi Jendela Kehidupan Romawi Kuno
Baca Juga: Sejarah Bendera Indonesia dan Makna Mendalam Dibalik Warna Merah Putih
Pompeii pertama kali ditemukan kembali pada tahun 1748 ketika pekerja menggali area pembangunan Istana Musim Panas Raja Napoli Charles dari Bourbon.
Sejak saat itu, kota ini menjadi salah satu situs arkeologi paling penting di dunia. Proses pengawetan menggunakan plester yang dilakukan pada abad ke-19 membantu mempertahankan bentuk tubuh korban letusan, meski diduga ikut memengaruhi interpretasi posisi jasad.
Kini, dengan bantuan teknologi DNA dan bioarkeologi modern, para ilmuwan semakin mampu memahami kisah nyata di balik tragedi besar yang mengubur Pompeii hampir dua ribu tahun lalu.
Editor : Silvina