Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Keterbatasan Ruang Kelas di Pedalaman Sepauk, Siswa Belajar Disekat Tripleks

Riska Nanda Kumala Sari • Sabtu, 3 Januari 2026 | 13:15 WIB

 

BELUM LAYAK: Siswa kelas 3 dan 4 SDN 30 Silit masih belajar dalam satu ruangan yang hanya bersekat tripleks.
BELUM LAYAK: Siswa kelas 3 dan 4 SDN 30 Silit masih belajar dalam satu ruangan yang hanya bersekat tripleks.

PONTIANAK POST - Aktivitas belajar di SDN 30 Silit, Dusun Silit, Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, masih berlangsung dalam keterbatasan ruang kelas. Hingga kini, satu ruangan digunakan secara bersamaan oleh dua kelas, yakni kelas III dan kelas IV. Proses belajar mengajar berlangsung serentak, hanya dipisahkan oleh papan tulis, sehingga suara guru dan siswa kerap saling bersahutan.

Kondisi tersebut telah berlangsung lama dan menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah yang menampung 62 siswa dari tiga dusun, yakni Dusun Silit, Dusun Butu, dan Dusun Tangkit. Sebagian siswa harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk sampai ke sekolah. Dari Dusun Butu, jarak tempuh sekitar tiga kilometer yang dilalui dengan berjalan kaki selama kurang lebih satu jam.

Guru SDN 30 Silit, Yamani, menyebutkan bahwa keterbatasan ruang kelas berdampak langsung pada kualitas pembelajaran. “Kami mengharapkan satu ruangan untuk satu kelas. Selama ini ruang kelas disekat menggunakan papan tripleks yang kami buat sendiri dan itu sangat kurang memadai,” ujar Yamani.

Ia menjelaskan, sistem belajar harus diatur dengan pembagian waktu. Kelas 1, 2, dan 3 selesai belajar sekitar pukul 12.00, sementara kelas 4, 5, dan 6 baru pulang sekitar pukul 12.30. Selain keterbatasan ruang, jumlah tenaga pendidik juga belum mencukupi. “Tenaga guru masih kurang, bahkan kepala sekolah juga merangkap mengajar,” kata Yamani.

Menurutnya, kondisi gedung sekolah secara umum masih layak, namun jumlah lokal kelas tidak sebanding dengan kebutuhan. Pihak sekolah telah mengajukan penambahan ruang kelas sejak tahun 2012, namun hingga kini belum ada tindak lanjut yang nyata. “Kami sudah lama mengusulkan, tapi belum ada tanggapan serius,” tambahnya.

Keterbatasan fasilitas ini juga dirasakan langsung oleh para siswa. Chilo, salah satu siswa SDN 30 Silit, berharap adanya ruang kelas baru agar proses belajar menjadi lebih nyaman. “Kalau ada kelas baru, kami bisa belajar lebih fokus. Selama ini kelas sebelah ribut, jadi kami susah konsentrasi,” ujarnya polos.

Akses menuju sekolah memang sedikit terbantu sejak dibangunnya jalan darat pada 2019. Sebelumnya, siswa dari dusun terjauh harus naik turun bukit untuk berangkat dan pulang sekolah. Namun, kemudahan akses tersebut belum diiringi dengan peningkatan fasilitas belajar yang memadai.

Kondisi di SDN 30 Silit mencerminkan masih adanya kesenjangan sarana pendidikan di wilayah pedesaan. Di tengah tuntutan peningkatan mutu pendidikan, keterbatasan ruang kelas menjadi persoalan mendasar yang hingga kini belum terjawab. (nda)

Editor : Hanif
#Sepauk #tripleks #Kelas Belajar #ruangan #keterbatasan