
KUCHING —Al-Quran menjadi titik temu yang menyatukan umat Islam di tengah perbedaan suku, bahasa, dan budaya di Pulau Borneo. Nilai-nilai Al-Quran tidak hanya menjadi pedoman ibadah, tetapi juga landasan untuk memperkuat persaudaraan dan membangun harmoni masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam dialog Bicara Ilmuwan Se-Borneo bertema “Al-Quran Menyatukan Hati: Memperkukuh Ukhwah Ummah Se-Borneo” di Auditorium Sarawak Islamic Information Centre, Kuching, Sarawak, Senin (26/10).
Kegiatan yang menjadi bagian dari Majlis Tilawah Al-Quran Bandaraya Se-Borneo 2026 itu menghadirkan empat tokoh agama dari Sarawak, Sabah, Brunei Darussalam, dan Indonesia. Antusiasme peserta terlihat dari penuhnya kursi auditorium selama dialog berlangsung.
Mufti Sarawak Datu Haji Khalidi bin Haji Ibrahim menekankan bahwa keberagaman suku, bahasa, dan tradisi merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT. Perbedaan tersebut semestinya menjadi jalan untuk saling mengenal, bukan alasan untuk terpecah.

Ia mengaitkan pesan itu dengan Surah Al-Hujurat ayat 13 yang menjelaskan penciptaan manusia dari laki-laki dan perempuan, serta dijadikannya manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal.
Pesan utama yang disampaikannya adalah bahwa perbedaan tidak menghalangi umat Islam untuk bersatu. Al-Quran menjadi landasan bersama dalam membangun persaudaraan di tengah kemajemukan masyarakat Borneo.
Menurutnya, keberagaman masyarakat Borneo merupakan kenyataan sosial yang harus dikelola dengan semangat persaudaraan. Al-Quran memberikan landasan bersama bagi umat Islam untuk membangun hubungan yang harmonis di tengah kemajemukan tersebut.
Mufti Sabah Datuk Haji Bungsu Aziz bin Haji Jaafar menyoroti peran Al-Quran dalam menjaga kesatuan umat melalui keseragaman prinsip-prinsip ibadah. Salah satu contohnya adalah penggunaan bahasa Arab dalam salat yang dijalankan umat Islam di berbagai negara.
Menurut dia, penggunaan bacaan yang sama dalam salat menjadi salah satu unsur yang memperkuat persatuan umat Islam. Perbedaan bahasa sehari-hari tidak menghalangi umat untuk berdiri dalam satu barisan ibadah dengan bacaan dan kiblat yang sama.
Sementara itu, Penolong Mufti (Buhuth) Negara Brunei Darussalam Dato Seri Setia Dr. Awang Haji Maznan bin Haji Yusof mengangkat pentingnya membangun kedekatan masyarakat dengan Al-Quran, termasuk melalui pembiasaan membaca Al-Quran sebelum memulai pekerjaan yang telah diterapkan sejak dekade 1990-an, sebagaimana disampaikan dalam forum tersebut.



