PONTIANAK POST - Bendera Borneo Raya belakangan kembali menjadi perhatian dan diperbincangkan di media sosial. Namun, di balik simbol yang kini ramai dilihat publik tersebut, terdapat sejarah panjang mengenai gagasan politik dan identitas masyarakat di Pulau Borneo yang telah muncul sejak masa setelah Perang Dunia II.
Jejaknya Bermula dari Gagasan Negara Kalimantan
Untuk memahami latar belakang bendera yang dikaitkan dengan Borneo Raya, jejak sejarahnya dapat ditarik ke masa ketika gagasan pembentukan negara-negara bagian berkembang di Kalimantan. Setelah Jepang menyerah pada 1945, Belanda kembali ke Nusantara dan mendorong terbentuknya struktur federal di sejumlah wilayah.
Baca Juga: Ternyata Pernah Ada Gagasan Membentuk Negara Dayak Besar di Kalimantan, Begini Sejarahnya
Dalam situasi tersebut, muncul berbagai satuan kenegaraan di Kalimantan. Salah satunya adalah Negara Dayak Besar (Dayak Besar/Grote Dajak) yang dibentuk pada 7 Desember 1946. Satuan ini kemudian menjadi bagian dari dinamika negara federal yang berkembang hingga lahirnya Republik Indonesia Serikat.
Bendera Tiga Warna Merah, Kuning, dan Biru
Hal menarik dari sejarah Negara Dayak Besar adalah keberadaan benderanya. Berdasarkan catatan Folks Of Dayak, pada periode 1947–1950 Negara Dayak Besar disebut pernah menggunakan bendera dengan tiga garis horizontal berwarna merah, kuning, dan biru.
Keterangan mengenai bendera tersebut juga muncul dalam tulisan James B. Minahan yang menyebut bendera nasional Dayak sebagai tiga warna horizontal merah, kuning, dan biru. Namun, sumber yang sama mencatat bahwa belum terdapat bukti lain yang diketahui untuk menguatkan secara pasti hubungan antara bendera tersebut dengan bendera Negara Dayak Besar.
Artinya, hubungan antara bendera tiga warna tersebut dan simbol Borneo Raya yang ramai digunakan saat ini perlu ditempatkan secara hati-hati. Kesamaan warna atau bentuk tidak otomatis membuktikan bahwa sebuah bendera modern merupakan kelanjutan langsung dari bendera sejarah.
Negara Dayak Besar dalam Politik Kalimantan
Baca Juga: Pusat Diminta Dengarkan Aspirasi Daerah di Balik Fenomena Bendera Borneo Raya
Negara Dayak Besar sendiri lahir dalam situasi politik Kalimantan yang sangat kompleks. Pembentukannya berkaitan dengan dinamika antara kelompok masyarakat lokal, pemerintahan kolonial Belanda, serta perdebatan mengenai bentuk negara Indonesia setelah kemerdekaan.
Catatan sejarah menunjukkan Dayak Besar kemudian memperoleh pengakuan resmi dari Belanda pada 16 Januari 1948. Wilayah tersebut menjadi salah satu satuan kenegaraan dalam konstruksi federal yang kemudian dikenal sebagai Republik Indonesia Serikat.
Keberadaan negara bagian tersebut tidak berlangsung lama. Ketika gelombang penyatuan kembali wilayah-wilayah federal menguat, Dayak Besar akhirnya bergabung ke dalam Republik Indonesia. Keputusan Presiden RIS Nomor 138 tanggal 4 April 1950 menjadi salah satu dasar penghapusan Daerah Dayak Besar dan penggabungannya ke dalam Republik Indonesia. (Literasi Hukum Indonesia)
Baca Juga: Sejarah Bendera Indonesia dan Makna Mendalam Dibalik Warna Merah Putih
Dari Simbol Sejarah ke Perbincangan Borneo Raya
Di sinilah sejarah bendera menjadi menarik. Warna merah, kuning, dan biru yang dikaitkan dengan bendera Dayak dalam sejumlah sumber sejarah kini kembali muncul dalam pembicaraan mengenai simbol Borneo Raya.
Dalam catatan vexillologi, bendera Dayak Besar juga digambarkan sebagai tiga bidang horizontal berwarna merah, kuning, dan biru. Namun, dokumentasi modern mengenai bendera tersebut sebagian merupakan rekonstruksi berdasarkan sumber-sumber yang tersedia, sehingga pembaca perlu membedakan antara bukti sejarah primer dan representasi ulang yang dibuat pada masa kemudian. (Wikimedia Commons)
Baca Juga: Tan Malaka, Pahlawan Kemerdekaan yang Meninggal Tragis Setelah Indonesia Merdeka
Karena itu, jika bendera Borneo Raya yang viral saat ini menggunakan unsur yang dianggap memiliki hubungan dengan simbol Dayak, sejarah Negara Dayak Besar dapat menjadi salah satu konteks penting untuk memahami mengapa warna dan simbol tersebut memiliki resonansi historis di Kalimantan.
Editor : Silvina