PONTIANAK POST - Memiliki taman hijau tak selalu berarti harus rutin menyiram tanaman setiap hari. Belakangan, konsep taman kering (dry garden) semakin diminati karena menawarkan tampilan alami yang tetap menarik dengan perawatan yang lebih sederhana.
Konsep ini juga cocok diterapkan di kawasan beriklim panas dengan paparan sinar matahari yang tinggi.
Dilansir dari Jawapos, arsitek dari Legnopietra Architects, Georgius Herputra, menjelaskan bahwa keberhasilan taman kering sangat ditentukan oleh struktur tanah dan sistem drainasenya.
Baca Juga: Tips Membuat Taman Kering Indoor untuk Ruang Rumah yang Sempit
Dengan material yang tepat, taman tetap terlihat rapi sekaligus mampu mengalirkan air hujan dengan baik.
Struktur Tanah Jadi Kunci Utama
Menurut Georgius, lapisan dasar taman harus dirancang agar mampu menyerap sekaligus mengalirkan air secara optimal.
"Penggunaan material seperti pasir dan ijuk di bawah lapisan batu sangat membantu menyerap air hujan," ujarnya.
Baca Juga: Taman Kering Indoor Jadi Solusi Rumah Lebih Segar dan Estetik
Lapisan tersebut bekerja layaknya filter alami yang membantu mencegah genangan di permukaan taman.
Ia juga menyarankan agar bagian tengah taman dibuat lebih solid, misalnya menggunakan pengecoran beton yang dilapisi granit bakar.
Area tersebut kemudian dikelilingi batu kerikil sehingga karakter taman kering semakin kuat sekaligus mempermudah perawatan sehari-hari.
Baca Juga: Jangan Buang Barang Bekas, Ubah Jadi Pot Tanaman Bernilai Estetis
"Kerikil juga mengurangi cipratan air hujan ke area lain," jelas Georgius.
Dengan percikan air yang lebih sedikit, area di sekitar taman, terutama yang berdekatan dengan teras atau ruang dalam rumah, tetap bersih.
Drainase Harus Disesuaikan Luas Taman
Meski menggunakan beton, permukaan taman tetap harus memiliki kemiringan agar air dapat mengalir menuju saluran pembuangan.
Menurut Georgius, jumlah drainase perlu disesuaikan dengan ukuran taman.
Baca Juga: Tips Memilih Ukuran Pot agar Tanaman Sehat dan Taman Lebih Estetik
"Kalau luas taman cuma 1x1 meter, satu drainase cukup. Tapi kalau lebih dari itu, jumlah salurannya perlu ditambah," imbuhnya.
Penambahan titik drainase bertujuan mencegah penumpukan air di satu sisi taman sehingga seluruh area tetap kering setelah hujan.
Selain itu, penggunaan batu split pada lapisan bawah juga membantu mempercepat aliran air. Material ini menciptakan rongga-rongga kecil yang memudahkan air meresap sekaligus menjaga kebersihan taman.
Batu Koral Bikin Taman Lebih Rapi
Baca Juga: Bisa Hambat Karier Hingga Undang Stres, Jauhkan 3 Tanaman Ini dari Interior Rumah Anda Sekarang
Untuk lapisan paling atas, batu koral menjadi salah satu material yang banyak digunakan pada taman kering.
Selain memberikan kesan alami, batu koral juga nyaman diinjak dan tidak licin ketika basah. Agar rumput liar tidak mudah tumbuh, pemilik rumah dapat menambahkan paranet atau lapisan pembatas sebelum menebarkan batu koral.
Cara tersebut juga membantu mempercepat surutnya air setelah hujan sehingga taman tetap terlihat bersih.
Pilih Tanaman yang Tahan Panas
Baca Juga: Berkebun di Rooftop Lebih Mudah dengan Tanaman Buah Tin
Pemilihan tanaman juga menjadi bagian penting dalam konsep taman kering. Karena kondisi lahannya cenderung lebih kering, tanaman yang digunakan harus mampu bertahan pada cuaca panas.
Kaktus dan sukulen menjadi pilihan favorit karena minim perawatan dan tahan terhadap paparan sinar matahari.
Bagi yang ingin menghadirkan nuansa hijau lebih banyak, Georgius menyebut pandan Bali dan cemara sebagai alternatif yang tetap cocok digunakan.
"Kalau bunga cocoknya bugenvil atau amarilis. Sementara pohon buah seperti mangga, sawo, kelengkeng, dan belimbing wuluh juga cocok sebagai peneduh," imbuhnya.
Baca Juga: Lohansung Kian Populer sebagai Tanaman Hias Estetik untuk Mempercantik Halaman Rumah
Pilihan tanaman tersebut tetap mampu menghadirkan suasana segar tanpa membutuhkan banyak air, sehingga sesuai dengan karakter taman kering yang praktis dan mudah dirawat. (*)
Editor : Chairunnisya