Keputusan Amerika Serikat menjatuhkan bom atom masih menjadi perdebatan para sejarawan. Di satu sisi, langkah tersebut dinilai mempercepat berakhirnya perang. Namun di sisi lain, dampak yang ditimbulkan terhadap masyarakat sipil sangat besar dan berlangsung selama puluhan tahun.
Jepang Melakukan Serangan Kamikaze
Baca Juga: Hiroshima Peringati 81 Tahun Bom Atom pada 6 Agustus, Serukan Dunia Hapus Senjata Nuklir
Dilansir dari radar semarang, menjelang akhir Perang Dunia II, Jepang terus melakukan perlawanan meski posisinya semakin terdesak. Salah satu strategi yang digunakan adalah serangan bunuh diri kamikaze, yakni pilot Jepang dengan sengaja menabrakkan pesawatnya ke kapal-kapal perang Sekutu.
Serangan tersebut memberikan tekanan psikologis yang besar kepada pasukan Amerika Serikat. Kondisi itu menjadi salah satu pertimbangan Amerika untuk mencari cara mengakhiri perang secepat mungkin.
Pada saat yang sama, Amerika Serikat telah mengembangkan Proyek Manhattan, program rahasia untuk menciptakan bom atom. Senjata tersebut kemudian diputuskan untuk digunakan terhadap Jepang.
Baca Juga: Iran dan AS Sepakat Akhiri Perang, Selat Hormuz Kembali Dibuka untuk Pelayaran Dunia
Sejumlah ahli sejarah juga berpendapat pengeboman itu bukan hanya ditujukan untuk memaksa Jepang menyerah, tetapi juga menjadi pesan politik kepada Uni Soviet yang saat itu mulai memperluas pengaruhnya dalam Perang Dunia II.
Jepang Menyerah Setelah Dua Kota Hancur
Bom atom pertama dijatuhkan di Hiroshima pada 6 Agustus 1945, disusul bom kedua di Nagasaki pada 9 Agustus 1945. Kehancuran yang ditimbulkan sangat besar karena kedua kota tersebut merupakan pusat aktivitas penting di Jepang.
Baca Juga: Bom Perang Dunia II di Biak Digergaji Warga Lalu Meledak, Lima Tewas Termasuk Dua Anak
Tak lama setelah dua serangan itu, Kekaisaran Jepang mengumumkan menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945. Keputusan tersebut sekaligus menandai berakhirnya Perang Dunia II di kawasan Pasifik.
Dampak Radiasi Berlangsung Bertahun-Tahun
Dampak bom atom tidak hanya dirasakan pada saat ledakan terjadi. Puluhan hingga ratusan ribu orang meninggal dunia akibat ledakan, panas ekstrem, dan bangunan yang runtuh.
Baca Juga: Patung Anjing di Jepang Ini Simpan Kisah Nyata Mengharukan dan Menggetarkan Dunia
Mereka yang selamat pun menghadapi berbagai persoalan kesehatan. Banyak korban mengalami luka bakar berat, sementara masyarakat yang berada dalam radius beberapa kilometer dari lokasi ledakan terpapar radiasi yang meningkatkan risiko berbagai penyakit.
Berbagai penelitian menunjukkan paparan radiasi dapat memicu kanker, termasuk kanker darah dan gangguan pada kelenjar tiroid. Selain itu, sejumlah korban mengalami gangguan kesehatan jangka panjang yang memengaruhi kualitas hidup mereka.
Dampak radiasi juga dirasakan oleh generasi berikutnya. Sejumlah kasus keguguran, cacat lahir, serta gangguan perkembangan bayi dilaporkan terjadi setelah peristiwa tersebut, menjadikan tragedi Hiroshima dan Nagasaki sebagai salah satu bencana kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern.
Baca Juga: Tragedi Mandor Jadi Pengingat Sejarah Keluarga Korban Pembantaian Jepang di Kalbar
Tragedi yang Terus Menjadi Pelajaran Dunia
Hingga kini, pengeboman Hiroshima dan Nagasaki masih menjadi pengingat akan dahsyatnya dampak senjata nuklir terhadap kehidupan manusia. Peristiwa itu tidak hanya mengubah jalannya sejarah dunia, tetapi juga mendorong berbagai upaya internasional untuk mencegah penggunaan senjata nuklir di masa depan.
Editor : Silvina