PONTIANAK POST– Kota kecil Grasse di selatan Prancis bukan sekadar destinasi wisata penuh aroma wangi. Di balik jalan-jalan batu yang sempit dan bangunan tua bergaya Eropa klasik, tersimpan sejarah panjang yang menjadikan kota ini dikenal sebagai ibukota parfum dunia.
Peneliti dan penulis sejarah Kalbar, Syafaruddin Daeng Usman, membagikan pengalaman sekaligus perspektif sejarah saat mengunjungi Grasse bersama istrinya dalam perjalanan mereka di Prancis.
Menurut Syafaruddin, Grasse adalah contoh bagaimana sebuah kota kecil mampu membangun identitas global melalui tradisi, perdagangan, dan inovasi budaya selama ratusan tahun.
Baca Juga: Menyusuri Istana Versailles di Prancis, Kisah Cinta Louis XVI yang Berakhir Tragis
Berawal dari Kota Pengrajin Kulit
Jauh sebelum terkenal sebagai pusat parfum dunia, Grasse lebih dahulu berkembang sebagai kota pengrajin kulit pada Abad Pertengahan.
Saat itu, kota ini menjadi salah satu pusat perdagangan penting di kawasan Eropa selatan. Para pengrajin kulit menghasilkan berbagai perlengkapan, termasuk sarung tangan yang banyak digunakan kaum bangsawan.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Migran Indonesia di Belanda yang Kini Jadi Masyarakat Multikultural
Namun ada satu persoalan besar pada masa itu, yakni aroma kulit yang dianggap kurang sedap. Dari sinilah lahir kebiasaan memberi wewangian pada produk kulit, terutama sarung tangan. Kebiasaan tersebut kemudian berkembang menjadi industri parfum yang semakin besar.
Iklim dan Bunga Menjadi Kekuatan Utama
Secara geografis, Grasse memiliki iklim Mediterania yang sangat mendukung pertumbuhan tanaman aromatik.
Baca Juga: Jejak Van Houten, Penemu Cokelat Bubuk yang Mengubah Cara Dunia Menikmati Kakao
Berbagai bunga seperti mawar, melati, lavender, hingga bunga jeruk tumbuh subur di kawasan itu.
Syafaruddin menuturkan, kota tersebut bahkan memiliki hubungan perdagangan bahan parfum dengan banyak negara sejak ratusan tahun lalu.
“Bunga, buah, akar, daun, kayu, dan getah untuk bahan parfum didatangkan dari seluruh pelosok dunia,” tulisnya. Tak hanya dari Eropa, beberapa bahan parfum juga berasal dari Asia, termasuk Indonesia.
Baca Juga: Menilik Sejarah Makam Keramat Kepiting di Mempawah, Sempat Jadi Lokasi Wisata Religi dan Pantai
Jejak Indonesia di Industri Parfum Dunia
Salah satu hal menarik yang ditemukan Syafaruddin di museum parfum Fragonard adalah keberadaan bahan-bahan asal Indonesia dalam komposisi parfum dunia.
Cendana dan lada dari Indonesia serta Malaysia ternyata menjadi bagian penting dalam racikan parfum internasional.
Baca Juga: Wangi Mewah, Harga Murah: Buat Parfum dengan Bahan Sederhana Hanya 500 Perak!
Selain itu, bunga yang-ylang yang terkenal di dunia parfum ternyata adalah bunga kenanga yang akrab di Indonesia.
Hal ini menunjukkan sejarah parfum dunia juga memiliki keterkaitan dengan jalur perdagangan rempah dan tanaman aromatik Nusantara sejak masa lampau.
Revolusi Industri Parfum di Abad ke-18
Baca Juga: Camavinga Dicoret, Deschamps Pertaruhkan Generasi Baru Prancis di Piala Dunia
Memasuki abad ke-18, industri parfum di Grasse berkembang semakin profesional.Para pembuat parfum mulai memisahkan diri dari profesi pengrajin kulit dan fokus mengembangkan seni meracik aroma.
Sejak saat itu, Grasse berubah menjadi pusat industri parfum terbesar di Eropa. Nama-nama besar seperti Fragonard, Molinard, dan Galimard lahir dan bertahan hingga kini sebagai simbol kejayaan industri parfum Prancis.
Kota Kecil dengan Pengaruh Mendunia
Baca Juga: Kota Kecil dan Desa Besar, di Mana Letak Perbedaannya?
Meski berukuran kecil, pengaruh Grasse dalam dunia parfum sangat besar. Di kota ini, lahir profesi khusus bernama le-nez atau “hidung”, yakni para ahli penciuman yang mampu menciptakan harmoni aroma dari ratusan bahan berbeda.
Mereka bekerja seperti seniman, memadukan aroma bunga, kayu, buah, hingga rempah menjadi parfum yang dipakai masyarakat dunia.
Menariknya, untuk menghasilkan satu kilogram sari melati, diperlukan sekitar 10 juta bunga melati. Sementara empat ribu kilogram mawar damascena hanya menghasilkan satu kilogram minyak esensial parfum.
Baca Juga: Andalusia dan Warisan Peradaban Islam yang Mencerahkan Eropa hingga Kini
Wisata Sejarah dan Budaya Aroma Dunia
Bagi Syafaruddin, perjalanan ke Grasse bukan hanya wisata biasa, tetapi juga perjalanan memahami sejarah peradaban manusia melalui aroma.
Di kota itu, sejarah perdagangan, seni, teknologi, dan budaya bertemu dalam satu identitas bernama parfum. “Berbagai wewangian sari bahan-bahan dari seluruh dunia dipersatukan di Grasse,” tulisnya.
Kini, Grasse tetap menjadi simbol sejarah panjang industri parfum dunia, sekaligus bukti bahwa sebuah kota kecil dapat meninggalkan pengaruh besar bagi peradaban global.
Editor : Silvina