
Diikuti Delegasi Se-Borneo, Majlis Tilawah Perkuat Ukhuwah dan Dorong Kemajuan Kawasan
KUCHING – Al-Quran harus menjadi landasan bagi masyarakat di Pulau Borneo untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, menjaga kekayaan alam, serta meningkatkan kesejahteraan umat. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata agar Borneo mampu berkembang dan bersaing dengan negara-negara maju.
Pesan tersebut disampaikan Premier Sarawak, Yang Amat Berhormat Datuk Patinggi Tan Sri (Dr.) Abang Haji Abdul Rahman Zohari bin Tun Datuk Abang Haji Openg, yang akrab disapa Abang Jo, saat membuka Majlis Tilawah Al-Quran Bandaraya se-Borneo Tahun 2026 di Auditorium Dewan Kompleks Islam Sarawak, Kuching, Selasa (27/10).
Majlis yang mempertemukan peserta dari berbagai wilayah di Pulau Borneo ini diikuti 32 peserta dalam dua cabang perlombaan, yakni tilawah Al-Quran dan hafalan atau tahfiz Al-Quran 15 juz. Cabang tilawah diikuti 17 peserta, sedangkan cabang hafalan diikuti 15 peserta. Masing-masing cabang mempertandingkan kategori putra dan putri.
Para peserta berasal dari wilayah Kalimantan di Indonesia, Sarawak, Sabah, Miri, serta Brunei Darussalam. Mereka bertemu dalam satu panggung untuk menunjukkan kemampuan membaca dan menghafal Al-Quran sekaligus mempererat hubungan masyarakat lintas wilayah dan negara.
Menurut Abang Jo, penyelenggaraan majlis tilawah bukan sekadar kegiatan membaca Al-Quran, tetapi juga momentum untuk memahami dan mengaplikasikan ajarannya dalam kehidupan bermasyarakat, pembangunan ekonomi, dan pengelolaan sumber daya alam.
Ia mengingatkan bahwa Borneo memiliki kekayaan alam luar biasa yang harus dijaga sebagai amanah. Pulau terbesar ketiga di dunia itu memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya serta kawasan hutan yang menjadi salah satu kekayaan penting bagi kehidupan manusia.
Dengan populasi yang disebut mencapai 23,1 juta jiwa pada 2025, Borneo memiliki potensi besar untuk berkembang. Namun, kekayaan tersebut harus dikelola secara bijaksana agar manfaatnya dapat dirasakan seluruh masyarakat, termasuk kelompok yang masih menghadapi persoalan kemiskinan.
“Di sinilah pentingnya kita mendalami ilmu yang terkandung dalam Al-Quran dan mengaplikasikannya terhadap apa yang ada di Borneo untuk kesejahteraan masyarakat Borneo dan lainnya,” demikian pesan Abang Jo dalam sambutannya.

Ia menekankan, semangat iqra atau membaca harus dimaknai lebih luas sebagai dorongan untuk terus belajar, meneliti, dan mengembangkan pengetahuan. Dengan bekal ilmu, masyarakat dapat mengoptimalkan potensi alam Borneo tanpa mengabaikan tanggung jawab menjaga kelestariannya.



