Guru MTs dan MA Ushuluddin Singkawang Didorong Kuasai AI untuk Pembelajaran Berbasis Cinta

Hari Kurniathama • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 14:32 WIB
Kegiatan Sosialisasi Magis (Madrasah Digital Supervision) dan pembinaan yang dirangkai dengan In House Training (IHT) Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Pembelajaran dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)
Kegiatan Sosialisasi Magis (Madrasah Digital Supervision) dan pembinaan yang dirangkai dengan In House Training (IHT) Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Pembelajaran dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

PONTIANAK POST - Guru MTs dan MA Ushuluddin Singkawang didorong meningkatkan kompetensi digital dan pemanfaatan artificial intelligence (AI) untuk mendukung pembelajaran. Dorongan tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Magis (Madrasah Digital Supervision) dan pembinaan yang dirangkai dengan In House Training (IHT) Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Pembelajaran dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).

Kegiatan yang digelar di MTs dan MA Ushuluddin Singkawang tersebut diikuti sekitar 80 peserta, terdiri atas kepala madrasah dan seluruh guru MTs dan MA Ushuluddin Singkawang. Kegiatan menjadi ruang untuk meningkatkan kompetensi guru sekaligus memperkuat kesiapan sumber daya manusia menghadapi perkembangan teknologi.

Kegiatan dibuka dan didampingi Kepala MTs Ushuluddin Misfa dan Kepala MA Ushuluddin Kamal. Hadir sebagai pemateri Pengawas MA Idawati, Pengawas MTs Ehwan, serta guru MTs Negeri Ratna Julianti.

Baca Juga: Guru Madrasah Didorong Kuasai AI untuk Tingkatkan Kualitas Pembelajaran

Dalam pemaparannya, Idawati menegaskan Magis bukan instrumen untuk menilai atau mencari kesalahan guru. Sebaliknya, Magis dapat dimanfaatkan guru dan kepala madrasah untuk memetakan kondisi madrasah serta menemukan kekurangan yang perlu diperbaiki.

“Magis adalah alat untuk menemukan apa yang masih kurang sehingga dapat menjadi bahan perbaikan bersama,” demikian inti pesan yang disampaikan Idawati.

Seluruh guru juga diwajibkan mengisi instrumen Magis yang telah terintegrasi dalam akun EMIS-GTK. Peserta kemudian mengikuti praktik langsung pengisian instrumen tersebut.

Sementara itu, Pengawas MTs Ehwan mengingatkan guru agar terus memperbarui pengetahuan. Menurutnya, berbagai istilah dan kebijakan dalam Kurikulum Merdeka terus mengalami perkembangan sehingga guru perlu memahami perubahan tersebut, terutama kebijakan yang tertuang dalam KMA terbaru.

Baca Juga: Jangan Tunggu Haid Pertama Setelah Melahirkan untuk Pakai Kontrasepsi, Ini Alasannya

Adapun Ratna Julianti mengajak guru melihat AI sebagai mitra produktif dalam pembelajaran. AI dapat dimanfaatkan untuk membantu guru menyusun perangkat pembelajaran yang lebih efektif, kreatif, dan terintegrasi dengan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).

Kegiatan tersebut menekankan pentingnya kemampuan guru beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Pemanfaatan teknologi tetap perlu disertai sikap kritis serta menjadikan nilai-nilai pendidikan dan kemanusiaan sebagai landasan dalam pembelajaran. (har)

Editor : Miftakhair
AI dalam Pembelajaran Madrasah Digital Ushuluddin Singkawang. guru madrasah Kurikulum Berbasis Cinta