PONTIANAK POST - Final Piala Dunia FIFA 2026 menghadirkan kisah yang sulit ditemukan dalam sejarah sepak bola. Lionel Messi akan memimpin Argentina menghadapi Spanyol, negara yang membesarkan kariernya selama lebih dari dua dekade. Ironisnya, jauh sebelum menjadi ikon Albiceleste, peraih delapan Ballon d'Or itu nyaris mengenakan seragam tim nasional Spanyol.
Ketika bergabung dengan akademi La Masia pada usia 13 tahun, Messi tumbuh dan berkembang di Barcelona hingga memenuhi syarat memperoleh kewarganegaraan Spanyol. Situasi itu membuat Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) berupaya merekrutnya sebelum Argentina mengikat sang pemain untuk memperkuat tim nasional.
Dalam laporan resmi FIFA, mantan pelatih Timnas U-20 Argentina Hugo Tocalli mengungkapkan bahwa pihaknya sempat diliputi kekhawatiran kehilangan talenta muda tersebut.
"Setiap hari saya takut Spanyol akan membawa Messi sebelum kami," kenang Tocalli kepada FIFA.
FIFA mencatat, pendekatan RFEF dilakukan ketika Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) belum memanggil Messi ke tim nasional kelompok umur. Menyadari ancaman tersebut, AFA bergerak cepat dengan memanggil Messi menjalani laga uji coba bersama Timnas U-20 Argentina pada 2004 sehingga komitmennya kepada Albiceleste segera terikat.
Meski peluang membela Spanyol terbuka, Messi mengaku tidak pernah tergoda.
"Memang ada kemungkinan itu. Mereka sempat memberi isyarat kepada saya. Tetapi saya selalu ingin bermain untuk Argentina," ujar Messi dalam wawancara yang dikutip media Spanyol.
Keputusan tersebut kemudian mengubah sejarah sepak bola. Messi berkembang menjadi kapten Argentina, mempersembahkan gelar Copa América 2021 dan Piala Dunia 2022, serta kini kembali membawa Albiceleste ke final Piala Dunia 2026. Lawan yang dihadapinya justru negara yang pernah berupaya menjadikannya bagian dari La Roja.
Barcelona Menjadi Benang Merah Final
Meski mempertemukan Argentina dan Spanyol, final kali ini sarat nuansa Barcelona.
Setelah meninggalkan Rosario pada usia 13 tahun, Messi menghabiskan lebih dari dua dekade hidupnya di Catalunya. Di La Masia, ia tumbuh dari pemain muda bertubuh mungil menjadi salah satu pesepak bola terbaik sepanjang sejarah.
Jejak Barcelona tidak hanya ada pada Messi. Timnas Spanyol juga diperkuat banyak lulusan La Masia, seperti Lamine Yamal, Gavi, Pau Cubarsí, Dani Olmo, Eric García, Alejandro Grimaldo, Marc Cucurella, hingga Víctor Muñoz.
Legenda Barcelona Xavi Hernandez menyebut final ini sebagai pertemuan dua generasi yang sama-sama dibentuk filosofi permainan Barcelona. Warisan Johan Cruyff, menurutnya, kembali hadir di panggung terbesar sepak bola dunia.
Menjelang final, Messi juga mengaku masih mengikuti perkembangan Barcelona.
"Saya mengenal banyak pemain Spanyol. Banyak dari mereka bermain untuk Barcelona, klub yang saya cintai dan masih saya ikuti," ujar Messi.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa hubungan emosionalnya dengan Barcelona tetap terjaga meski telah meninggalkan Camp Nou pada 2021.
Warisan Messi di Barcelona Sulit Ditandingi
Hubungan Messi dengan Barcelona dibangun bukan hanya oleh lamanya ia tinggal di Spanyol, tetapi juga oleh pencapaian luar biasa yang ditorehkannya bersama klub Catalan tersebut.
Selama membela Barcelona pada 2004–2021, Messi mencatat 778 pertandingan resmi, 672 gol, dan 305 assist. Ia menjadi pemain dengan penampilan, gol, assist, kemenangan, serta koleksi trofi terbanyak dalam sejarah klub.
Messi juga mempersembahkan 35 trofi, terdiri atas:
- 10 gelar La Liga
- 4 Liga Champions UEFA
- 7 Copa del Rey
- 8 Piala Super Spanyol
- 3 Piala Dunia Antarklub FIFA
- 3 Piala Super UEFA
Hingga kini belum ada pemain yang mampu menyamai pencapaian tersebut di Barcelona.
Lebih dari Sekadar Trofi
Final Piala Dunia 2026 menjadi lebih dari sekadar perebutan trofi.
Bagi Messi, pertandingan ini merupakan perjalanan emosional menghadapi negara yang membesarkan karier profesionalnya sekaligus pernah hampir menjadi negara yang dibelanya di level internasional.
Sementara bagi Barcelona dan masyarakat Catalunya, final menghadirkan dilema yang unik. Di satu sisi mereka ingin melihat Spanyol berjaya. Di sisi lain berdiri Lionel Messi, sosok yang membawa era paling gemilang dalam sejarah klub.
Apa pun hasilnya, jejak La Masia dipastikan tetap menjadi bagian dari sejarah final Piala Dunia 2026. Messi menjadi simbol generasi emas Barcelona, sedangkan Lamine Yamal hadir sebagai wajah baru sepak bola Spanyol.
Pertemuan keduanya menjadikan final ini bukan hanya duel dua negara, tetapi juga kisah tentang sebuah akademi yang membentuk dua generasi bintang di panggung terbesar sepak bola dunia. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro