Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Kisah Cinta Rahadi Osman (Bag-4): Surat Bertuliskan "Soedah Meninggal"  Mengakhiri Penantian Oetari Selama 60 Tahun

Silvina • Rabu, 15 Juli 2026 | 14:10 WIB
Makam pejuang Angkatan 45 Rahadi Osman di Desa Sungai Besar Kabupaten Ketapang. (IST)
Makam pejuang Angkatan 45 Rahadi Osman di Desa Sungai Besar Kabupaten Ketapang. (IST)

 

PONTIANAK POST – Cinta Rahadi dan Oetari tidak berakhir dengan pertemuan kembali seperti kisah-kisah romantis pada umumnya. Yang tersisa hanyalah sebuah surat, penantian selama puluhan tahun, dan kabar duka yang akhirnya mengungkap pengorbanan seorang pejuang bangsa.

Kisah ini dituturkan Syafaruddin Daeng Usman, peneliti dan penulis sejarah asal Kalimantan Barat.

Surat yang Mengubah Segalanya

Baca Juga: Pahlawan Pendidikan Bangsa

Beberapa waktu setelah perpisahan di Stasiun Jatinegara, Oetari mencoba menghubungi Rahadi melalui sepucuk surat.Surat itu dikirim dengan harapan dapat menemukan kembali jejak lelaki yang dicintainya.

Namun harapan tersebut pupus seketika.Surat itu justru kembali ke tangan Oetari dengan tulisan berwarna merah yang berbunyi, "Soedah Meninggal."

Kalimat singkat itu membuat Oetari terpukul. Ia tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada penjelasan, tidak ada kepastian, hanya sebuah tulisan yang seolah memutus seluruh harapannya.

Baca Juga: Kisah Cinta Rahadi Osman (Bag-1) : Senja Perpisahan di Stasiun Jatinegara yang Menjadi Awal Segalanya

Mencari Kebenaran yang Tak Kunjung Ditemukan

Oetari tidak langsung mempercayai kabar tersebut. Ia berusaha mencari informasi kepada teman-teman Rahadi dan orang-orang yang pernah mengenalnya.

Namun, usahanya tidak membuahkan hasil. Tidak seorang pun mampu memberikan kepastian mengenai nasib Rahadi.

Baca Juga: Kisah Cinta Rahadi Osman (Bag-2) : Rahadi Memilih Republik, Oetari Memilih Setia Menunggu

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, hingga penantian itu berubah menjadi bagian dari perjalanan hidup Oetari.

Enam Puluh Tahun Menunggu

Waktu terus berjalan.Baru pada tahun 2005, sekitar enam puluh tahun setelah perpisahan di Stasiun Jatinegara, Oetari akhirnya memperoleh kepastian mengenai nasib Rahadi.

Baca Juga: Kisah Cinta Rahadi Osman (Bag-3): Oetari Terus Didatangi Mimpi yang Sulit Dilupakan

Lelaki yang selama ini dinantikannya telah gugur di Sungai Besar, Ketapang, Kalimantan Barat, ketika menjalankan tugas sebagai pejuang Republik.

Kabar itu menjadi jawaban atas penantian yang selama puluhan tahun memenuhi hidupnya.Meski berat, Oetari akhirnya menerima kenyataan tersebut dengan ikhlas.

Rahadi, Pejuang yang Tak Pernah Dilupakan

Baca Juga: Polda Kalbar Dukung Pemenuhan Hak Veteran Dari Arsip Menuju Penghormatan Bagi Para Pejuang

Bagi Oetari, Rahadi bukan hanya seorang kekasih.Ia adalah sosok pemuda yang gagah, disiplin, bertanggung jawab, dan rela mengorbankan masa mudanya demi bangsa yang baru merdeka.

Karena itulah, Oetari tidak pernah merasa menyesal pernah mencintainya.Sebaliknya, ia merasa bangga pernah mengenal seorang pejuang yang memilih mengabdikan hidupnya untuk Indonesia.

Meski air mata masih sering mengalir ketika mengenang masa lalu, Oetari memahami bahwa pengorbanan adalah harga yang harus dibayar dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Baca Juga: Hari Berkabung Daerah Kalbar Jadi Momentum Mengenang Tragedi Mandor dan Para Pahlawan

Cinta yang Hidup dalam Kenangan

Di masa tuanya, Oetari kerap mengingat kembali senja di Stasiun Jatinegara.Tatapan tajam Rahadi dari bordes gerbong terakhir masih terbayang jelas dalam ingatannya.

Seolah waktu tidak pernah menghapus momen perpisahan itu.Rahadi memang tidak pernah kembali.Namun cintanya tetap hidup di dalam hati Oetari.

Baca Juga: Kisah Al Ghazali dan Alyssa Daguise: Dari Tiket Festival hingga Cinta Sejati

Baginya, Rahadi bukan sekadar pahlawan bangsa.Ia juga merupakan pahlawan dalam hidupnya sendiri.

Kisah cinta mereka menjadi bukti perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya meninggalkan catatan heroik di medan perang, tetapi juga menyisakan pengorbanan yang begitu dalam bagi orang-orang yang menunggu di belakang.

Rahadi telah memberikan hidupnya untuk Indonesia. Sementara Oetari mengabdikan sisa hidupnya untuk menjaga kenangan tentang lelaki yang pernah mengajarinya arti cinta, kesetiaan, dan pengorbanan.

 

Editor : Silvina
kisah cinta pahlawan Rahadi dan Oetari Surat Merah Pahlawan Republik Rahadi Osman