PONTIANAK POST - Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Kalimantan Barat (Balitbang Kalbar) bekerja sama dengan dengan Universitas Tanjungpura melaksanakan Seminar Akhir Penelitian pada 1 Juli 2025. Seminar ini merupakan Penelitian Swakelola Tipe2 dengan judul “Revitalisasi Harapan: Inovasi dan Kemitraan untuk Mengakhiri Kemiskinan Ekstrem di Kalbar (Studi Kasus di Kabupaten Sambas)”. Seminar dibuka Dr. Abdul Haris Fakhmi, S.T., M.T selaku Plt. Kepala Balitbang Prov. Kalbar. Penelitian ini diketuai oleh Dr. Windhu Putra, S.E., M.E.
Kegiatan seminar menghadirkan antara lain narasumber pembahas dari Staf Ahli Bidang Sosial dan Sumber Daya Manusia (SDM) pada Sekretariat Daerah Prov Kalbar Drs. Alexander Rombonang, MMA. Hadir pula narasumber dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Kepala Dinas Sosial, Badan Pusat Statistik, Kepala Biro Kesejahteraan Prov. Kalbar dan peserta aktif lainnya.
Dalam seminar terungkap bahwa setelah sempat mencatat angka kemiskinan ekstrem yang sangat tinggi, yaitu mencapai 84.044 Kepala Keluarga pada tahun 2021, Sambas berhasil menurunkannya secara signifikan hingga tersisa 25.176 KK pada tahun 2024. Penurunan drastis ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cermin nyata dari peran inovasi dan kemitraan dalam mengubah wajah kemiskinan di wilayah perbatasan Kalbar.
Data BPS menunjukkan garis kemiskinan di Sambas pada tahun 2024 berada di angka Rp528.017 per kapita per bulan, lebih rendah dibandingkan rata-rata Kalbar yang mencapai Rp595.509. Persentase penduduk miskin Sambas juga relatif stabil di angka 6,30 persen, lebih baik daripada rata-rata provinsi 6,32 persen. Tingkat keparahan kemiskinan pun mengalami perbaikan, dari 0,26 pada tahun 2022 menjadi 0,16 pada tahun 2024.
Menurut Ketua Tim Peneliti Universitas Tanjungpura, Windhu Putra, pencapaian ini menunjukkan bahwa masyarakat Sambas semakin dekat dengan kehidupan yang lebih layak, meskipun perjalanan pengentasan kemiskinan masih panjang. Kunci perubahan ini adalah inovasi dan kemitraan.
“Inovasi membuat petani dan nelayan berani meninggalkan cara lama: memakai pertanian presisi, mengolah perikanan dengan teknologi, dan memasarkan produk lewat platform daring. Sementara kemitraan membuka jalan bagi modal usaha, pelatihan, dan akses pasar yang lebih luas,” katanya.
Dalam hal ini, sejumlah kisah inspiratif bermunculan dari desa-desa. Di Desa Sagu, Kecamatan Teluk Keramat, mantan buruh migran beralih menjadi petani semangka dengan pola tanam modern. Usaha ini tidak hanya mengangkat kesejahteraan keluarga mereka, tetapi juga menjadikan desa tersebut sentra baru produksi buah.
Sementara itu, di Desa Mentibar, seorang petani cabe sukses membeli mobil dari hasil panennya berkat penerapan sistem pertanian presisi, tumpang sari sawit dengan cabe, serta pemanfaatan e-commerce untuk pemasaran hasil panen. Cerita-cerita seperti ini menjadi bukti bahwa inovasi lokal mampu menghadirkan perubahan nyata.
Untuk mempercepat pengentasan kemiskinan ekstrem di Kabupaten Sambas, penelitian ini merekomendasikan beberapa langkah strategis. Pertama, memanfaatkan tokoh lokal sebagai agen perubahan Pemerintah perlu melibatkan pelaku usaha lokal yang berhasil untuk menjadi mentor dalam program pemberdayaan masyarakat miskin. Kedua, mendorong usaha berbasis potensi lokal OPD seperti Dinas Koperasi dan UMKM harus memperluas pendampingan usaha mikro, terutama dalam pengemasan, pemasaran, dan keuangan.
Ketiga, Pemda dan OPD terkait (Dinsos, Dinas Pertanian, Dinas Koperasi/UMKM) perlu mengidentifikasi tokoh lokal sukses untuk dijadikan agen perubahan dalam pemberdayaan masyarakat miskin. Keempat, mengintegrasikan teknologi digital dalam layanan publik Perlu percepatan integrasi data sosial serta dukungan bagi kewirausahaan digital agar penyaluran bantuan tepat sasaran dan akses pasar lebih luas.
Kelima, Membangun kemitraan inklusif dan sistematis pemerintah daerah harus mengatur keterlibatan sektor swasta dan LSM melalui kebijakan yang jelas, sehingga program CSR lebih terarah pada pengentasan kemiskinan.
Dan keenam, Meningkatkan partisipasi masyarakat musyawarah desa, koperasi, dan kelompok usaha bersama perlu dijadikan wadah untuk memastikan keberlanjutan program dan memperkuat rasa memiliki. Dengan langkah-langkah tersebut, program pengentasan kemiskinan ekstrem di Sambas akan lebih terarah, inklusif, dan berkelanjutan, sehingga mampu mengurangi ketimpangan sekaligus membangun kemandirian ekonomi masyarakat miskin.(*)
Editor : Hanif