Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Kisah Cinta Rahadi Osman (Bag-1) : Senja Perpisahan di Stasiun Jatinegara yang Menjadi Awal Segalanya

Silvina • Rabu, 15 Juli 2026 | 13:17 WIB
Lukisan wajah Rahadi Osman (1925-1945) dilukis ulang oleh Syafaruddin Daeng Usman
Lukisan wajah Rahadi Osman (1925-1945) dilukis ulang oleh Syafaruddin Daeng Usman

 

PONTIANAK POST – Di tengah berkecamuknya perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, tersimpan sebuah kisah cinta yang begitu mengharukan. Bukan tentang pesta pernikahan atau janji hidup bahagia, melainkan tentang perpisahan yang terjadi di sebuah stasiun kereta api ketika tugas negara harus didahulukan daripada perasaan.

Kisah ini dituturkan oleh Syafaruddin Daeng Usman, peneliti dan penulis sejarah asal Kalimantan Barat.

Senja Terakhir di Stasiun Jatinegara

Baca Juga: Mengenang Soeharto di Hari Kelahirannya, Dari Kritik Sejarah hingga Gelar Pahlawan Nasional

Hari mulai beranjak senja ketika kereta terakhir menuju ujung timur Pulau Jawa bersiap meninggalkan Stasiun Jatinegara, Jakarta. Kepala stasiun telah mengangkat tanda keberangkatan, sementara peluit panjang mulai memecah keheningan sore.

Di antara para penumpang berdiri seorang lelaki muda. Tubuhnya tegap layaknya seorang perwira. Sebuah ransel tergantung di punggungnya, pistol terselip di pinggang, dan senjata laras panjang dibawanya sebagai bekal menjalankan tugas.

Di hadapannya berdiri seorang gadis berusia 17 tahun yang tak mampu menyembunyikan kesedihan.Tatapan keduanya saling bertemu. Tak satu pun sanggup mengucapkan kata-kata yang selama ini memenuhi hati.

Baca Juga: Kekuatan Pahlawan Nasional Jenderal Soedirman Ternyata Bukan Senjata

Perpisahan yang Terasa untuk Selamanya

Sang gadis perlahan meletakkan kedua tangannya di bahu lelaki muda itu. Tatapannya begitu dalam, seolah ingin mengabadikan wajah yang dicintainya untuk terakhir kali.

Di dalam hatinya muncul firasat yang sulit dijelaskan.Ia merasa lelaki yang berdiri di depannya tidak akan pernah kembali.

Baca Juga: Curry Barker Ungkap Pesan Kelam di Balik Kisah Cinta yang Dipaksakan

Peluit kembali berbunyi. Kereta mulai bergerak meninggalkan peron.Lelaki muda itu melepaskan pelukan, memandang kekasihnya untuk terakhir kali, lalu melompat ke bordes gerbong terakhir. Matanya tetap tertuju kepada gadis itu hingga kereta perlahan menghilang dari pandangan.

Kata-Kata yang Sulit Diucapkan

Beberapa saat sebelum keberangkatan, keduanya sempat berjalan mengelilingi stasiun dan duduk di beranda.

Baca Juga: Kolaborasi Sal Priadi dan Wijaya 80 Angkat Kisah Cinta Beda Keyakinan

Suasana begitu sunyi. Banyak hal ingin disampaikan, tetapi tidak satu pun sanggup keluar dari bibir mereka.

Sesekali angin sore berembus lembut, seakan ikut merasakan beratnya perpisahan dua insan yang baru saja menemukan cinta.

Lelaki muda itu kemudian berdiri mendekat.Tatapan mereka kembali bertemu.Dengan wajah serius, tanpa sedikit pun senyum, ia mengucapkan kalimat berbahasa Belanda:  "Ik moet weg. Ik moet terug." Artinya, "Aku harus pergi. Aku harus kembali."

Baca Juga: Menyusuri Istana Versailles di Prancis, Kisah Cinta Louis XVI yang Berakhir Tragis

Kalimat sederhana itu menjadi penegasan bahwa dirinya lebih dulu dipanggil oleh kewajiban sebagai prajurit Republik.

Cinta Harus Mengalah kepada Tugas

Sang gadis memahami maksud perkataan tersebut.Lelaki yang dicintainya bukan hanya miliknya seorang.Ia adalah milik bangsa yang baru saja merdeka dan masih berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Baca Juga: Raffi Ahmad: Tugas Negara jadi Skala Prioritas

Meski baru merasakan indahnya jatuh cinta, keduanya sadar bahwa keadaan belum memungkinkan mereka memikirkan masa depan bersama.Bahkan mereka pernah bersepakat untuk tidak menikah selama perang masih berlangsung.

Bagi sang gadis, kehilangan lelaki yang dicintainya di medan perang adalah bayangan paling menakutkan.

Dua Hati yang Sama-Sama Menyimpan Harapan

Baca Juga: Menyusuri Romantisme Paris (Bag-1): Dari Pesona Menara Eiffel hingga Montmartre yang Bersejarah

Saat itu usia mereka masih sangat muda.Sang gadis baru menginjak 17 tahun, sedangkan lelaki yang dicintainya baru melewati usia 20 tahun.

Mereka masih memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan dan membangun masa depan.Namun keadaan memaksa mereka memilih jalan yang berbeda.

Sang gadis hanya berharap satu hal, bahwa cinta dan kepercayaan di antara mereka tetap terjaga meski dipisahkan oleh medan perjuangan.

Baca Juga: Menyusuri Romantisme Paris (Bag-2): Jejak Kuliner Kelas Dunia dan Hotel Bersejarah yang Mendunia

Sementara itu, suasana Jakarta mulai berubah. Pasukan Republik bersiap meninggalkan ibu kota untuk kembali ke daerah asal masing-masing sebagai bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Perjalanan sang pemuda pun dimulai. Namun, tanpa mereka sadari, perpisahan di Stasiun Jatinegara itu akan menjadi awal dari kisah cinta yang dikenang sepanjang sejarah.

(Bersambung ke Artikel 2: Rahadi Memilih Medan Perang, Oetari Menunggu dalam Doa dan Harapan.)

 

Editor : Silvina
kisah cinta pahlawan stasiu jatinegara perpisahan haru Rahadi Osman Sepasang Kekasih