PONTIANAK POST – Istilah membersihkan, sanitasi, disinfeksi, dan sterilisasi sering digunakan secara bergantian. Padahal, keempatnya memiliki tujuan dan tingkat pengendalian mikroorganisme yang berbeda.
Healthline menjelaskan bahwa disinfeksi dan sterilisasi sama-sama termasuk proses dekontaminasi. Namun, disinfeksi ditujukan untuk menghilangkan sebagian besar mikroorganisme berbahaya dari permukaan, sedangkan sterilisasi merupakan proses yang jauh lebih menyeluruh karena bertujuan menghilangkan seluruh mikroorganisme. Artikel tersebut diperbarui pada 15 Oktober 2025.
Lantas, apa sebenarnya perbedaan antara keempat istilah tersebut?
Baca Juga: Tips Bersihkan Shower dengan Semprotan Buatan Sendiri, Mudah dan Praktis
Membersihkan Bukan Berarti Membunuh Semua Kuman
Membersihkan atau cleaning merupakan tahap dasar untuk menghilangkan kotoran, debu, dan sebagian mikroorganisme dari permukaan. Proses ini biasanya dilakukan menggunakan air, sabun, atau deterjen.
Membersihkan tidak selalu berarti seluruh kuman terbunuh. Namun, proses tersebut penting karena mengurangi jumlah kuman sekaligus menghilangkan kotoran yang dapat menghambat kerja produk disinfektan.
Karena itu, pada kondisi tertentu, permukaan sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu sebelum dilakukan disinfeksi.
Baca Juga: 5 Cara Efektif Menurunkan Risiko Flu, Mulai dari Vaksin hingga Rajin Cuci Tangan
Sanitasi Bertujuan Menurunkan Jumlah Kuman
Sanitasi atau sanitizing memiliki tujuan berbeda. Proses ini berupaya menurunkan jumlah mikroorganisme hingga mencapai tingkat yang dianggap aman.
Sanitasi dapat melibatkan proses pembersihan maupun disinfeksi. Jadi, sanitasi tidak sama dengan sterilisasi yang memiliki target lebih tinggi, yakni menghilangkan seluruh mikroorganisme.
Dalam kehidupan sehari-hari, sanitasi lebih sering dikaitkan dengan upaya menjaga benda dan permukaan agar jumlah kuman tetap berada pada tingkat yang lebih rendah.
Disinfeksi Membunuh Sebagian Besar Kuman Berbahaya
Disinfeksi dilakukan untuk menghilangkan atau membunuh sebagian besar mikroorganisme berbahaya pada benda dan permukaan. Proses ini umumnya menggunakan bahan kimia dalam bentuk cairan, semprotan, atau tisu disinfektan.
Menurut Healthline, disinfektan dapat membunuh sebagian besar virus dan jamur. Produk tertentu juga dapat membunuh bakteri, meskipun tidak selalu efektif terhadap spora bakteri.
Untuk penggunaan di rumah, disinfeksi dapat dilakukan pada permukaan yang sering disentuh, terutama ketika terdapat anggota keluarga yang sedang sakit. Pembersihan menggunakan sabun dan air saja sudah cukup dalam banyak situasi sehari-hari, sementara disinfeksi lebih diperlukan pada kondisi tertentu, seperti setelah seseorang sakit.
Baca Juga: Virus Flu Bisa Bertahan di Permukaan, Ini Cara Membersihkan Rumah Setelah Ada yang Sakit
Sterilisasi Memiliki Tingkat Pengendalian Paling Tinggi
Sterilisasi berbeda dari disinfeksi karena targetnya adalah menghilangkan seluruh bentuk kehidupan mikroba, termasuk mikroorganisme yang tidak berbahaya dan bentuk yang lebih tahan seperti spora bakteri.
Proses sterilisasi umumnya dilakukan dalam lingkungan profesional, terutama fasilitas kesehatan. Metodenya dapat menggunakan uap bertekanan atau autoklaf, gas hidrogen peroksida, gas etilen oksida, radiasi pengion, panas kering, hingga metode lainnya.
Karena metode tersebut membutuhkan peralatan dan prosedur khusus, sterilisasi tidak seharusnya dilakukan secara sembarangan di rumah.
Jangan Menyamakan Disinfeksi dengan Sterilisasi
Secara sederhana, perbedaan keempat proses tersebut dapat dipahami sebagai berikut:
- Membersihkan: menghilangkan kotoran dan sebagian kuman dari permukaan.
- Sanitasi: menurunkan jumlah kuman hingga tingkat yang dianggap aman.
- Disinfeksi: membunuh sebagian besar mikroorganisme berbahaya pada benda atau permukaan.
- Sterilisasi: menghilangkan seluruh mikroorganisme, termasuk spora bakteri.
Dengan memahami perbedaannya, masyarakat dapat memilih metode yang sesuai tanpa melakukan tindakan berlebihan.
Baca Juga: Tips Bersihkan Rumah Tanpa Banyak Bahan Kimia
Cara Aman Menggunakan Disinfektan di Rumah
Jika ingin melakukan disinfeksi sendiri, pastikan produk yang digunakan memang memiliki fungsi sebagai disinfektan. Periksa label untuk mengetahui jenis virus, bakteri, atau jamur yang dapat dibunuh serta waktu kontak yang diperlukan.
Healthline juga mengingatkan agar disinfektan tidak langsung dihapus sebelum waktu kontak yang tercantum pada petunjuk produk terpenuhi. Gunakan sarung tangan jika diperlukan dan lakukan proses disinfeksi di area dengan ventilasi yang baik, terutama jika produk mengandung pemutih.
Hal yang paling penting, jangan mencampurkan bahan kimia pembersih. Healthline secara khusus mengingatkan agar hidrogen peroksida dan pemutih tidak dicampurkan karena dapat menimbulkan risiko berbahaya.
Produk disinfektan juga sebaiknya disimpan dengan tutup rapat, ditempatkan di lokasi yang sejuk dan kering, serta jauh dari jangkauan anak-anak.
Baca Juga: Bahan Kimia Berbahaya di Rumah, Sofa hingga Wajan Antilengket Perlu Diwaspadai
Tidak Semua Permukaan Harus Disebar Disinfektan
Penggunaan disinfektan tidak berarti seluruh bagian rumah harus disemprot setiap saat. Dalam kebanyakan kondisi, membersihkan permukaan dengan sabun dan air sudah dapat menghilangkan banyak kuman. Disinfeksi dapat menjadi lebih penting ketika ada orang yang sedang sakit atau baru saja sakit di lingkungan tersebut.
Permukaan yang sering disentuh, seperti gagang pintu, sakelar lampu, meja dapur, keran, toilet, ponsel, remote, dan mainan, dapat menjadi prioritas ketika diperlukan disinfeksi.
Pada akhirnya, menjaga kebersihan tidak selalu berarti harus membuat semua benda menjadi steril. Untuk rumah tangga, pembersihan rutin dan disinfeksi pada kondisi yang tepat umumnya sudah memadai. Sterilisasi memiliki fungsi khusus dan lebih banyak diterapkan pada lingkungan profesional seperti fasilitas kesehatan.
Editor : Rafael B. Junior