PONTIANAK POST – Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada 17 Agustus 1945 di Jakarta. Namun, tidak semua daerah langsung menerima kabar bersejarah tersebut. Di Pontianak, masyarakat baru mengetahui Indonesia telah merdeka sekitar satu bulan kemudian, tepatnya pada 15 September 1945.
Keterlambatan informasi itu menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan Kalimantan Barat. Meski terlambat mendengar kabar kemerdekaan, semangat para pemuda di Pontianak justru menyala. Mereka bergerak cepat menyebarkan berita ke berbagai daerah sekaligus menggalang kekuatan untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Menurut peminat kajian sejarah Kalimantan Barat, Syafaruddin Daeng Usman, momen pertama masyarakat Pontianak mengetahui kabar kemerdekaan bermula dari sebuah siaran radio. Siaran itu terdengar di rumah kursus mengetik, steno, dan bahasa asing Neratja milik dua bersaudara, Ya' Umar dan Ya' Usman Yasin, di Jalan Palmenlaan atau yang kini dikenal sebagai Jalan Merdeka Timur.
Dari Siaran Radio, Pemuda Pontianak Mengetahui Indonesia Sudah Merdeka
Pada sore hari, 15 September 1945, para pemuda militan dan kelompok republikein berkumpul mendengarkan siaran radio. Dari siaran itulah mereka mengetahui bahwa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan sejak 17 Agustus 1945.
Informasi tersebut menjadi kabar yang sangat mengejutkan sekaligus membangkitkan semangat perjuangan. Malam harinya, para pemuda segera melakukan berbagai aksi propaganda dengan mendatangi permukiman warga serta mengirimkan kabar ke sejumlah daerah di Kalimantan Barat agar masyarakat mengetahui bahwa Indonesia telah merdeka.
Baca Juga: Sejarah Lahirnya TNI di Kalbar (Bag-1) : Tarik Ulur Politik Mengawali Jalan Panjang Kehadiran TNI
Langkah cepat itu menjadi awal penyebaran berita kemerdekaan di wilayah Kalimantan Barat yang saat itu masih menghadapi situasi politik dan keamanan yang belum stabil setelah berakhirnya pendudukan Jepang.
Telegram Menjadi Sarana Menyebarkan Berita Kemerdekaan
Semangat perjuangan tidak berhenti di Pontianak. Pada malam 16 September 1945, dua pemuda, Ibrahim Saleh dan Buyung Raja Habibana, memanfaatkan layanan telegram untuk mengirimkan kabar kemerdekaan kepada keluarga, sahabat, dan rekan mereka di berbagai daerah di Kalimantan Barat.
Baca Juga: Sejarah Lahirnya TNI di Kalbar (Bag-2): Demonstrasi Rakyat Menggema Demi Keamanan Daerah
Upaya serupa juga dilakukan oleh seorang guru muda, Gusti Abdulhamid Aun. Dari Pontianak, ia mengirimkan telegram melalui petugas kantor telekom di Ngabang, Ismail Gani, agar informasi tersebut diteruskan kepada Kadaruddin B. Mundit, seorang pemuda yang dikenal memiliki semangat perjuangan tinggi.
Melalui jaringan komunikasi sederhana pada masa itu, berita kemerdekaan akhirnya menjangkau semakin banyak wilayah di Kalimantan Barat.
Awal Munculnya Gerakan Mempertahankan Kemerdekaan
Baca Juga: Sejarah Lahirnya TNI di Kalbar (Bag-3): Keberangkatan Mayor Suharsono Memicu Langkah Baru Perjuangan
Penyebaran kabar kemerdekaan kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih terorganisasi.
Pada 20 September 1945, atas prakarsa Gusti Abdulhamid Aun, dibentuk Persatoean Ra'jat Indonesia (PRI) di Ngabang, Landak. Organisasi ini menjadi cabang dari Pemuda Penyongsong Republik Indonesia (PPRI) yang berpusat di Pontianak.
PRI dipimpin Gusti Abdulhamid Aun dengan dukungan sejumlah tokoh, di antaranya Gusti Mohamad Appandie Ranie, Bardan Nadi, Ya' Nasri Dedeh Osman, Gusti Mohammad Lagum Amin, Kadaruddin B. Mundit, Ya' Mustafa Tayib, dan tokoh lainnya.
Baca Juga: Sejarah Lahirnya TNI di Kalbar (Bag 4): Kedatangan 200 Prajurit TNI ke Pontianak Menandai Babak Baru
Tujuan organisasi tersebut ialah menyebarluaskan berita kemerdekaan sekaligus mempersiapkan rakyat menghadapi ancaman kembalinya pemerintahan kolonial Belanda melalui NICA yang mulai hadir kembali di Kalimantan Barat pada akhir Oktober 1945.
Menjadi Bagian Penting Sejarah Kalimantan Barat
Syafaruddin Daeng Usman menilai rangkaian peristiwa sejak diterimanya kabar kemerdekaan hingga terbentuknya organisasi perjuangan menunjukkan bahwa masyarakat Kalimantan Barat memiliki kontribusi besar dalam mempertahankan Republik Indonesia.
Baca Juga: Terungkap, Begini Jejak Dakwah Soeharto di Papua yang Masih Dikenang hingga Kini
Meski menerima informasi kemerdekaan lebih lambat dibandingkan sejumlah daerah lain, respons para pemuda di Pontianak berlangsung cepat. Mereka tidak hanya menyebarkan berita, tetapi juga membangun jaringan perjuangan yang kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah revolusi fisik di Kalimantan Barat.
Perjalanan sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya diperjuangkan di pusat pemerintahan, tetapi juga dijaga oleh masyarakat di berbagai daerah, termasuk Kalimantan Barat. Tentunya melalui keberanian, solidaritas, dan semangat mempertahankan Republik yang baru lahir.
Editor : Silvina