PONTIANAK POST – Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga berperan sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan pembinaan masyarakat. Peran tersebut terlihat jelas pada Masjid Jami’atus Sholihin yang berada di Desa Tanjung Saleh, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.
Demikian hasil penelitian yang dilakukan oleh dosen IAIN Pontianak yang dipublis di laman digilib.iainptk.ac.id,. Para peneliti terdiri dari Patmawati, Elmansyah, Ibrahim, Syarif Ali Alkadri, dan Rafika Sari tahun 2023.
Menurut hasil penellitian mereka, masjid ini memiliki sejarah panjang dalam perkembangan dakwah Islam di wilayah pesisir Kalimantan Barat.
Baca Juga: Mengungkap Sejarah Masjid Batu Teluk Pakedai yang Dibangun Tanpa Kayu
Penelitian berjudul Peran Masjid Jami’atus Sholihin Dalam Pengembangan Dakwah di Tanjung Saleh Kecamatan Sungai Kakap dalam Tinjauan Sejarah Dakwah tersebut bertujuan mengungkap sejarah berdirinya masjid. Penelitian ini juga bertujuan untuk melihat aktivitas dakwah yang dijalankan, serta kontribusinya terhadap perkembangan dakwah dari masa ke masa.
Berdiri pada Masa Kesultanan Pontianak
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masjid Jami’atus Sholihin merupakan masjid tertua di Desa Tanjung Saleh.
Baca Juga: Begini Sejarah Penetapan Tahun Baru Islam dan Kalender Hijriah yang Mendunia
Masjid ini didirikan pada masa pemerintahan Sultan Pontianak keenam, yakni Syarif Muhammad Al Kadrie. Keberadaannya menjadi salah satu bukti penyebaran Islam yang berlangsung di kawasan pesisir Sungai Kakap sejak masa Kesultanan Pontianak.
Selama lebih dari dua abad, masjid ini tetap menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat setempat dan terus mengalami perkembangan mengikuti kebutuhan zaman.
Tidak Hanya Tempat Salat
Baca Juga: Perjanjian Hudaibiyah, Strategi Damai Rasulullah yang Mengubah Sejarah Islam
Penelitian tersebut menemukan aktivitas yang berlangsung di Masjid Jami’atus Sholihin tidak terbatas pada pelaksanaan ibadah salat berjamaah. Masjid ini juga menjadi pusat berbagai kegiatan dakwah yang meliputi:
- Majelis taklim dan pengajian rutin.
- Kegiatan pendidikan keagamaan.
- Pembinaan generasi muda Islam.
- Aktivitas sosial kemasyarakatan.
- Kegiatan keagamaan pada hari-hari besar Islam.
Keberadaan berbagai program tersebut menjadikan masjid sebagai ruang pembelajaran dan pembinaan umat yang aktif hingga saat ini.
Baca Juga: Mengenal H. Ismail Mundu, Pendiri Masjid Batu Teluk Pakedai yang Dibangun Tanpa Kayu (bagian 1)
Peran Penting dalam Pengembangan Dakwah
Dalam rentang waktu 1812 hingga 2023, Masjid Jami’atus Sholihin mengalami perubahan yang signifikan dalam pengelolaan dakwah.
Penelitian mencatat pengembangan dakwah berjalan semakin baik seiring terbentuknya kepengurusan yang lebih terorganisasi. Program-program dakwah tidak lagi dilaksanakan secara sederhana, melainkan dirancang melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang lebih sistematis.
Baca Juga: Pemkab Kayong Utara Serahkan Sapi Kurban Bantuan Presiden untuk Masjid Jami Qudsy
Hal ini menunjukkan adanya transformasi fungsi masjid dari sekadar tempat ibadah menjadi pusat pemberdayaan masyarakat berbasis keagamaan.
Strategi Dakwah yang Terus Dikembangkan
Salah satu temuan penting dalam penelitian tersebut adalah adanya strategi dakwah yang terus diperbarui sesuai perkembangan masyarakat.
Baca Juga: Mengenal H. Ismail Mundu, Pendiri Masjid Batu Teluk Pakedai yang Dibangun Tanpa Kayu (bagian 2)
Perencanaan jangka pendek diwujudkan melalui pelaksanaan majelis taklim dan berbagai kegiatan pembinaan umat. Sementara itu, program jangka panjang difokuskan pada pendidikan Alquran melalui Taman Pendidikan Alquran (TPA) bagi anak-anak.
Pengurus masjid juga berupaya menumbuhkan rasa memiliki terhadap masjid, baik di kalangan jemaah maupun para juru dakwah yang terlibat dalam kegiatan keagamaan.
Selain mempertahankan tradisi dakwah yang telah berjalan selama bertahun-tahun, Masjid Jami’atus Sholihin juga mulai menerapkan pendekatan dakwah kontemporer agar pesan-pesan Islam lebih mudah diterima oleh masyarakat lintas generasi.
Baca Juga: Mengapa Islam Cepat Berkembang di Nusantara? Ini Sejarah dan Cara Penyebarannya
Menjadi Simbol Dakwah Islam di Sungai Kakap
Keberadaan Masjid Jami’atus Sholihin menunjukkan bagaimana sebuah masjid dapat menjadi pusat pembangunan umat yang berkelanjutan.
Dari masa Kesultanan Pontianak hingga era modern, masjid ini terus menjalankan fungsi dakwah, pendidikan, dan sosial secara bersamaan. Perjalanan panjang tersebut menjadikan Masjid Jami’atus Sholihin tidak hanya sebagai bangunan bersejarah, tetapi juga simbol perkembangan dakwah Islam di Desa Tanjung Saleh dan Kecamatan Sungai Kakap secara umum.
Penelitian para dosen IAIN Pontianak tersebut memperlihatkan pengelolaan masjid yang baik, didukung perencanaan program yang matang dan keterlibatan masyarakat, mampu menjaga keberlangsungan dakwah dari generasi ke generasi.
.
Editor : Silvina