PONTIANAK POST – Sekretaris Daerah Kota Singkawang, Dwi Yanti, menegaskan percepatan penurunan stunting di Singkawang membutuhkan sinergi seluruh perangkat daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Penguatan kolaborasi dinilai penting agar setiap intervensi berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.
Penegasan tersebut disampaikan saat menghadiri pemaparan Action Plan Percepatan Penurunan Stunting oleh Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kota Singkawang di Ruang Rapat Sekretaris Daerah Kota Singkawang, Senin (13/7).
Perkuat Peran Bidan dan Posyandu
Menurut Dwi, kerja sama dengan tenaga kebidanan, puskesmas, dan kader posyandu perlu terus ditingkatkan. Edukasi kepada masyarakat melalui penyuluhan hingga tingkat posyandu menjadi langkah penting dalam mencegah stunting sejak dini.
"Pemerintah harus meningkatkan kerja sama dengan tenaga kebidanan melalui penyuluhan maupun sosialisasi secara intensif hingga ke tingkat posyandu, sehingga edukasi mengenai pencegahan stunting dapat langsung diterima masyarakat," katanya.
Ia menilai posyandu merupakan garda terdepan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak. Karena itu, kualitas pelayanan serta partisipasi masyarakat untuk rutin memantau tumbuh kembang balita harus terus diperkuat.
Baca Juga: Setapuk Kecil Juara I GKSTTB dan PHBS Kalbar, Jadi Energi Baru Pencegahan Stunting di Singkawang
Capaian Penimbangan Balita Baru 40,21 Persen
Berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi Semester I Tahun 2026, capaian penimbangan balita atau D/S di Kota Singkawang baru mencapai 40,21 persen, atau sebanyak 5.988 balita.
Capaian tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah untuk terus ditingkatkan melalui optimalisasi layanan posyandu dan peningkatan kesadaran masyarakat agar rutin membawa balita mengikuti penimbangan.
Dalam pemaparan juga disampaikan bahwa hingga Semester I Tahun 2026 terdapat sembilan kasus gizi buruk di Kota Singkawang.
Dari jumlah tersebut, tiga balita telah dinyatakan sembuh, tidak ada kasus meninggal dunia, sedangkan balita lainnya masih menjalani penanganan intensif oleh tenaga kesehatan.
Baca Juga: Setahun Kepemimpinan Tjhai Chui Mie–Muhammadin, IPM Singkawang Naik dan Stunting Turun Signifikan
Evaluasi Jadi Dasar Penyusunan Strategi
Dwi mengatakan hasil evaluasi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyusun langkah strategis yang lebih terarah dalam percepatan penurunan stunting.
"Saya meminta seluruh perangkat daerah dan pemangku kepentingan terus memperkuat koordinasi, meningkatkan kualitas intervensi spesifik maupun sensitif, serta memastikan setiap program penanganan stunting dapat berjalan tepat sasaran," katanya.
Menurutnya, keberhasilan menurunkan angka stunting tidak hanya bergantung pada sektor kesehatan. Dukungan lintas sektor juga diperlukan, mulai dari pemenuhan gizi, sanitasi, pendidikan, hingga perubahan perilaku masyarakat.
Pemerintah Kota Singkawang berharap kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dapat mempercepat pencapaian target penurunan stunting secara berkelanjutan.
Adapun target penurunan prevalensi stunting dipatok 19,70 persen pada 2026. Target tersebut selaras dengan kebijakan pemerintah pusat yang dalam RPJMN 2025–2029 menargetkan prevalensi stunting nasional turun hingga 14,2 persen pada 2029, sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara