PONTIANAK POST - Kondisi daerah aliran sungai (DAS) di Kabupaten Sintang menjadi perhatian serius seiring berkurangnya sejumlah anak sungai dan kawasan rawa yang selama ini berfungsi sebagai penyangga Sungai Kapuas. Perubahan tersebut dinilai dapat memengaruhi keseimbangan lingkungan dan mengurangi kemampuan alam dalam menjaga ketersediaan air serta menopang kehidupan masyarakat.
Bupati Sintang Gregorius Herkulanus Bala mengatakan Sungai Kapuas tidak berdiri sendiri sebagai sebuah sistem. Di belakang sungai terpanjang di Indonesia itu terdapat ribuan anak sungai dan hamparan rawa yang memiliki peran penting dalam menjaga siklus air dan keseimbangan ekosistem.
“DAS Sungai Kapuas tidak berdiri sendiri. Ada ribuan sungai kecil dan hamparan rawa yang menjadi bagian penting dari sistem alam. Namun saat ini sebagian mulai berkurang sehingga perlu perhatian bersama,” ujar Bala, Senin (8/6).
Menurutnya, selama bertahun-tahun kawasan rawa dan anak sungai telah menjadi penyangga alami yang menampung air, menjaga keberlangsungan habitat perikanan, serta mendukung aktivitas transportasi masyarakat, terutama di wilayah pedalaman. Namun perubahan kondisi lingkungan membuat fungsi tersebut perlahan mengalami penurunan.
Baca Juga: Yusril Ingatkan Integritas ASN, Kemenkum Kalbar Tegaskan Komitmen Pelayanan Akuntabel
Bala menjelaskan alam sesungguhnya telah menyediakan sistem yang saling terhubung dan memberi manfaat besar bagi kehidupan manusia. Sungai, rawa, dan kawasan penyangga lainnya bukan hanya berfungsi secara ekologis, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai.
“Di sana ada jutaan ikan dan berbagai sumber kehidupan masyarakat. Sungai juga menjadi infrastruktur alami yang menghubungkan wilayah hulu dan hilir serta mendukung aktivitas ekonomi warga,” ungkap Bala.
Meski mengakui kondisi lingkungan saat ini tidak mudah dikembalikan seperti semula, Bala menilai berbagai upaya pelestarian tetap harus dilakukan untuk mencegah kerusakan yang lebih luas. Ia menegaskan bahwa konservasi dan rehabilitasi lingkungan merupakan langkah penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam yang masih tersisa.
“Kita mungkin tidak bisa mengembalikan semuanya seperti dulu, tetapi paling tidak kita dapat mencegah agar kerusakan tidak semakin besar. Yang terpenting adalah kesadaran bersama untuk menjaga alam ini,” tegasnya.
Bala juga mengingatkan bahwa lingkungan yang dinikmati masyarakat saat ini merupakan warisan dari generasi sebelumnya. Karena itu, menjaga kelestarian DAS dan ekosistem sungai menjadi tanggung jawab bersama agar manfaatnya tetap dapat dirasakan oleh generasi mendatang.
Baca Juga: Pemkot Pontianak Pastikan SILPA Dimanfaatkan untuk Dukung Pembangunan Lebih Optimal
Menurutnya, upaya menjaga lingkungan tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat, komunitas lokal, hingga masyarakat adat. Kolaborasi berbagai pihak dinilai menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan DAS Kapuas dan ekosistem penyangganya di Kabupaten Sintang.
“Pengelolaan DAS bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama demi masa depan anak cucu kita,” tutupnya. (nda)
Editor : Hanif