PONTIANAK POST - LG pernah menjadi salah satu pemain utama di industri smartphone global dengan menghadirkan berbagai inovasi, mulai dari layar sentuh kapasitif hingga kamera ultrawide.
Meski dikenal sebagai pelopor sejumlah teknologi, perusahaan asal Korea Selatan tersebut akhirnya memutuskan menghentikan bisnis smartphone pada 2021 setelah mengalami kerugian selama hampir enam tahun berturut-turut dan kesulitan bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Persaingan yang semakin ketat dari produsen seperti Samsung, Apple, serta berbagai merek asal China membuat pangsa pasar LG terus menyusut.
Di sisi lain, meski rutin menghadirkan inovasi, perusahaan dinilai kurang mampu mengubah keunggulan teknologi menjadi penjualan yang konsisten, sehingga bisnis ponselnya terus membebani kinerja keuangan.
Sebelum keluar dari industri smartphone, LG melahirkan sejumlah perangkat ikonik seperti LG Prada pada 2006, yang menjadi salah satu ponsel pertama dengan layar sentuh kapasitif, serta LG G3, yang berhasil mencatat penjualan lebih dari 10 juta unit di seluruh dunia.
Warisan inovasi tersebut membuat LG tetap dikenang sebagai salah satu pelopor dalam perkembangan teknologi smartphone, meski akhirnya memilih meninggalkan pasar.
Perusahaan juga berani bereksperimen melalui perangkat unik seperti LG Wing dan konsep LG Rollable. Meski inovatif, kinerja bisnis LG Mobile terus melemah.
Baca Juga: Honor Magic V6 vs Galaxy Z Fold 8, Duel Ponsel Lipat Premium dengan Fitur AI Makin Sengit
Pada 2020, pangsa pasar global LG turun menjadi sekitar 2 persen dan menempati posisi kesembilan di dunia.
Pada kuartal IV 2020, perusahaan hanya mengirimkan sekitar 7,6 juta unit smartphone, jauh di bawah Apple, Samsung, maupun Xiaomi.
Kondisi tersebut berdampak pada keuangan perusahaan. Divisi mobile LG dilaporkan membukukan kerugian kumulatif sekitar Rp73,4 triliun sebelum akhirnya ditutup. Persaingan yang semakin sengit menjadi faktor utama.
Di segmen premium, LG harus bersaing dengan Samsung dan Apple, sementara di kelas menengah hingga entry-level, tekanan datang dari produsen China seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo yang menawarkan spesifikasi kompetitif dengan harga lebih rendah.
Dalam pengumuman resminya pada April 2021, LG menyatakan keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengalihkan sumber daya ke sektor yang memiliki prospek pertumbuhan lebih tinggi.\
"Keputusan strategis LG untuk keluar dari sektor telepon seluler yang sangat kompetitif akan memungkinkan perusahaan memfokuskan sumber dayanya pada area pertumbuhan seperti komponen kendaraan listrik, perangkat terhubung, smart home, robotika, kecerdasan buatan, solusi business-to-business, serta platform dan layanan," demikian pernyataan resmi LG.
Keputusan itu dinilai membuahkan hasil. Setelah menghentikan bisnis smartphone, LG memperkuat fokus pada komponen kendaraan listrik, perangkat rumah pintar, robotika, AI, dan bisnis B2B.
Hingga 2026, divisi komponen kendaraan LG disebut memiliki backlog pesanan senilai 90–100 triliun won, sementara bisnis B2B menyumbang sekitar 36 persen dari total pendapatan perusahaan.(*)
Editor : Budi Miank