PONTIANAK POST — Paris Saint-Germain (PSG) dan Arsenal akan saling berhadapan di final Liga Champions 2025–2026 yang digelar di Stadion Puskas Arena, Budapest, Hungaria. Laga ini menjadi momentum “kesempatan kedua” bagi sejumlah pemain yang pernah merasakan atmosfer final, sekaligus ujian mental dalam perebutan gelar paling bergengsi antarklub Eropa.
Pertandingan ini tidak hanya soal taktik dan kualitas individu, tetapi juga pengalaman dan faktor keberuntungan yang kerap menentukan hasil di laga puncak.
PSG Andalkan Pengalaman Final
Skuad Paris Saint-Germain datang dengan modal pengalaman lebih matang. Sejumlah pemain mereka pernah tampil di final Liga Champions musim sebelumnya, termasuk kapten tim Marquinhos yang akan menjalani final ketiganya bersama PSG.
Marquinhos sebelumnya pernah membawa PSG menembus final Liga Champions 2019–2020, meski baru sekali mengangkat trofi Si Kuping Besar.
“Kebanggaan besar bisa bermain dalam final kedua. Kami akan melakukan segalanya untuk memenanginya lagi,” ujar Bradley Barcola dalam wawancara dengan Canal+.
Barcola menegaskan bahwa kekuatan kolektif menjadi kunci PSG dalam menghadapi laga final.
Namun, Marquinhos mengingatkan bahwa pengalaman masa lalu tidak menjamin kemenangan di pertandingan puncak. “Dalam final, apa pun bisa terjadi,” katanya.
Arsenal Bawa Senjata Pengalaman Final
Di sisi lain, Arsenal juga memiliki pemain dengan pengalaman final yang menentukan, salah satunya Kai Havertz.
Havertz pernah menjadi penentu kemenangan Chelsea saat menjuarai Liga Champions 2021 melawan Manchester City. Pengalaman itu membuatnya kembali menjadi sorotan jelang final kali ini.
“(Menciptakan gol di final) adalah sesuatu yang sulit dilupakan,” ujar Havertz.
Kemampuan Havertz mencetak gol di laga penting juga membuatnya berpeluang tampil sebagai starter di posisi penyerang utama.
Faktor “Hoki” Jadi Penentu
Selain taktik dan pengalaman, faktor keberuntungan atau “hoki” kerap menjadi pembeda di partai final.
Havertz bahkan menjadi pemain kunci Arsenal dalam beberapa laga penting, termasuk gol penentu di Premier League dan semifinal Liga Champions yang membawa The Gunners ke final.
“Saya hanya mencoba menemukan kembali feeling itu lagi,” ujarnya.
Dalam laga sebesar final Liga Champions, detail kecil seperti momentum, kesalahan individu, hingga keberuntungan sering kali menjadi penentu akhir pertandingan.
Final Sarat Pengalaman dan Tekanan Mental
Final di Budapest ini menjadi panggung besar bagi dua tim dengan karakter berbeda. PSG datang dengan ambisi mempertahankan dominasi dan pengalaman final sebelumnya, sementara Arsenal membawa semangat pembuktian dengan kombinasi pemain muda dan pengalaman momen besar.
Laga ini diprediksi berlangsung ketat sejak menit awal, dengan peluang yang sangat terbuka bagi kedua tim.
Pada akhirnya, seperti yang diingatkan Marquinhos, final Liga Champions bukan hanya soal siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang paling siap menghadapi tekanan dan momen tak terduga. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro