Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sekolah Perlu Disiapkan Jadi Ruang Udara Bersih Saat Karhutla dengan Peralatan Lengkap

A
Siswa SMP Muhammadiyah 1 Pontianak melakukan proses belajar dikelas guna menghadapi Tes Kemampuan Akademik. (ISTIMEWA)
Ditengah situasi kabut asal Karhutla, Siswa SMP Muhammadiyah 1 Pontianak melakukan proses belajar dikelas guna menghadapi Tes Kemampuan Akademik. (ISTIMEWA)

Advertisement

 

PONTIANAK POST — Sekolah berpotensi memiliki fungsi tambahan saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda: menjadi ruang perlindungan bagi siswa dan masyarakat dari paparan kabut asap. Fasilitas ini dapat disiapkan dengan desain ruang yang membatasi masuknya udara tercemar, alat penyaring partikel, serta perlengkapan pemantauan kualitas udara.

Gagasan tersebut sejalan dengan usulan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris agar pemerintah memanfaatkan sekolah dan kantor pemerintahan sebagai clean air shelters atau ruang perlindungan udara bersih bagi masyarakat terdampak karhutla.

Advertisement

Charles mengatakan fasilitas publik yang telah tersedia dapat dilengkapi penyaring udara berpartikel efisiensi tinggi atau high-efficiency particulate air (HEPA). Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi paparan asap berbahaya selama kebakaran belum tertangani.

“Kita tidak bisa hanya mengobati masyarakat yang sakit, sementara mereka masih terus terpapar asap berbahaya. Saya mendesak pemerintah pusat dan daerah segera memperbanyak clean air shelters,” katanya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat.

Menurut Charles, asap karhutla dapat masuk ke dalam rumah melalui celah pintu, jendela, dan ventilasi. Karena itu, berada di dalam ruangan belum tentu memberikan perlindungan memadai jika udara tercemar tetap masuk.

Advertisement

Ia meminta pemerintah pusat dan daerah memanfaatkan bangunan publik yang tersedia tanpa harus menunggu pembangunan gedung baru. Fasilitas tersebut terutama dibutuhkan kelompok rentan, seperti balita, ibu hamil, lansia, dan warga dengan penyakit pernapasan.

Desain Sekolah Perlu Disesuaikan

Penerapan ruang udara bersih tidak cukup hanya dengan memasang alat penyaring udara. Sekolah yang disiapkan sebagai tempat perlindungan perlu memiliki ruang tertutup yang dapat membatasi masuknya asap dari luar.

Pintu, jendela, dan celah bangunan perlu diperiksa agar kebocoran udara dapat dikurangi. Ventilasi juga perlu dikelola secara tepat ketika kualitas udara luar memburuk, tanpa mengabaikan kebutuhan sirkulasi udara dan keselamatan penghuni.

Penyaring udara HEPA dapat membantu mengurangi partikel halus di dalam ruangan jika kapasitas alat sesuai dengan luas ruang dan jumlah orang yang berada di dalamnya. Perangkat harus dirawat, filternya diganti sesuai kebutuhan, dan pengoperasiannya dipantau secara berkala.

Advertisement

Artikel Terkait

Setelah Empat Bulan Kekeringan, Hujan Kembali Guyur Ketapang dan Langit Mulai Biru

Setelah Empat Bulan Kekeringan, Hujan Kembali Guyur Ketapang dan Langit Mulai Biru

Hujan kembali mengguyur Ketapang setelah empat bulan kekeringan. Titik panas menurun dan petugas terus menangani karhutla.

Empat Kabupaten di Kalbar Terima Rp10 Miliar untuk Karhutla, Ria Norsan Dorong Penanganan Merata

Empat Kabupaten di Kalbar Terima Rp10 Miliar untuk Karhutla, Ria Norsan Dorong Penanganan Merata

Empat kabupaten di Kalbar menerima Rp10 miliar per daerah untuk penanganan karhutla setelah Gubernur Ria Norsan mengusulkan bantuan.

Norsan Jelaskan Perkembangan Karhutla ke Mahasiswa, Ketapang Jadi Fokus

Norsan Jelaskan Perkembangan Karhutla ke Mahasiswa, Ketapang Jadi Fokus

Ria Norsan mengajak mahasiswa melihat data pergerakan angin untuk memahami sebaran kabut asap. Ketapang masih menjadi fokus pemadaman karhut

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer