Islam Disebut Candu oleh Marxisme, KH Saifuddin Zuhri Justru Menyebut Islam sebagai Madu

Silvina • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 10:44 WIB
Ilustrasi KH Saifuddin Zuhri dalam suasana refleksi keagamaan yang menggambarkan hubungan Islam, rahmat, dan petunjuk.
Ilustrasi KH Saifuddin Zuhri dalam suasana refleksi keagamaan yang menggambarkan hubungan Islam, rahmat, dan petunjuk.

 

PONTIANAK POST--Perdebatan mengenai hubungan agama dan ideologi komunis menjadi salah satu tema dalam sejarah pemikiran politik Indonesia. KH Saifuddin Zuhri, yang disebut sebagai Menteri Agama terakhir pada masa Orde Lama, menyampaikan pandangan mengenai perbedaan Islam dengan konsep agama sebagai candu rakyat.

Pernyataan tersebut dikutip dalam artikel literasiislam.com yang membahas Peristiwa Madiun 1948 dan kekerasan terhadap kelompok muslim.

Islam dan Konsep Candu dalam Marxisme

Baca Juga: Mengungkap Kekerasan PKI Madiun 1948 : Ulama Diburu, Santri Terancam, Pesantren Dibakar

KH Saifuddin Zuhri menyampaikan bahwa orang-orang komunis tidak akan menemukan unsur candu dalam Islam sebagaimana konsep agama yang dalam pandangan Marxisme diposisikan sebagai candu rakyat.

Pandangan tersebut merujuk pada perbedaan cara memahami agama antara pemikiran Marxisme dan ajaran Islam.

Dalam uraian yang sama, KH Saifuddin Zuhri menggunakan perumpamaan madu untuk menjelaskan karakter Islam.

Baca Juga: Menjelang Pemilu 1955, PKI Perkuat Organisasi dan Aktivitas Politik

“Islam adalah ‘madu’ yang sekalipun berupa cairan kental, lengket, mungkin ada yang berwarna kehitam-hitaman, sehingga sepintas menyerupai ‘candu’, namun Islam obat penawar hati, rahmat, serta petunjuk bagi umat manusia.”

Pernyataan tersebut menempatkan Islam sebagai ajaran yang memberikan ketenangan batin, rahmat, dan petunjuk bagi manusia.

Pandangan Keagamaan dalam Konteks Sejarah

Baca Juga: Sejarah Lahirnya PKI, Berawal dari Gerakan Buruh dan ISDV pada 1920

Artikel literasiislam.com menghubungkan pernyataan KH Saifuddin Zuhri dengan peristiwa politik dan kekerasan yang berlangsung dalam Pemberontakan Madiun 1948.

Setelah Musso kembali dari Uni Soviet, kelompok-kelompok komunis melakukan manuver politik untuk memperkuat gerakan mereka di Indonesia. Dalam informasi yang dikutip artikel tersebut, PKI kemudian menjadi kekuatan utama dalam gerakan pemberontakan yang menargetkan sejumlah wilayah strategis.

Pergolakan itu juga disertai konflik dengan kelompok masyarakat, termasuk ulama dan santri.

Baca Juga: PKI dan Gerakan Buruh 1920–1924, Dari Pemogokan hingga Perluasan Organisasi

Dalam konteks tersebut, pernyataan KH Saifuddin Zuhri menjadi bagian dari kritik keagamaan terhadap praktik kekerasan yang dikaitkan dengan gerakan revolusioner.

Islam sebagai Rahmat dan Petunjuk

Melalui perumpamaan madu, KH Saifuddin Zuhri menekankan pandangan bahwa Islam memiliki fungsi sebagai penawar hati, rahmat, dan petunjuk bagi manusia.

Baca Juga: PKI dan Pemberontakan 1926, Dari Persoalan Internal hingga Tekanan Belanda

Gagasan tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai perbedaan antara agama sebagai sumber nilai keagamaan dan cara pandang ideologi yang menempatkan agama dalam kerangka kritik sosial-politik.

Konteks sejarah Madiun 1948 memperlihatkan bahwa hubungan antara ideologi, kekuasaan, dan kehidupan beragama menjadi persoalan penting dalam perjalanan awal Republik Indonesia.

Pernyataan KH Saifuddin Zuhri,  dapat dibaca sebagai refleksi keagamaan dalam menghadapi pergolakan ideologi dan konflik politik pada masa tersebut.

 

Editor : Silvina
KH Saifuddin Zuhri Islam dan komunisme Marxisme sejarah islam menteri agama