PONTIANAK POST – Durian dikenal sebagai "raja buah" karena cita rasa dan aromanya yang khas. Namun, di balik popularitasnya, durian ternyata memiliki sejarah panjang dalam peradaban Nusantara. Buah yang berasal dari kawasan Asia Tenggara ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak lebih dari seribu tahun lalu.
Informasi tersebut diungkap dalam tulisan di laman Historia serta diperkuat berbagai catatan sejarah yang menunjukkan durian bukan sekadar buah konsumsi. Tapi juga memiliki nilai budaya, ekonomi, bahkan simbol kemakmuran.
Relief Candi Borobudur Menjadi Bukti Awal
Baca Juga: Punya Darah Tinggi tapi Ingin Makan Durian? Ini Tips Aman yang Perlu Diketahui
Belum ada catatan pasti mengenai siapa yang pertama kali menemukan atau mengonsumsi buah durian (Durio zibethinus). Namun, bukti sejarah menunjukkan masyarakat Nusantara telah mengenal dan menikmati durian sejak masa Jawa kuno.
Salah satu petunjuk paling kuat dapat ditemukan pada relief Candi Borobudur yang dibangun sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi.
Dari ribuan panel relief di candi tersebut, beberapa di antaranya menggambarkan buah durian sebagai bagian dari persembahan kepada raja, barang dagangan, hingga buah yang dibawa bersama hasil bumi lain seperti mangga dan manggis.
Baca Juga: Di Tengah Turunnya Harga Musang King, Durian Lokal Kalbar Punya Peluang Naik Kelas Masuki Premium
Pakar durian Mohamad Reza Tirtawinata, sebagaimana dikutip Historia, menyebut relief tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Nusantara telah mengonsumsi durian sejak sekitar 1.300 tahun yang lalu.
Durian Pernah Menjadi Sajian Kalangan Bangsawan
Selain relief candi, jejak sejarah durian juga ditemukan dalam berbagai prasasti kuno dan naskah kerajaan.
Baca Juga: Durian Tak Lagi Sekadar Buah, Kini Menjadi Magnet Wisata yang Mampu Gerakkan Ekonomi Masyarakat
Dikutip dari laman Selera Nusantara, durian pada masa kerajaan kerap dihidangkan dalam jamuan kalangan bangsawan dan lingkungan istana.
Keberadaan buah ini tidak hanya sebagai makanan, tetapi juga menjadi simbol status sosial dan prestise. Tradisi tersebut menunjukkan durian telah memiliki nilai istimewa sejak masa lampau.
Simbol Kemakmuran dalam Peradaban Nusantara
Dalam berbagai catatan sejarah, durian juga disebut sebagai simbol kemakmuran.Keberadaannya dalam persembahan kerajaan maupun aktivitas perdagangan menunjukkan bahwa buah ini memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi pada zamannya.
Bahkan hingga kini, durian masih sering dianggap sebagai buah istimewa yang dinikmati pada momen-momen tertentu bersama keluarga maupun kerabat.
Makna Filosofis dalam Budaya Jawa dan Melayu
Baca Juga: Benarkah Candi Borobudur Warisan Nabi Sulaiman? Ini Ulasannya
Durian juga memiliki makna filosofis dalam budaya masyarakat Nusantara, khususnya di kalangan Jawa dan Melayu.
Menurut Selera Nusantara, kulit durian yang keras dan penuh duri melambangkan berbagai tantangan hidup yang harus dihadapi manusia.
Sementara itu, daging buahnya yang lembut dan manis dimaknai sebagai hasil dari kesabaran, ketekunan, serta perjuangan dalam menjalani kehidupan.
Baca Juga: Menguji Teori Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman dan Catatan Kritisnya
Filosofi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa durian tidak hanya dipandang sebagai makanan, tetapi juga memiliki nilai simbolis dalam kehidupan masyarakat.
Tradisi Makan Durian yang Terus Bertahan
Hingga saat ini, tradisi makan durian bersama masih menjadi bagian dari budaya masyarakat di berbagai daerah Indonesia.
Baca Juga: 5 Fakta Durian Musang King, Raja Durian Pasar Ekspor yang Harganya Kini Anjlok
Menikmati durian di kebun, di pinggir jalan, maupun di sentra penjualan durian telah menjadi aktivitas sosial yang mempererat hubungan antarkeluarga, sahabat, hingga komunitas.
Tradisi tersebut menunjukkan durian bukan sekadar buah musiman, tetapi juga menjadi media kebersamaan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Warisan Budaya yang Tetap Lestari
Baca Juga: Murah Meriah, Lapak Raja Buah di Sampit Diserbu Pembeli: Durian Kalbar Banjiri Kalimantan Tengah
Berdasarkan informasi di atas, durian telah menjadi bagian dari sejarah Nusantara selama lebih dari 1.300 tahun.
Mulai dari tergambar dalam relief Candi Borobudur, menjadi persembahan bagi raja, menghiasi jamuan istana, hingga dimaknai sebagai simbol kemakmuran dan kebersamaan, durian terus menempati posisi istimewa dalam budaya masyarakat Indonesia.
Tak heran jika hingga kini durian tetap dijuluki sebagai "raja buah", bukan hanya karena cita rasanya, tetapi juga karena jejak sejarah dan nilai budaya yang telah menyertainya selama berabad-abad.
Editor : Silvina