PONTIANAK POST – Di Kalimantan Barat, istilah Hakka atau Khek tentu sudah tidak asing lagi. Komunitas ini menjadi salah satu bagian penting dari keberagaman masyarakat Tionghoa di provinsi tersebut. Namun, tahukah Anda mengapa mereka disebut "keluarga tamu" dan dikenal sebagai salah satu etnis Tionghoa yang paling tangguh?
Di balik sebutan tersebut tersimpan kisah panjang tentang perpindahan penduduk, perjuangan hidup, hingga semangat pantang menyerah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Mengapa Disebut Hakka atau Khek?
Baca Juga: Menyusuri Rumah Hakka Terbesar di Kalbar, Bangunan Unik yang Disebut Hanya Ada Dua di Asia Tenggara
Berdasarkan penjelasan kanal YouTube Hakka Spirit, kata Hakka (客家) berasal dari bahasa Mandarin yang berarti "keluarga tamu" atau "keluarga pendatang".
Berbeda dengan subetnis Tionghoa lain yang umumnya dikenal berdasarkan daerah asalnya, masyarakat Hakka justru memperoleh nama dari status mereka sebagai pendatang.
Mereka merupakan kelompok etnis Tionghoa yang bermigrasi paling akhir dari wilayah Cina Utara menuju Cina Selatan. Karena datang belakangan, mereka lebih dikenal sebagai "keluarga tamu" dibandingkan menggunakan nama daerah asal.
Baca Juga: Rumah Hakka Kubu Raya Terinspirasi Warisan Dunia UNESCO, Arsiteknya Berkali-kali Belajar ke Tiongkok
Perjalanan Panjang hingga Menyebar ke Berbagai Negara
Setelah menetap di Cina Selatan, masyarakat Hakka kembali melakukan migrasi ke berbagai wilayah di Asia Tenggara hingga berbagai belahan dunia. Di Indonesia, komunitas Hakka tersebar di sejumlah daerah seperti Aceh, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, dan Pulau Jawa.
Khusus di Kalimantan Barat, masyarakat Hakka telah menjadi bagian dari kehidupan sosial selama bertahun-tahun dan ikut memberikan kontribusi dalam bidang perdagangan, pendidikan, hingga kebudayaan.
Baca Juga: Wagub Kalbar Ajak Masyarakat Hakka Lestarikan Budaya dan Perkuat Persatuan di Tengah Keberagaman
Dikenal sebagai Etnis yang Sangat Ulet
Salah satu karakter yang paling melekat pada masyarakat Hakka adalah keuletan.Menurut Hakka Spirit, bila masyarakat Tionghoa dikenal sebagai pekerja keras, maka orang Hakka sering digambarkan memiliki semangat bekerja yang bahkan lebih kuat.
Karakter tersebut lahir dari pengalaman hidup mereka sebagai kelompok pendatang yang harus berjuang memperoleh tempat di lingkungan baru.
Baca Juga: Rumah Adat Turun Temurun di Mempawah Kian Lapuk dan Kosong, Cagar Budaya Ini Menanti Perhatian
Mampu Mengubah Lahan Sulit Menjadi Produktif
Keuletan masyarakat Hakka juga terlihat dari kemampuan mereka mengolah lahan. Saat menempati kawasan perbukitan yang memiliki kontur miring dan sulit ditanami, mereka mampu mengubah wilayah yang semula kurang produktif menjadi lahan pertanian yang menghasilkan.
Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang tidak mudah menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat Hakka dikenal sebagai kelompok yang tangguh dan tidak mudah menyerah.
Tekanan Hidup Membentuk Mental Pantang Menyerah
Sebagai kelompok yang datang belakangan, masyarakat Hakka pada masa lalu sering menghadapi berbagai tantangan sosial.
Mereka harus bekerja lebih keras dibandingkan masyarakat setempat untuk memperoleh kesempatan hidup yang lebih baik.
Baca Juga: Ini Asal-Usul Nama Borneo dan Kalimantan yang Jarang Diketahui
Pengalaman tersebut membentuk karakter masyarakat Hakka menjadi pribadi yang tahan banting, berani menghadapi tantangan, dan terus berusaha memperbaiki kehidupannya.
Semangat yang Tetap Bertahan Hingga Kini
Hingga sekarang, masyarakat Hakka telah tersebar di berbagai negara. Meski tinggal jauh dari tanah leluhur, mereka tetap dikenal memiliki semangat kerja keras, mudah beradaptasi, serta berupaya memberikan kontribusi bagi daerah tempat mereka tinggal.
Baca Juga: Imlek Bersama di Pendopo Gubernur Kalbar, Puluhan Organisasi Tionghoa Gaungkan Harmoni
Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Hakka dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bersambung ke Bagian 2: Deretan Tokoh Dunia Keturunan Hakka, dari Pendiri Republik Tiongkok hingga Pemimpin Berbagai Negara.
Editor : Silvina