Kisah Sayid Fahrul Baraqbah, Keturunan Arab dari Kalimantan yang Bergabung dengan PKI

Silvina • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 14:05 WIB
Ilustrasi Sayid Fahrul Baraqbah dalam suasana politik Kalimantan Timur pada masa perjuangan dan Demokrasi Terpimpin.
Ilustrasi Sayid Fahrul Baraqbah dalam suasana politik Kalimantan Timur pada masa perjuangan dan Demokrasi Terpimpin.

 

PONTIANAK POST – Sejarah politik Kalimantan Timur mencatat sosok Sayid Fahrul Baraqbah yang mengambil jalur berbeda dari kecenderungan politik keluarganya. Berasal dari keluarga keturunan Arab dan bergelar sayid, Fahrul justru memilih Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai jalan perjuangan politik.

Kisah tersebut dimuat Tirto dalam artikel berjudul Sayid dan Komunis dari Kalimantan oleh Petrik Matanasi, edisi 18 Januari 2017.

Berasal dari Keluarga Berpengaruh

Baca Juga: Sejarah Lahirnya PKI, Berawal dari Gerakan Buruh dan ISDV pada 1920

Fahrul Baraqbah lahir pada 1925. Ia merupakan salah satu putra keluarga Baraqbah yang memiliki posisi sosial penting di Kalimantan Timur.

Kakaknya, Sayid Mochsen Baraqbah, pernah menempuh pendidikan Pamong Praja OSVIA. Ia kemudian menjadi pejabat kerajaan, Kepala Penjawat atau setara camat maupun kepala distrik, hingga akhirnya pensiun sebagai bupati pada 1965.

Sementara itu, saudara Fahrul lainnya, Sayid Gasyim Baraqbah, aktif dalam organisasi Nahdhatul Ulama. Pada masa Demokrasi Terpimpin, 1959-1965, Gasyim menjabat sebagai wakil NU di parlemen daerah Kalimantan Timur.

Baca Juga: PKI dan Gerakan Buruh 1920–1924, Dari Pemogokan hingga Perluasan Organisasi

Memilih Jalan Politik Berbeda

Berbeda dari kedua saudaranya, Fahrul memilih bergabung dengan PKI. Ia kemudian menjadi Sekretaris Comite Daerah Besar PKI Kalimantan Timur.

Fahrul juga dikenal tidak terlalu menonjolkan gelar aristokrat yang melekat pada keluarganya. Pilihan politiknya membuat sosok tersebut menjadi kekhususan dalam sejarah keturunan Arab di Kalimantan Timur.

Baca Juga: PKI dan Pemberontakan 1926, Dari Persoalan Internal hingga Tekanan Belanda

Menurut catatan Burhan Magenda, pilihan Fahrul berbeda dari kecenderungan umum keturunan Arab di Kalimantan Timur yang rata-rata nonkomunis.

Aktif di Kalimantan Timur

Setelah kembali ke kampung halamannya pada awal 1950, Fahrul menjadi salah satu pimpinan Comite Daerah Besar PKI Kalimantan Timur pada masa Demokrasi Terpimpin.

Baca Juga: Setelah Dilarang Belanda, PKI Bergerak di Bawah Tanah hingga Masa Pendudukan Jepang

Di kalangan buruh di Balikpapan, Fahrul disebut cukup berpengaruh. Ia juga memimpin Front Nasional Kalimantan Timur menjelang 1965.

Pilihan politik Fahrul menjadi bagian dari catatan sejarah politik Kalimantan Timur, terutama karena latar belakang keluarganya sebagai keturunan Arab dan sayid.

Editor : Silvina
sejarah PKI Sayid Fahrul Baraqbah PKI Kalimantan keturunan Arab Kalimantan Timur