Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Tragedi Mandor Ternyata Berawal dari Serangan “Kapal Terbang Sembilan” di Pontianak 1941

Silvina • Kamis, 25 Juni 2026 | 11:09 WIB
Syafaruddin Daeng Usman di selasar Monumen Makam Juang Mandor di Mandor Landak Kalimantan Barat
Syafaruddin Daeng Usman di selasar Monumen Makam Juang Mandor di Mandor Landak Kalimantan Barat

 

PONTIANAK POST – Peristiwa “Kapal Terbang Sembilan” pada 19 Desember 1941 menjadi salah satu titik awal penting dalam rangkaian panjang pendudukan Jepang di Kalimantan Barat yang kelak bermuara pada Tragedi Mandor 1944. Serangan udara ini tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga membuka jalan bagi perubahan besar dalam peta kekuasaan di wilayah Hindia Belanda.

Awal Strategi Besar Jepang di Asia Tenggara

Menurut Syafaruddin Daeng Usman, peminat kajian sejarah Kalimantan Barat, Jepang pada akhir 1941 telah memasuki fase ofensif besar dalam Perang Asia Timur Raya. Setelah berbagai kemenangan di Pasifik dan Asia Tenggara, Jepang mulai menyusun strategi untuk merebut wilayah Hindia Belanda yang kaya sumber daya, terutama minyak.

Baca Juga: Di Balik Tragedi Mandor 1944, Tersimpan Luka Sejarah Terbesar Kalimantan Barat

Dalam strategi tersebut, Kalimantan menjadi wilayah penting karena letaknya yang strategis di jalur perdagangan Asia Tenggara serta kekayaan alamnya yang melimpah. Kalimantan Barat bahkan menjadi salah satu target awal pendudukan militer Jepang.

Serangan Udara 19 Desember 1941 di Pontianak

Pada Jumat, 19 Desember 1941 pukul 11.00 siang, sembilan pesawat tempur Jepang dilaporkan mengebom Kota Pontianak. Sasaran utama serangan adalah kawasan Kampung Bali, Parit Besar, Kampung Melayu, serta tangsi militer Belanda (Fort Du Bus).

Baca Juga: Mengenang Soeharto di Hari Kelahirannya, Dari Kritik Sejarah hingga Gelar Pahlawan Nasional

Serangan mendadak tersebut membuat masyarakat panik dan banyak warga memilih mengungsi ke luar kota untuk menyelamatkan diri. Kondisi kota berubah mencekam dalam waktu singkat.

Pesawat-pesawat Belanda yang berada di Sanggau Ledo sempat melakukan perlawanan dan terjadi pertempuran udara di wilayah Mempawah. Namun kekuatan udara Jepang yang jauh lebih besar membuat situasi semakin tidak seimbang.

Serangan Beruntun dan Kerusakan Infrastruktur

Baca Juga: Kisah Lahirnya Nama Indonesia dan Peran Pemuda dalam Sejarah Kebangsaan

Serangan tidak berhenti pada satu hari. Pada 19, 22, hingga 27 Desember 1941, Kota Pontianak kembali dihujani bom secara bertubi-tubi. Sejumlah wilayah seperti Kampung Bali dan Parit Besar mengalami kebakaran dan kerusakan berat.

Selain itu, sejumlah kapal transportasi sungai yang menjadi urat nadi ekonomi masyarakat juga menjadi sasaran. Kapal Lien dan Irma milik Pontianak River Transport Dienst dilaporkan tenggelam di wilayah Sukalanting. Beberapa kapal lain seperti Sri Kapuas, West Borneo, serta kapal swasta Kong Neng dan Kong Fa juga mengalami nasib serupa.

Serangan ke Singkawang dan Pelemahan Pertahanan Belanda

Baca Juga: Menguak Sejarah dan Akar Persoalan Konflik Palestina Israel

Pada 23 Desember 1941, Jepang kembali melancarkan serangan udara dengan 24 pesawat yang mengebom Lapangan Terbang Singkawang II di Sanggau Ledo. Serangan tersebut merusak landasan pacu dan melumpuhkan kemampuan udara Belanda di wilayah tersebut.

Dalam kondisi terdesak, pesawat-pesawat Belanda kemudian diperintahkan meninggalkan Singkawang II dan bergerak menuju Palembang. Hal ini semakin memperlemah pertahanan kolonial di Kalimantan Barat.

Jalan Menuju Pendudukan dan Tragedi Mandor

Baca Juga: Sejarah Bendera Indonesia dan Makna Mendalam Dibalik Warna Merah Putih

Rangkaian serangan udara ini menjadi awal dari runtuhnya pertahanan Hindia Belanda di Kalimantan Barat. Setelah kekuatan militer melemah, Jepang semakin mudah memperluas kontrol wilayah.

Dalam perkembangan berikutnya, pendudukan Jepang tidak hanya membawa perubahan kekuasaan, tetapi juga berujung pada berbagai kebijakan militer yang keras. Situasi inilah yang kemudian dikaitkan dengan rangkaian peristiwa menuju Tragedi Mandor 1944, salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di Kalimantan Barat.

Penutup

Baca Juga: Dari Budi Utomo hingga Indonesia Modern, Ini Sejarah Harkitnas

Peristiwa “Kapal Terbang Sembilan” bukan sekadar catatan serangan udara, tetapi menjadi awal dari perubahan besar yang menentukan arah sejarah Kalimantan Barat di masa Perang Dunia II. Dampaknya terasa hingga tahun-tahun berikutnya, ketika pendudukan Jepang mencapai puncaknya.


Editor : Silvina
#mandor berdarah #sejarah besar kalbar #kapal terbang sembilan #pontianak #Tragedi Mandor