PONTIANAK POST- Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau meningkatkan kolaborasi dengan berbagai fasilitas pelayanan kesehatan untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan bayi (AKB) di wilayah tersebut.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya strategis untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi ibu hamil dan bayi di Kabupaten Sanggau.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Sanggau, Junaidi, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mengintensifkan sinergi antara Puskesmas, rumah sakit, dan mekanisme rujukan lanjutan. Upaya ini bertujuan memastikan layanan kehamilan, persalinan, serta perawatan bayi dapat berjalan dengan aman, efektif, dan tepat waktu.
Junaidi menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan harus dilakukan secara berjenjang, mulai dari Puskesmas hingga rumah sakit jika dibutuhkan.
Namun, dia juga mengakui bahwa fasilitas kesehatan non-pemerintah yang berkolaborasi dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) masih terbatas. Saat ini, hanya Rumah Sakit Parindu yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan di Kabupaten Sanggau.
“Keberhasilan program ini sangat bergantung pada deteksi dini risiko kehamilan, keterjangkauan fasilitas kesehatan, dan keandalan mekanisme rujukan,” kata Junaidi.
Oleh karena itu, Dinkes Sanggau berencana untuk memperkuat kolaborasi antara Puskesmas, bidan, dan rumah sakit dalam rangka memantau kasus kehamilan berisiko tinggi.
Selain itu, Dinkes Sanggau juga mendorong perluasan cakupan Universal Health Coverage (UHC), yang saat ini baru mencapai sekitar 82 persen untuk kepesertaan JKN di daerah ini. Junaidi mengungkapkan bahwa capaian ini masih perlu ditingkatkan agar seluruh ibu hamil dan bayi dapat memperoleh layanan kesehatan sesuai standar.
Dalam upaya meningkatkan kualitas layanan, Dinkes juga fokus pada peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan, tenaga medis, sarana rujukan, dan edukasi masyarakat mengenai pentingnya pelayanan antenatal (ANC), persalinan di fasilitas kesehatan, serta pemantauan bayi baru lahir.
Melalui langkah-langkah tersebut, Dinkes Kabupaten Sanggau menargetkan penurunan angka kematian ibu dan bayi (AKI dan AKB) dalam beberapa tahun mendatang dengan memperbaiki sistem pelayanan kesehatan dari tingkat primer hingga rujukan lanjutan.(*)
Editor : Hanif